✨ Intinya sih...
  • Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) telah menyebabkan satwa langka yang dilindungi, termasuk orangutan, terdesak masuk ke perkebunan warga.
  • Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit melakukan penyisiran dan observasi darurat di kebun karet dan rotan milik warga Desa Kandan, Kecamatan Kota Besi, pada Senin, 12 Oktober 2026, pukul 09.00 hingga 12.50 WIB.
  • Penyisiran ini menindaklanjuti laporan warga mengenai kemunculan koloni orangutan yang mencari makan dan bertahan hidup dari ancaman kelaparan serta kepungan api akibat karhutla.
  • Petugas menemukan jejak aktivitas orangutan di lahan perkebunan seluas 10 hektare, meliputi satu sarang di tanah, dua sarang di pohon, serta bekas kulit kayu yang dikupas.
  • Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengonfirmasi bahwa berdasarkan temuan sarang dan keterangan warga, diperkirakan ada tiga individu orangutan di lokasi tersebut.
  • BKSDA Kalteng didesak untuk menyiagakan tim rescue dan medis guna mengevakuasi orangutan, sementara Pemkab dan Polres Kotim diminta mengedukasi warga tentang Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 terkait larangan melukai satwa dilindungi.

SAMPIT, Kanalindependen.id  – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung padam di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memicu teror krisis habitat yang kian mengkhawatirkan. Hangusnya benteng ekosistem hutan gambut memaksa satwa langka yang dilindungi melarikan diri dari kobaran api dan terdesak masuk ke perkebunan warga. Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit menggelar penyisiran dan observasi darurat di kebun karet dan rotan milik masyarakat Desa Kandan, Kecamatan Kota Besi, Senin (12/10/2026).

Penyisiran intensif yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 12.50 WIB tersebut dilakukan guna menindaklanjuti laporan resmi warga bernama Sandy mengenai kemunculan koloni orangutan (Pongo pygmaeus) yang merangsek ke area perkebunan demi bertahan hidup dari ancaman kelaparan dan kepungan api.

Meskipun satwa tidak dijumpai fisik saat penyisiran berjalan, petugas gabungan bersama warga menemukan jejak aktivitas otentik di atas lahan perkebunan seluas 10 hektare tersebut. Petugas menemukan satu sarang di permukaan tanah, dua sarang kelas C di atas pohon, serta bekas kulit kayu yang telah dikupas dan dimakan orangutan.

Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi bahwa berdasarkan analisis fisik struktur sarang serta keterangan warga setempat, populasi satwa yang berkeliaran di lokasi tersebut diperkirakan berjumlah lebih dari satu individu.

“Dari sarang yang ditemukan dan keterangan warga, diduga kuat orangutan di lokasi tersebut berjumlah tiga individu. Kami bersama tiga warga, termasuk Pak Karyadi, menyisir areal kebun karet, rotan, dan semak belukar ini menggunakan sepeda motor trail dan berjalan kaki,” terang Muriansyah.

Temuan tiga sarang orangutan di perkebunan karet Desa Kandan menjadi bukti otentik hancurnya koridor jelajah (home range) akibat maraknya karhutla dan pembukaan lahan masif di Kotim. Ketika rimba tempat tinggal mereka hangus terbakar, mamalia langka ini terisolasi di pulau-pulau vegetasi sempit dan terdesak merangsek ke perkebunan warga untuk mencari pakan alternatif.

BKSDA Kalteng didesak tidak hanya memberikan imbauan pasif kepada warga. Tim rescue bersama tim medis dokter hewan wajib menyiagakan senapan pembius (tranquilizer gun) dan perangkap khusus guna mengevakuasi ketiga orangutan tersebut sebelum menjadi korban amuk massa atau konflik fatal dengan warga.

Pemkab Kotim dan Polres Kotim dituntut meningkatkan edukasi hukum UU Nomor 5 Tahun 1990 kepada masyarakat Desa Kandan. Warga dilarang keras melukai, menembak, atau memasang jerat terhadap orangutan yang terdesak mencari makan di kebun warga.(***)