• Ratusan warga di Jalan Bumi Ayu, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), Kabupaten Kotim, mengantre pasokan air bersih gratis pada Selasa (20/10/2026) akibat krisis air tawar.
• Bantuan 4.000 liter air bersih didistribusikan oleh armada pemadam kebakaran Kodim 1015/Sampit untuk warga yang terdampak.
• Krisis ini dipicu oleh mengeringnya sumur bor akibat kemarau panjang serta intrusi air laut yang menyebabkan air ledeng Perumdam Tirta Mentaya dan depo isi ulang menjadi asin.
• Warga mengeluhkan air konsumsi harian yang terkontaminasi garam, bahkan sampai mengubah rasa minuman seperti kopi.
• Krisis air diprediksi akan bertahan hingga pertengahan November 2026, sehingga pihak RT berencana mengusulkan penyediaan tandon air komunal.
• Pemkab Kotim dan Perumdam Tirta Mentaya didesak untuk menerbitkan kebijakan pembebasan tagihan atau pemotongan tarif kompensasi, serta menyusun jadwal pengiriman tangki air secara terstruktur.
SAMPIT, Kanalindependen.Id – Lumpuhnya pasokan air tawar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) telah memasuki fase paling darurat. Ketika sumber air tak lagi bisa diandalkan, ratusan warga di kawasan Jalan Bumi Ayu, RT 26 RW 07, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), terpaksa mengular antre demi menyegel pasokan air bersih gratis, Selasa (20/10/2026).
Membawa galon, jeriken, hingga mengangkutnya menggunakan gerobak dan sepeda motor, warga memadati armada pemadam kebakaran Kodim 1015/Sampit yang mendistribusikan 4.000 liter air bersih.
Krisis ini berlipat ganda karena sumur-sumur bor warga telah mengering total akibat kemarau panjang, sementara air ledeng Perumdam Tirta Mentaya dan pasokan depo isi ulang berubah rasa menjadi asin akibat intrusi air laut yang kian parah di Sungai Mentaya.
Rahmad, salah seorang warga Bumi Ayu, meluapkan kejengkolannya saat mendapati air tawar konsumsi harian keluarganya terkontaminasi garam.
“Sangat terbantu. Enggak cuma air ledeng yang asin, air beli di depo isi ulang pun enggak enak. Sampai-sampai bikin kopi kok rasanya aneh,” keluh Rahmat, di lokasi pembagian air Kodim 1015/Sampit, Selasa (20/10/2026).
Ketua RT 26 RW 07 Kelurahan Ketapang, Bahrul Maji, menegaskan bahwa bantuan 4.000 liter dari TNI Kodim 1015/Sampit sangat krusial untuk menyelamatkan kebutuhan sanitasi dasar dan konsumsi mendesak warga.
Guna mengantisipasi krisis air yang diprediksi bertahan hingga pertengahan November 2026, pihak RT berencana mengusulkan penyediaan tandon air komunal di setiap komplek pemukiman agar bantuan air dapat ditampung dan didistribusikan secara merata.
“Ini upaya membantu masyarakat yang krisis air bersih. Air ledeng terasa payau dan cenderung asin, sementara air sumur bor warga sudah mengering. Nanti akan kami agendakan setiap komplek menyediakan satu tandon siap tampung,” terang Bahrul Maji.
Fenomena “kopi rasa asin” dan matinya sumur bor warga merupakan bukti sah gagalnya penjaminan mutu air minum oleh Perumdam Tirta Mentaya dan Pemkab Kotim. Ketika sumber air tak lagi bisa diandalkan, membiarkan warga bergantung pada aksi sosial institusi militer tanpa ada pemulihan sistemik adalah bentuk pembiaran krisis.
Pemkab Kotim dan Perumdam Tirta Mentaya didesak menerbitkan Kebijakan Pembebasan Tagihan (free of charge) atau pemotongan tarif kompensasi bagi warga di Mentawa Baru Ketapang dan Baamang yang menerima air leting asin berpolusi.
BPBD Kotim dan Perumdam hendaknya menyusun jadwal pengiriman tangki air secara terstruktur ke titik-titik pemukiman rawan air asin, serta memfasilitasi pengadaan tandon darurat komunal di tiap RW. (***)