Porprov Bukan Sekadar Seremoni
Komisi III DPRD Kotim mengingatkan bahwa Porprov bukan ajang seremoni, tetapi momentum pembinaan dan pertaruhan harga diri daerah.
Ini poin penting yang sering hilang dalam perdebatan administratif mengenai proposal, hibah, dan syarat-syarat birokratis lainnya.
Porprov adalah ruang seleksi talenta muda yang kelak membawa nama Kotim di level lebih tinggi, baik di ajang provinsi, nasional, bahkan internasional.
Menunda atau menggantung keikutsertaan sama saja mengirim pesan bahwa pembinaan olahraga tidak menjadi prioritas strategis.
Dalam jangka panjang, sikap seperti ini akan menggerus kepercayaan atlet, pelatih, dan pengurus cabor terhadap komitmen pemerintah.
Tanggung Jawab Kolektif, Bukan Saling Lempar
Momentum RDP yang dihadiri sejumlah pejabat terkait semestinya menjadi ruang untuk mengambil keputusan tegas, bukan sekadar bertukar keluhan dan alasan.
Publik berhak menuntut transparansi. Di mana sesungguhnya titik macet? Di proposal, regulasi, administrasi, atau pada keberanian politik untuk memprioritaskan?
Di satu sisi, KONI dan cabor wajib memastikan tata kelola administrasi hibah tertib dan akuntabel.
Di sisi lain, pemerintah daerah tidak boleh menjadikan prosedur sebagai tameng untuk menunda kewajiban, apalagi ketika agenda sudah jelas dan waktu kian sempit. Yang dibutuhkan adalah solusi cepat dan terukur, bukan saling lempar tanggung jawab.
Mundur Diam-Diam atau Bertarung Terhormat
Pada akhirnya, Kotim dihadapkan pada pilihan sederhana, namun menentukan. Mundur diam-diam dari Porprov 2026 dengan alasan teknis, atau bertarung secara terhormat dengan menata ulang prioritas anggaran dan mempercepat pencairan hibah.
Keduanya akan tercatat dalam ingatan publik dan menjadi cermin kesungguhan daerah ini membina olahraga.
Editorial ini berpihak pada kepentingan atlet dan publik. Pemkab dan DPRD Kotim harus segera memastikan dua hal, kejelasan besaran dan jadwal pencairan hibah, serta komitmen politik bahwa Kotim akan hadir di Porprov XIII Kalteng bukan sekadar sebagai peserta, tetapi sebagai kontingen yang dipersiapkan serius.
Jika hari ini Kotim ragu menghormati atletnya, jangan berharap esok hari atlet akan sepenuh hati berjuang membawa nama Kotim. Apakah di sisa waktu yang sempit ini, keberanian politik dan etika pelayanan publik bisa mengalahkan kelambanan birokrasi? (redaksi)