Di balik seragam pramuka rapi dan topi biru yang dikenakannya, Khoirul Saputra menyimpan rahasia tentang rasa sakit yang pernah melumpuhkan semangatnya. Namun siapa sangka, penari yang kini tekun memetik kecapi ini pernah dipaksa menyerah oleh aspal jalanan.

Savira Yuni Florenzya

Bel pulang sekolah belum berbunyi, aku sudah berada di luar kelas karena guru mengakhiri pelajaran lebih awal.

Langkah kakiku menuju taman bacaan sekolah, aku pun menunggu. Tak lama kemudian, duduklah seorang remaja laki-laki. Ia mengenakan seragam pramuka lengkap, bertopi biru sedikit miring, terkesan santai.

Penulis mewawancarai Khoirul Saputra di area perpustakaan sekolah. (Dokumentasi pribadi penulis)

Sebelumnya, aku mendengar namanya dari perbincangan guru, ia salah seorang siswa berprestasi.

Berbagai pengalaman dan pencapaian telah diraih, sehingga menumbuhkan rasa penasaranku untuk menulis kisahnya.

Dialah Khoirul Saputra, dulunya dikenal sebagai penari, dan kini menapaki jalan baru sebagai pemain musik tradisional Kalimantan Tengah.

Di bangku sekolah menengah pertama, ketertarikannya pada seni tari tumbuh karena sang nenek.

Khoirul terpukau oleh balutan kain anggun serta gerakan indah penuh makna. Kekaguman itu berubah menjadi hasrat untuk menjadi penari seperti sang nenek.

Kesehariannya saat itu cukup padat. Saat pulang sekolah, waktunya banyak dihabiskan untuk membantu orang tua, memuat dan mengirim hasil panen sawit. Bahkan pernah mengirim sawit dengan beban dua ton.

Hal itu tentu menghambat masa berlatihnya. Namun di tengah keterbatasan waktu, tersimpan cita-cita menjadi penari terkenal sekaligus memperkenalkan budaya. Inilah yang memaksanya pandai-pandai mencuri waktu untuk berlatih.

Memasuki masa SMK, bakat menari pemuda kelahiran 13 Maret 2008, Desa Keruing, Kecamatan Cempaga Hulu ini semakin terlihat.

Ia pertama kali tampil dalam kegiatan unjuk bakat saat masa pengenalan lingkungan sekolah.

Momentum ini menjadi titik awal tumbuhnya kepercayaan diri untuk menari di atas panggung. Sejak itu, ia terus menekuni dunia tari dan semakin serius mengasah kemampuan demi mewujudkan impian yang telah lama tersimpan.

Khoirul Saputra menampilkan tarian dengan penuh ekspresi dalam perlombaan antar kelas, disaksikan seluruh siswa di halaman sekolah. (Dokumentasi pribadi narasumber)

Namun, nasib malang menimpa anak ketiga dari enam bersaudara itu. Pada suatu hari di akhir tahun 2023, saat dalam perjalanan dari kos di Sampit menuju rumah orang tuanya di Keruing, Kecamatan Cempaga Hulu ia mengalami kecelakaan di tikungan tajam Desa Bejarum, Kecamatan Kota Besi. Ia mengalami tabrak lari.

”Tiba-tiba pandangan saya gelap saat melewati tikungan tajam itu. Ketika sadar, saya sudah berada di dalam selokan. Saat melihat kaki kiri saya yang tampak patah, saya hanya bisa pasrah. Sepertinya saya tidak bisa menari lagi,” ucapnya.

Setelah mendapat penanganan awal di Puskesmas Kota Besi. Ia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. Murjani Sampit dengan ambulans.

Pandangannya tertuju pada wajah kedua orang tuanya yang tampak sedih melihat putra mereka terbaring menahan sakit.

Situasi itu membuatnya semakin terpuruk. Terlebih melihat wajah ayahnya yang berkeringat dan berlumur arang, ia sadar ayahnya baru saja berjuang memadamkan kebakaran di lahan.

Di dalam ambulans, rasa sakit yang menjalar di kakinya membuatnya terdiam. Namun di tengah rasa nyeri itu, terlintas dalam benaknya bahwa ia masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Allah dan masih memiliki peluang untuk membanggakan kedua orang tuanya.

Dari titik itulah ia memanjatkan doa, menguatkan tekad untuk bangkit kembali dan memberikan kebahagiaan untuk kedua orang tuanya.

Khoirul berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia harus membalas budi dan memberi kebahagiaan kepada kedua orang tuanya.

Sesampainya di RSUD Murjani, ia menjalani rontgen dan diketahui paha bagian kirinya patah.

