• Balai Karantina Kesehatan (BKK) Kelas II Sampit memperketat pengawasan kesehatan di pintu masuk Kabupaten Kotawaringin Timur dan menyelenggarakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis selama masa angkutan Lebaran 2026.
• Layanan pemeriksaan kesehatan gratis tersedia bagi penumpang dan petugas di Pelabuhan Sampit dan Bandara Haji Asan Sampit, serta menjangkau wilayah kerja lain di Kalimantan Tengah seperti Sukamara dan Pelabuhan Kumai Pangkalan Bun.
• Kepala BKK Kelas II Sampit, dr I Gusti Ayu Agung Darmawati, menyatakan pada Minggu (15/3/2026), 34 dari target 50 orang telah memanfaatkan fasilitas ini untuk memastikan pemudik dalam kondisi sehat.
• Hasil pemeriksaan sementara banyak menemukan keluhan seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan gula darah tinggi, namun semua pemudik yang diperiksa dinyatakan layak bepergian dan diberikan obat gratis jika diperlukan.
• BKK juga mengimbau pemudik untuk waspada terhadap wabah Virus Nipah dan TBC, serta menganjurkan penggunaan masker dan rajin mencuci tangan, sembari berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kotim dan Puskesmas setempat.
SAMPIT, kanalindependen.id – Balai Karantina Kesehatan (BKK) Kelas II Sampit memperketat pengawasan kesehatan di pintu masuk wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur.
Selama masa angkutan Lebaran 2026, BKK juga menyelenggarakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi penumpang maupun petugas di Pelabuhan Sampit dan Bandara Haji Asan Sampit.
Kepala BKK Kelas II Sampit, dr I Gusti Ayu Agung Darmawati, menyampaikan bahwa layanan kesehatan gratis dilakukan untuk memastikan pemudik dapat melakukan skrining kesehatan dan dapat melanjutkan perjalanan mudik dalam keadaan sehat.
“Fokus untuk dalam pelayanan kesehatan ini untuk memastikan seluruh pemudik dalam kondisi fisik yang siap untuk melakukan perjalanan jauh dalam kondisi sehat,” kata I Gusti Ayu Agung Darmawati, Minggu (15/3/2026).
Layanan kesehatan gratis yang disediakan mencakup berbagai parameter pemeriksaan fisik dan medis dasar dengan target layanan 50 orang.
Hingga siang hari saat diwawancarai, tercatat 34 orang telah memanfaatkan fasilitas ini dari target kuota yang disediakan.
Pemeriksaan meliputi pengecekkan tekanan darah, berat badan, lingkar perut, tinggi badan, asam urat, hingga cek kadar kolesterol dan kadar gula darah.
”Berdasarkan pemeriksaan sementara, keluhan yang paling banyak ditemukan pada pemudik adalah tekanan darah tinggi (hipertensi) dan kadar kolesterol yang tinggi dan beberapa lainnya gula darah tinggi,” ujarnya.
Walaupun demikian, semua yang menjalan8 pemeriksaan kesehatan terutama pemudik, masih dinyatakan layak untuk bepergian.
”Jika ditemukan masalah kesehatan, dokter kami akan memberikan informed consent dan obat-obatan secara gratis jika diperlukan,” ujarnya.
Selain itu, BKK Kelas II Sampit tidak hanya memfokuskan pelayanan di Pelabuhan Sampit dan Bandara Haji Asan Sampit tetapi juga menjangkau wilayah kerja lainnya di Kalimantan Tengah. Seperti di Sukamara, Pelabuhan Kumai Pangkalan Bun.
Pada puncak arus mudik, BKK mengerahkan 9 personel dalam satu shift yang dibagi ke dalam dua tim yaitu, tim pemeriksaan kesehatan gratis dan tim pengawasan di pintu embarkasi.
”Besok akan dilanjutkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis di Bandara Haji Asan Sampit. Kami juya menyiagakan satu unit ambulans yang siap melakukan evakuasi medis kapan saja jika diperlukan,” ujarnya.
Di tengah antusiasme mudik, dr Ayu mengingatkan kepada para pemudik agar waspada terhada0 wabah seperti, Virus Nipah dan Tuberculosis (TBC). Saat ini, pihaknya tengah memperketat skrining terhadap potensi wabah tersebut.
”Kami mengimbau pemudik untuk tetap menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) seperti menggunakan masker dan rajin mencuci tangan, terutama bagi anak-anak. Ini penting untuk mencegah keluar masuknya penyakit wabah yang berpotensi menular saat berkerumun di perjalanan,” tegasnya.
Dalam menjalankan fungsi pengawasan ini, BKK Kelas II Sampit menegaskan tidak bekerja sendiri.
Pihaknya terus berkoordinasi secara intensif dengan Dinas Kesehatan Kotim dan Puskesmas setempat untuk memastikan penanganan kesehatan di wilayah pintu masuk pelabuhan dan bandara berjalan optimal melalui kolaborasi lintas sektor.
”Layanan kesehatan ini rencananya akan terus diupayakan tersedia selama periode arus mudik dan balik, dengan penyesuaian jumlah petugas berdasarkan intensitas kedatangan kapal maupun pesawat,” tandasnya. (hgn/ign)