Ia pun mengaku selama sebulan tidur di Gedung Expo. Di ruang berukuran kecil di lantai dua. Hanya beralaskan tikar tilam dan satu bantal kecil.
“Sudah sebulan saya ditugaskan dan tidur juga di sini dengan tempat tidur seadanya. Kadang kalau malam hari tidak bisa tidur, saya lanjut bekerja bebersih gedung yang masih terlihat kotor,” ujar anggota TNI yang pernah bertugas sebagai Babinsa di Telaga Pulang.
Ia juga membersihkan rumput ilalang di area sekitar gedung Expo Sampit menimbun 30 rit urukan tanah dan membuka akses dua jalan setapak untuk memudahkan kendaraan motor melintas.
Selain itu, ia juga menggali sumur bor sedalam 15 meter untuk kebutuhan air untuk mandi cuci kakus.
Di sisi utara gedung, juga dibangun 40 unit toilet dari seng spandek bewarna coklat tua yang saat ini masih dalam tahap pekerjaan.
Sementara, 14 toilet yang berada disisi utara dan timur di dalam bangunan gedung yang belum pernah digunakan juga difungsikan dan ruang kecil di bawah tangga juga akan dimanfaatkan sebagai tambahan 4 toilet.
Total ada 18 toilet di dalam Gedung Expo Sampit dan 40 unit toilet tambahan berada di luar gedung.
“Pembangunan WC termasuk pemasangan atap bocor melibatkan lima tukang bangunan. Sampai dengan hari ini pembangunan WC sudah lebih dari 70 persen. Ditargetkan Kamis minggu ini selesai dikerjakan,” katanya.
Ia juga menyediakan 3 profil tank bewarna orens berkapasitas 5300 liter disisi utara sebelah toilet.

Tepat di sebelahnya juga ada bangunan genset milik aset Pemkab Kotim yang masih tersimpan dalam ruangan yang tak begitu luas. Dan, disisi kanan bangunan genset juga terdapat satu bangunan kosong yang ditempatkan sebagai gudang senjata dan dapur umum.
“Untuk ruang genset dikunci. Tidak bisa kami manfaatkan. Bangunan luarnya hanya kami cat berwarna hijau. Bangunan kosong sisi kiri genset yang nantinya akan digunakan sebagai ruang persenjataan dan dapur,” ujarnya.
Andi mengungkapkan biaya perbaikan hingga layak huni menghabiskan anggaran lebih dari Rp400 juta.
“Wah kalau ditanya biaya yang dihabiskan untuk perbaikan ini lumayan besar, lebih dari Rp400juta. Dananya dari Dandim 1015, tugas saya hanya membeli material, membersihkan, memantau pekerjaan tukang, melaporkan progress perbaikan setiap hari. Saya menganggap ini adalah tugas dan tanggungjawab yang harus saya kerjakan sampai tuntas,” ucap pria kelahiran 1991 ini.
Rencananya pada 10 Maret, bangunan Gedung Expo Sampit akan siap dimanfaatkan sebagai kantor Yonif TP 923.
“Rencananya 10 Maret mulai ditempati. Targetnya kurang lebih dua tahun, sampai bangunan kantor Yonif TP di Jalan Jenderal Sudirman KM 18 selesai, kami akan pindah ke sana. Untuk sementara menempati bangunan yang bisa dimanfaatkan saja,” ujarnya.
Sebagai informasi, pembangunan Gedung Sampit Expo merupakan proyek multiyears (tahun jamak) yang sudah dikerjakan 18 September sampai 10 November 2020 lalu.
Namun, berbagai kendala keterlambatan pembangunan sudah terjadi sejak awal. Misalnya, pemasangan tiang pancang yang memerlukan waktu cukup lama, pengiriman material yang terhambat, hingga pandemi Covid-19 yang berimbas terhadap kesiapan tenaga pekerja, sehingga proyek pembangunan itu diperpanjang sampai Februari 2021 lalu. Padahal, dalam perda, pembangunan dengan sistem tahun jamak tersebut harus berakhir tahun 2020.
Pekerjaan belanja modal pembangunan gedung untuk penanganan fasilitas expo menelan anggaran sebesar Rp31.766.000.000 melalui dana APBD 2019. Proyek itu dikerjakan oleh kontraktor PT Heral Eranio Jaya dan Supervisi CV Mentaya Geographic Consultindo
Pembangunan expo ini termasuk dalam program pengembangan wilayah dan akses industri dengan kegiatan pembangunan gedung dan sarana prasarana sentra IKM.
Pembangunan fisik gedung expo sudah selesai akhir 2021. Namun, bangunan gedung belum dapat difungsikan karena masih kekurangan anggaran sekitar Rp3,5 miliar untuk biaya pemasangan listrik, penyediaan genset, pendingin ruangan, dan perlengkapan ruangan lainnya. Termasuk jalan masuk dari muara Jalan Tjilik Riwut menuju Gedung Expo.
Tiga tahun setelah gedung rampung, mencuat kabar kasus dugaan tindak pidana korupsi pembangunan gedung expo yang berawal dari temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI tahun 2022 lalu.
Dalam pelaksanaan pembangunan ada kelebihan pembayaran pada sejumlah item pekerjaan, masing-masing sebesar Rp152,6 juta, Rp634,8 juta dan Rp2,48 miliar.
Berdasarkan hasil audit investigasi BPK, perbuatan tersebut mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp3,017 miliar serta memberikan keuntungan kepada pihak lain. (hgn)