SAMPIT, Kanalindependen.id  – Di tangan Surya Dinar, sebilah baja dingin bisa berubah menjadi instrumen yang memiliki “jiwa”. Pria yang akrab disapa Amang I’in ini bukan sekadar pembuat pisau; ia adalah seorang penghubung antara limbah industri dan kearifan material lokal. Dari ruko kecilnya di Jalan Antasari, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, lahirlah karya-karya tajam yang kini mulai melegenda hingga ke luar Pulau Kalimantan.

Baja Serkel dan “Sepuhan” yang Presisi

Banyak yang meragukan pisau tanpa proses tempa tradisional. Namun, Amang I’in mematahkan stigma tersebut. Dengan menggunakan baja dari mata gergaji serkel (circular saw), ia melakukan proses “penjinakan” baja melalui teknik gerinda yang presisi, pemanasan yang terukur, hingga tahap penyepuhan (tempering) yang menjadi kunci kekuatan bilah.

Hasilnya adalah sebuah anomali ketajaman. Dalam sebuah simulasi, Amang I’in mempraktikkan bagaimana pisau sembelihnya mampu menyayat selembar kertas tanpa hambatan sedikit pun sebuah standar wajib bagi para jagal profesional yang mengedepankan kecepatan dan kebersihan potongan pada momen kurban.

Identitas Ulin: Lebih dari Sekadar Pegangan

Judul “Sentuhan Magis Kayu Ulin” bukanlah sekadar kiasan. Bagi Amang I’in, penggunaan kayu ulin atau kayu besi sebagai gagang adalah pembeda kasta. Kayu endemik Kalimantan ini dipilih bukan hanya karena ketahanannya terhadap cuaca dan air, tetapi juga karena genggamannya yang mantap dan beratnya yang seimbang.

“Yang jadi pembeda itu di gagangnya pakai kayu ulin. Selain lebih kuat dan khas Kalimantan, ulin memberikan karakter tersendiri pada tiap pisau yang saya buat. Sarungnya pun saya buat dari kulit agar tetap elegan dan aman,” ungkap Amang I’in, Kamis (14/5/2026).

Ketelitian ini membuat satu bilah pisau sembelih berukuran 25-40 cm membutuhkan waktu pengerjaan hingga satu minggu. Ia tidak ingin terburu-buru, karena baginya, setiap bilah membawa nama baik Sampit ke meja-meja pemotongan di Jawa hingga Sulawesi.

Kisah Amang I’in adalah bukti bahwa narasi “Produk Lokal” memiliki daya pikat luar biasa jika digarap dengan integritas material. Memilih kayu ulin sebagai identitas produk adalah langkah cerdas untuk mengangkat nilai jual di mata kolektor luar daerah.

Di saat pasar dibanjiri oleh pisau pabrikan massal dengan bahan komposit, Amang I’in bertahan dengan metode custom-made yang personal. Fakta bahwa produknya telah merambah hingga ke Palu dan Pulau Jawa menunjukkan adanya pergeseran selera konsumen: mereka tidak lagi sekadar mencari alat potong, melainkan mencari “karya seni” fungsional yang memiliki akar tradisi. Menjelang Iduladha, kesuksesan Amang I’in bukan hanya soal cuan, tapi soal pembuktian bahwa dari tangan pengrajin Sampit, lahir produk kelas nasional. (***)