• Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit mendeteksi 12 titik panas (hotspot) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Kamis (16/7/2026) pukul 16.00 WIB.
• Hotspot tersebut tersebar di tiga kecamatan: Baamang (6 titik di Kelurahan Baamang Hulu), Antang Kalang (3 titik), dan Mentawa Baru Ketapang (2 titik di Desa Eka Bahurui).
• Titik panas ini terdeteksi oleh satelit NOAA20 pada pukul 00.18 WIB dan 12.56 WIB, dengan tingkat kepercayaan level 8 untuk titik di Baamang Hulu.
• BMKG menjelaskan bahwa hotspot adalah indikator awal sumber panas yang memerlukan verifikasi lapangan, namun kemunculan berulang di wilayah yang sama menjadi sinyal penting.
• Puncak musim kemarau di Kotim diperkirakan bergeser ke September dan berpotensi lebih panjang akibat El Nino, yang dapat meningkatkan risiko kebakaran lahan.
• Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan membakar dan segera melapor, sementara pemerintah daerah diharapkan memperkuat patroli terpadu di wilayah rawan.
SAMPIT, Kanalindependen.id – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di tengah musim kemarau yang diprakirakan berlangsung hingga puncaknya pada September, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mendeteksi belasan titik panas yang tersebar di tiga kecamatan.
Berdasarkan pembaruan rekapitulasi hotspot BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit yang diakses Kamis (16/7/2026) pukul 16.00 WIB, terdeteksi 12 hotspot dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Baamang menjadi wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi. Sebanyak enam hotspot terpantau seluruhnya berada di Kelurahan Baamang Hulu. Seluruh titik tersebut terekam oleh satelit NOAA20 dengan tingkat kepercayaan level 8, yang menunjukkan indikasi kuat adanya sumber panas di permukaan.
Sementara itu, Kecamatan Antang Kalang mencatat tiga hotspot yang tersebar di Desa Tumbang Manya, Tumbang Kalang, dan Sungai Hanya. Adapun Kecamatan Mentawa Baru Ketapang terdeteksi memiliki dua hotspot di Desa Eka Bahurui, wilayah yang dalam beberapa pekan terakhir berulang kali menjadi lokasi penanganan karhutla.
Seluruh hotspot yang terpantau memiliki radius kemungkinan mencapai 1.125 meter, sehingga memerlukan verifikasi lapangan untuk memastikan apakah sumber panas tersebut berkaitan dengan kebakaran lahan atau faktor lainnya.
Data BMKG menunjukkan titik panas terdeteksi pada dua waktu pengamatan, yakni pukul 00.18 WIB dan 12.56 WIB, menggunakan satelit NOAA20.
Munculnya enam hotspot di Baamang Hulu menjadi perhatian tersendiri. Kawasan tersebut dalam beberapa hari terakhir juga dilaporkan mengalami sejumlah kejadian kebakaran lahan yang melibatkan personel BPBD Kotim, Manggala Agni, TNI, Polri, dan relawan dalam proses pemadaman.
Di sisi lain, Desa Eka Bahurui kembali masuk dalam daftar wilayah yang terpantau memiliki hotspot. Sebelumnya, desa tersebut juga beberapa kali menjadi titik penanganan karhutla dan bahkan sempat menjadi lokasi operasi pemadaman melalui jalur udara.
BMKG menegaskan bahwa hotspot tidak selalu berarti telah terjadi kebakaran. Titik panas merupakan indikator awal adanya sumber panas di permukaan bumi yang masih harus dipastikan melalui pengecekan langsung di lapangan.
Meski demikian, kemunculan hotspot secara berulang di wilayah yang sama menjadi sinyal penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat patroli dan deteksi dini. Terlebih, BMKG sebelumnya telah memperkirakan puncak musim kemarau di Kotim bergeser ke September dengan durasi kemarau yang lebih panjang akibat pengaruh fenomena El Nino.
Kondisi tersebut berpotensi membuat vegetasi semakin kering dan mempercepat penyebaran api apabila muncul kebakaran.
Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan kepada petugas apabila melihat asap maupun titik api agar penanganan dapat dilakukan sebelum kebakaran meluas.
Pemerintah daerah bersama BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, dan instansi terkait juga diharapkan terus memusatkan patroli terpadu di wilayah yang berulang kali terdeteksi memiliki hotspot. Langkah itu dinilai penting agar setiap indikasi kebakaran dapat direspons lebih cepat sebelum berkembang menjadi karhutla berskala besar. (***)