✨ Intinya sih...

• Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), H. Halikinnor, memperpanjang status Tanggap Darurat Karhutla dan Kekeringan di wilayahnya selama 16 hari, berlaku mulai 31 Oktober hingga 15 November 2026.
• Keputusan ini diambil karena delapan titik panas (hotspot) kategori kepercayaan menengah (30-79%) masih terdeteksi di Kotim per Minggu (1/11/2026) pukul 16.00 WIB, meskipun hujan mulai turun sporadis.
• Berdasarkan data BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit dan BPBD Kotim yang diolah BRIN, delapan titik panas tersebut tersebar di lima desa pada empat kecamatan: Bukit Santuai (4 titik), Teluk Sampit (2 titik), Antang Kalang (1 titik), dan Seranau (1 titik).
• Bupati Halikinnor mengimbau Satgas Karhutla untuk tetap siaga, gencar melakukan patroli dan pendinginan untuk mencegah bara api di lahan gambut menyala kembali, serta mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan.

SAMPIT, Kanalindependen.id – Guyuran hujan yang mulai membasahi sebagian wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, tidak serta-merta menghentikan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan data rekapitulasi BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit dan BPBD Kotim berbasis satelit BRIN akumulasi 24 jam hingga Minggu (1/11/2026) pukul 16.00 WIB, sebanyak delapan titik panas (hotspot) masih terdeteksi berpidar di wilayah Kotim.

Kecamatan Bukit Santuai mencatatkan konsentrasi titik panas terbanyak dengan total empat titik.

Merespons potensi ancaman bahaya laten tersebut, Bupati Kotim H. Halikinnor resmi memutuskan memperpanjang status Tanggap Darurat Karhutla dan Kekeringan selama 16 hari, terhitung mulai 31 Oktober hingga 15 November 2026. Keputusan krusial ini diambil usai rapat evaluasi bersama jajaran terkait di Pusdalops BPBD Kotim.

Bupati Halikinnor mengimbau seluruh personel Satgas Karhutla untuk tidak menurunkan tingkat kesiapsiagaan kendati hujan mulai mengguyur secara sporadis.

“Walaupun hujan sudah turun, kita tidak boleh lengah. Kita masih harus memastikan kondisi di lapangan benar-benar aman, karena masih ada titik yang memerlukan penanganan. Di lokasi yang sudah tidak terlihat asap pun tetap kita periksa. Bisa saja masih ada bara di dalam tanah. Karena itu, patroli dan pendinginan harus terus dilakukan agar api tidak kembali menyala,” tegas Halikinnor.

Kondisi tersebut sejalan dengan hasil pemantauan satelit yang masih menunjukkan adanya anomali suhu di sejumlah wilayah Kotim. Berdasarkan rekapitulasi BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit dan BPBD Kotim yang diolah BRIN, delapan titik panas tersebar di lima desa pada empat kecamatan.

Di Kecamatan Bukit Santuai, tiga titik terdeteksi di Desa Lunuk Bagantung dan satu titik di Desa Tumbang Payang. Kecamatan Teluk Sampit mencatat dua titik, seluruhnya berada di Desa Ujung Pandaran.

Dua titik lainnya masing-masing terdeteksi di Desa Sungai Hanya, Kecamatan Antang Kalang, dan Desa Ganepo, Kecamatan Seranau.

Forecaster on Duty BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Suci Priatin Ningsih, menyampaikan seluruh titik panas tersebut masuk kategori kepercayaan menengah atau medium confidence, dengan rentang 30 hingga 79 persen. Tidak ditemukan titik kategori rendah maupun tinggi dalam rekapitulasi tersebut.

Pemantauan menggunakan satelit SNPP dan NOAA20. Waktu deteksi tersebar mulai pukul 01.17 WIB hingga 13.56 WIB.

Sementara itu, pemerintah daerah masih memberi perhatian khusus terhadap Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, Seranau, serta sebagian wilayah Baamang di Kota Sampit. Kawasan tersebut termasuk lokasi yang masih membutuhkan pengawasan dan penanganan karhutla.

Halikinnor mengingatkan bahwa berkurangnya kabut asap tidak selalu berarti kebakaran telah padam. Pada lahan gambut, bara api dapat tersimpan di dalam tanah dan kembali menyala jika pendinginan tidak dilakukan secara menyeluruh.

“Di lokasi yang sudah tidak terlihat asap pun tetap kita periksa. Bisa saja masih ada bara di dalam tanah. Karena itu, patroli dan pendinginan harus terus dilakukan agar api tidak kembali menyala,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi kebakaran susulan, Satgas Karhutla bersama unsur TNI, Polri, dan instansi terkait tetap dikerahkan. Camat juga diminta memperkuat koordinasi dengan masyarakat serta segera melaporkan indikasi kebakaran di wilayah masing-masing.

Halikinnor turut mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar meskipun hujan mulai turun. Pencegahan tetap diperlukan untuk menghindari kebakaran berulang yang berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan.

Delapan titik panas dalam pemantauan terbaru tidak serta-merta membuktikan adanya delapan lokasi kebakaran aktif. Deteksi satelit menunjukkan anomali suhu yang masih perlu diperiksa langsung di lapangan.

Perpanjangan tanggap darurat hingga 15 November menjadi penanda bahwa pemerintah daerah belum menganggap ancaman karhutla dan kekeringan selesai. Hujan memang mulai turun, tetapi kepastian kondisi aman tetap bergantung pada hasil pemadaman, pendinginan, patroli, dan pemeriksaan di wilayah rawan. (***)