Namun, operasi tidak bisa segera dilakukan karena alat yang dibutuhkan tidak tersedia dan harus menunggu lama.

Tak ingin membebani orang tua dan ragu menjalani operasi, ia memilih pengobatan alternatif menggunakan obat tradisional.

Ia akhirnya menuju Kota Besi untuk menjalani pengobatan selama lebih dari satu bulan hingga masa pemulihan.

Setelah ia kembali bersekolah, seorang guru mengatakan bahwa ia adalah harapan dalam lomba tari.

Rasa kecewa menyesak di dadanya, karena ia sudah tak bisa meraih impian menjadi penari terkenal sekaligus melestarikan budayanya. Tapi ia mencoba menerima keadaan itu, meski menganggapnya sebagai titik terburuk dalam hidupnya.

Setelah perlahan bangkit dari keterpurukan, ia mulai menemukan kembali semangatnya melalui seni, namun kali ini di bidang yang berbeda.

Sebelum masuk SMK, ia sebenarnya sudah tertarik mempelajari kecapi. Ketertarikan itu sekarang kembali saat melihat temannya memainkan alat musik tradisional di sekolah, hingga ia mulai mencari tahu lebih jauh.

Awal perjalanan tidak selalu berjalan mulus. Fasilitas alat musik di sekolah yang sebagian rusak membuatnya sempat tidak bergairah.

Senar kecapi yang putus membuatnya tidak bisa langsung belajar alat yang diminatinya.

Namun, di luar sekolah, ia memanfaatkan alat musik ukulele yang nadanya diatur seperti kecapi.

Bahkan ia menghabiskan waktu bermalam-malam untuk berlatih kecapi menggunakan ukulele hingga akhirnya mulai menguasainya.

Baginya, beralih dari dunia tari ke musik bukanlah hal yang mudah, namun ia merasa musik lebih dapat dipelajari dengan santai meski dengan kondisi kakinya yang masih sakit.

”Tantangan dalam mempelajari bidang baru bukanlah alasan untuk menyerah. Sesulit apa pun itu, selagi mau berusaha pasti mudah,” ujarnya.

Ketika teman-temannya belum terlihat di ruang latihan, ia sudah lebih dulu menginjakkan kaki di ruangan itu, menunggu sambil belajar secara mandiri. Jemarinya mulai terbiasa menepuk permukaan gendang nan bersemangat dan memetik dawai kecapi nan menenangkan.

Ketekunannya membuahkan hasil. Ia mulai dipercaya memainkan berbagai instrumen dalam latihan, mulai dari gendang hingga kecapi dalam musik karungut.

Kesempatan tampil pertama datang saat pembukaan acara temu alumni di sekolah. Pengalaman tersebut menjadi langkah awalnya sebelum mengikuti perlombaan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) pada tahun 2025.

Saat pelaksanaan FLS3N, musik tradisional membawanya pada prestasi beruntun. Juara I tingkat kabupaten hingga juara III tingkat provinsi.

Khoirul (mengenakan kacamata) bersama tim dan pelatihnya sebelum rekaman FLS3N tingkat provinsi. (Dokumentasi pribadi narasumber)

Sementara dalam Festival Habaring Hurung ia berhasil meraih juara pertama. Prestasi tersebut mengantarkannya mewakili kabupaten pada ajang Isen Mulang di Palangka Raya.

Dalam perlombaan tersebut, ia kembali dipercaya menjadi bagian dari tim pemusik untuk mengiringi pertunjukan tari.

Saat ini, ia bersama timnya tengah mempersiapkan diri menghadapi perlombaan selanjutnya.

Khoirul (memegang kecapi) sedang berlatih bersama timnya untuk persiapan lomba Festival Habaring Hurung. (Dokumentasi pribadi narasumber)

Dari berbagai pencapaian yang diraih, kini ia memiliki mimpi lebih besar.

”Saya ingin menjadi pemain musik tradisional yang dikenal luas,” ucapnya.

Baginya, musik tradisional bukan hanya sebuah seni, tetapi juga warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.

Khoirul membuktikan keterbatasan saat tak bisa lagi menari bukanlah halangan untuk berprestasi.

Kecintaan terhadap seni dan budaya telah mengakar kuat di dalam diri. Bidang apapun yang digeluti justru menjadi pintu baru meraih mimpi.

”Saya harap, dari perjalanan yang saya tempuh, semakin banyak generasi muda yang tertarik mengikuti jejak saya untuk mencintai dan melestarikan budaya daerah. Apapun kendala dan tantangannya,” tutupnya. (***)

Juara Harapan 1 Lomba Jurnalistik FLS3N Kotim: Savira Yuni Florenzya, SMKN 2 Sampit