• Sebuah puing sampah antariksa dari roket pembawa satelit China, Zhuque 2E, jatuh di area perkebunan PT Agro Bukit Km 26, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Minggu (18/10/2026) pukul 17.36 WIB.
• Jatuhnya puing ini menyebabkan dentuman keras yang dilaporkan warga pada pukul 17.39 WIB di beberapa kecamatan Kotim.
• Identifikasi oleh tim gabungan dari Bandara H. Asan Sampit, TNI, Polri, KNKT, dan BRIN, berdasarkan serial kode pada serpihan serta koordinasi lintasan atmosfer, mengonfirmasi asal-usul puing tersebut.
• Puing roket telah dievakuasi ke Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Iskandar di Pangkalan Bun dan hasil analisis awal BRIN menyatakan materialnya bebas dari bahan kimia beracun atau radiatif.
• Pemerintah Pusat didesak untuk berkoordinasi dengan Republik Rakyat Tiongkok terkait pertanggungjawaban internasional dan BRIN bersama AirNav Indonesia dituntut meningkatkan sistem pemantauan serta peringatan dini benda langit.
SAMPIT, Kanalindependen.id– Teka-teki besar di balik suara dentuman dahsyat yang menggentarkan kaca rumah warga di sejumlah kecamatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Minggu (18/10/2026) petang akhirnya terang benderang. Benda asing berstruktur logam berkabel yang sebelumnya diduga warga sebagai bangkai pesawat di area perkebunan PT Agro Bukit Km 26 dipastikan merupakan puing sampah antariksa (space debris) dari roket pembawa satelit milik China, Zhuque 2E.
Kepastian ini diperoleh setelah jajaran Bandara H. Asan Sampit, TNI, Polri, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi deretan serial kode penanda yang tertera pada badan serpihan, yakni 2ZQE31-20-15.
Person in Charge (PIC) Civil Aviation Publication Team (CAPT) Bandara H. Asan Sampit, Zachrudien, mengonfirmasi bahwa hasil koordinasi lintasan atmosfer (reentry path) oleh Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN mencatat roket tersebut jatuh menembus atmosfer Kotim pada Minggu (18/10/2026) pukul 17.36 WIB.
Selisih waktu ini sangat presisi dengan dentuman keras yang dilaporkan warga pada pukul 17.39 WIB di Kecamatan Cempaga Hulu, Telawang, Mentawa Baru Ketapang, dan Baamang.
“Kami sudah berkoordinasi dengan KNKT dan BRIN terkait hasil temuan kami di lokasi. Berdasarkan informasi dari BRIN, serpihan tersebut merupakan bagian dari roket China Zhuque 2E. KNKT juga telah memastikan ke AirNav Indonesia dan operator penerbangan bahwa tidak ada pesawat yang hilang kontak,” tegas Zachrudien, Senin (19/10/2026).
Dievakuasi ke Lanud Iskandar Pangkalan Bun, BRIN Pastikan Bebas Racun
Guna mengamankan barang bukti sekaligus mengantisipasi potensi bahaya di lingkungan perkebunan sawit, tim gabungan TNI, Polri, dan otoritas penerbangan telah mengevakuasi seluruh puing roket Zhuque 2E dari Blok G.37/38 PT Agro Bukit menuju Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Iskandar di Pangkalan Bun.
Hasil analisis awal dari BRIN menunjukkan bahwa material roket pembawa satelit tersebut tidak mengandung bahan kimia beracun atau radiatif yang membahayakan ekosistem sekitar.
Meski demikian, pihak otoritas tetap meminta masyarakat di kawasan perkebunan dan permukiman untuk segera melapor dan tidak menyentuh secara langsung jika masih menemukan serpihan kecil susulan di areal lahan.
Terkuaknya misteri jatuh roket Zhuque 2E milik China di atas tanah Kotim merupakan bukti nyata tingginya risiko ancaman jatuhnya sampah antariksa di wilayah pemukiman dan perkebunan. Kejadian ini tidak boleh dianggap sebagai peristiwa biasa karena benturan objek antariksa berkecepatan tinggi berpotensi menimbulkan korban jiwa atau kerusakan fatal pada fasilitas publik.
Pemerintah Pusat melalui Kementerian Luar Negeri, BRIN, dan Kemenhub didesak untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) terkait kepemilikan roket Zhuque 2E. Hal ini penting guna memastikan pertanggungjawaban internasional sesuai Outer Space Treaty 1967 dan Liability Convention 1972 jika terjadi kerusakan di lokasi jatuhnya puing.
BRIN dan AirNav Indonesia dituntut meningkatkan sistem pemantauan lintasan benda langit secara real-time dan memberikan peringatan dini (early warning) kepada Pemkab serta Satgas Bencana di daerah apabila terdapat potensi jatuhnya puing roket di jalur udara Indonesia. (***)