• Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengakibatkan satwa liar kehilangan habitat dan memicu ancaman ledakan populasi hama.
• BKSDA Resort Sampit melaporkan adanya kemunculan seekor orangutan jantan berukuran besar di kebun warga Desa Bapanggang Raya beberapa hari lalu,, diduga kuat akibat menghindari karhutla yang terjadi di wilayah tersebut.
• Selain orangutan, beruang madu juga berpotensi muncul di kawasan perkebunan atau ladang ketika hutan terbakar. Masyarakat diminta tidak panik dan melaporkan penemuan satwa liar kepada petugas BKSDA.
• Dampak lain karhutla adalah kematian beberapa jenis reptil, khususnya ular yang merupakan predator alami tikus, ditemukan terpanggang di Jalan Lingkar Selatan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
• Kematian predator alami ini dikhawatirkan mengganggu keseimbangan ekosistem, berpotensi memicu ledakan populasi tikus, dan merugikan sektor pertanian.
• BKSDA mengingatkan bahwa karhutla tidak hanya berdampak pada kabut asap atau luas lahan terbakar, melainkan juga mengancam kehidupan satwa liar, keseimbangan ekosistem, dan berpotensi kerugian ekonomi masyarakat.
SAMPIT, Kanalindependen.id – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai merambat jauh melampaui kabut asap. Satwa liar kehilangan habitat, predator alami mati akibat kebakaran, hingga muncul ancaman ledakan populasi hama yang berpotensi merugikan petani.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit mencatat kemunculan seekor orangutan di kebun warga di Desa Bapanggang Raya menjadi salah satu indikator bahwa tekanan terhadap ekosistem mulai meningkat seiring meluasnya karhutla.
Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan, laporan tersebut diterima dari Ketua RW Desa Bapanggang Raya, Amrullah, sekitar tiga hari lalu. Warga melaporkan seekor orangutan jantan berukuran besar memasuki area kebun atau ladang.
Petugas BKSDA kemudian melakukan pemantauan ke lokasi. Namun, saat tiba, satwa dilindungi tersebut sudah tidak ditemukan.
“Warga melaporkan ada satu individu orangutan berukuran besar masuk ke kebun. Saat kami melakukan pemantauan, orangutan itu sudah tidak terlihat lagi. Kemungkinan hanya melintas,” kata Muriansyah, Jumat (7/8/2026).
Hasil koordinasi BKSDA dengan Manggala Agni menunjukkan, pada waktu yang hampir bersamaan memang terjadi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Desa Bapanggang Raya dan Desa Bapeang.
Kondisi tersebut memperkuat dugaan bahwa orangutan keluar dari habitatnya untuk menghindari kobaran api dan kepulan asap.
“Kami menduga kuat karhutla menjadi penyebab orangutan masuk ke kebun warga. Satwa liar biasanya mencari lokasi yang lebih aman ketika habitatnya terganggu oleh kebakaran,” ujarnya.
Menurut Muriansyah, fenomena tersebut bukan hanya terjadi pada orangutan. Beruang madu juga berpotensi muncul di kawasan perkebunan atau ladang ketika kawasan hutan terbakar.
Karena itu, masyarakat diminta tidak panik maupun mengambil tindakan sendiri apabila bertemu satwa liar yang dilindungi.
“Kalau ada warga melihat orangutan, beruang madu, atau satwa liar lainnya masuk ke kebun, segera laporkan kepada petugas. Jangan berusaha menangkap, melukai, atau bahkan membunuh satwa tersebut,” tegasnya.
Namun, ancaman karhutla tidak berhenti pada berpindahnya satwa liar. BKSDA juga menemukan dampak lain yang mulai mengganggu keseimbangan ekosistem.
Beberapa jenis reptil, terutama ular yang berperan sebagai predator alami tikus, ditemukan mati akibat kebakaran.
“Sekitar sepekan hingga sepuluh hari lalu kami menemukan ular mati terpanggang di kawasan Jalan Lingkar Selatan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang,” ungkap Muriansyah.
Kematian predator alami tersebut dikhawatirkan memicu meningkatnya populasi tikus di kawasan pertanian.
Dalam rantai makanan, ular berperan penting mengendalikan jumlah tikus. Ketika populasi predator menurun akibat kebakaran, keseimbangan ekosistem ikut terganggu dan risiko ledakan hama menjadi lebih besar.
“Kalau predator seperti ular berkurang, populasi tikus bisa meningkat. Dampaknya nanti dirasakan petani karena tanaman mereka lebih rentan dirusak tikus,” jelasnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya diukur dari luas lahan yang terbakar atau pekatnya kabut asap. Kebakaran juga memengaruhi kehidupan satwa liar, mengganggu keseimbangan ekosistem, hingga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi di sektor pertanian.
BKSDA mengingatkan bahwa menjaga hutan dari kebakaran bukan hanya untuk melindungi kawasan hutan, tetapi juga menjaga keseimbangan alam yang selama ini menopang kehidupan manusia.
“Ketika satwa mulai keluar dari hutan dan predator alami mulai hilang, itu menjadi tanda bahwa ekosistem sedang mengalami tekanan. Dampaknya pada akhirnya juga akan kembali dirasakan oleh masyarakat,” tutup Muriansyah. (***)