SAMPIT, Kanalindependen.id – Jalan Trans Kalimantan kembali menjadi arena berbahaya bagi para pengguna jalan. Sebuah aksi pelemparan batu yang menyasar kendaraan angkutan Crude Palm Oil (CPO) terjadi di Jalan Jenderal Sudirman Km 37, arah Sampit–Pangkalan Bun, pada Senin malam (11/5/2026) sekitar pukul 19.30 WIB. Insiden ini menambah panjang daftar kerawanan di jalur vital lintas kabupaten tersebut.

​Kejadian bermula saat truk CPO yang dikemudikan korban melintas dari arah Sampit menuju Pangkalan Bun. Di tengah perjalanan yang gelap, korban berpapasan dengan dua unit sepeda motor yang masing-masing ditumpangi oleh dua orang tak dikenal. Secara tiba-tiba, salah seorang dari rombongan tersebut melempar batu ke arah truk. Lemparan pertama menghantam kaca depan hingga pecah berantakan, sementara hantaman lainnya mengenai bagian tangki truk.

​Ternyata, aksi vandalisme ini bukan kejadian tunggal. Muhammad Algazhali, seorang sopir angkutan lainnya, mengaku mengalami nasib serupa di lokasi yang berbeda. Hal ini mengindikasikan adanya pola teror yang mulai menyebar di beberapa titik jalur logistik Kotim.

​“Sama, pikap kami kemarin juga seperti itu. Tapi kejadiannya saat melintas di sekitar Jalan Tjilik Riwut, Pelantaran, Kecamatan Cempaga Hulu,” ungkap Algazhali menceritakan pengalaman pahitnya.


​Ketiadaan motif yang jelas dalam rentetan kejadian ini membuat para sopir merasa waswas. Korban di Km 37 mengaku tidak memiliki persoalan dengan siapa pun sebelum serangan terjadi. Kejadian yang berlangsung sangat cepat membuat para pelaku mudah melarikan diri ke kegelapan malam setelah melancarkan aksinya.

​Laporan dari dua titik berbeda—Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Tjilik Riwut Pelantaran—menunjukkan bahwa “teror lempar batu” ini bukan lagi masalah sepele. Ini adalah ancaman nyata terhadap nyawa sopir dan keselamatan lalu lintas secara umum.

​Kaca yang pecah mungkin bisa diganti, namun trauma dan risiko kecelakaan fatal akibat sopir yang kaget saat mengemudi bermuatan berat adalah taruhan yang terlalu besar. Pihak kepolisian diinstruksikan untuk tidak hanya menunggu laporan formal, tetapi segera memetakan titik rawan dan memperketat patroli malam. Jalur Trans Kalimantan adalah urat nadi ekonomi; jangan sampai jalur ini berubah menjadi “jalur maut” karena dibiarkannya aksi vandalisme jalanan tanpa penindakan tegas. (***)