JAUH di pedalaman Kalimantan Tengah, pada sebuah kota yang dipeluk oleh makhluk-makhluk rindang tak bergerak, aroma membumi dari jutaan pepohonan menghidupi sebuah kota bernama Sampit.

Seni merupakan bagian krusial yang denyutnya terasa nyata di sana. Museum Kayu adalah paru-paru yang menyimpan napas masa lalu di tengah riuh modernitas Sampit.

Saya masuk ke dalam Museum Kayu dan menghirup aroma membumi yang cukup kuat. Banyak sekali peninggalan budaya Kota Sampit yang terletak diam tak bersuara di sana.

”Jangan dipandangi ja, tapi dimengerti jua,” ucap salah satu penjaga yang saya tidak ketahui namanya.

Pernyataan beliau menyadarkan saya suatu hal.

”Siapa budayawan yang melestarikan seni di Kota Sampit ini?” tanya saya dalam hati.

Saya pulang ke rumah dihantui rasa penasaran yang membebankan, terduduk di pojok kamar dengan sinar layar gawai yang menyinari ruangan.

Jari terasa lelah mencari jawaban atas pertanyaan. Setiap diksi di dalam tulisan artikel saya baca hingga muncul suatu nama.

Haitami: Pemahat dan Khasiat Limpasu. Judul dari artikel tersebut.

Diri ini semakin termakan oleh rasa penasaran. Setelah bertanya dari orang ke orang, akhirnya saya dapat menemui salah satu cucu dari Bapak Haitami, bernama Dheza, yang kebetulan juga satu sekolah.

”Sidin tinggal di seberang Sungai Mentaya,” ujar Dheza memberitahu saya.

Perjalanan saya menuju tempat beliau bersama Dheza disambut dengan angin dan gelombang air yang terpecah oleh kapal feri yang kami naiki, membawa saya meninggalkan riuh modernitas menuju sebuah rumah yang menyimpan aroma kayu dengan penuh cerita.

Waktu menunjukkan pukul 11.32 WIB ketika saya melihat sekeliling dalam rumah beliau yang penuh dengan seni kriya khas Kalimantan.

Saya bersalaman dan berbincang sedikit sembari memegang buku ditemani dengan sebuah pensil, fokus saya penuh kepada cerita yang beliau sampaikan.

Bapak H. Haitami A. M. adalah seorang pengamat kebudayaan. Beliau lahir di Kota Pangkalan Bun dan besar di Kota Sampit.

Sedari kecil, beliau sudah lekat dengan kebudayaan Kotawaringin, layaknya matahari dan sinarnya yang tak terpisahkan.

Membuat karya seni sedari setinggi tunas pisang membuat beliau sangat handal dalam bidangnya.

”Dari wadai 500 perak,” seru beliau sambil tertawa.

Lingkungan sekitar tempat ia tumbuh mengajarkan kerja keras, keringat merupakan barang bukti dalam perjalanan hidup bagi lingkungan beliau.

Setiap buku pelajaran akan dibaca tanpa letih hingga matahari pun tertidur lebih dulu, dari buku Ilmu Pengetahuan Alam sampai dengan buku Seni Budaya beliau pelajari tanpa letih.

Walaupun waktu Bapak Haitami mungkin tersita oleh buku, tetapi baginya, ilmu tak boleh berhenti di ujung mata.

”Praktiknya itu yang penting,” tegasnya sambil tersenyum.

Maka, alih-alih hanya terbenam dalam kata-kata, beliau lebih memilih turun tangan meneladani jejak kebudayaan Kalimantan Tengah, seperti dalam merajut karya seni.

Melukis, kriya, bahkan musik beliau belajar sendiri tanpa tumpuan yang membantu mengangkat, membuat seni merupakan sesuatu hal yang berharga.

”Seni itu mengajari presisi, kesabaran,” seru seorang budayawan tersebut.

Komunitas Baniang 47 Jaya, tempat Bapak Haitami mengerjakan pahatan kayu. (Dokumentasi Pribadi Penulis)

Beliau tumbuh menjadi seniman yang andal dengan menguasai hal-hal seperti melukis dan memahat.

Melukis tidak hanya sebatas hobi di atas kursi bagi beliau. Namun, hobi tersebut menjadi jauh lebih berdampak di tangan Bapak Haitami. Dedikasinya terpampang dengan melukis dua ribu lebih lukisan untuk pameran lokal.

Lukisan beliau menggambarkan banyak negara dan budaya yang terkandung di dalamnya, sembari mengangkat tinggi seni budaya lokal Kalimantan hanya untuk faedah esensinya dapat dinikmati insan muda di Kota Sampit.

”Semua seni dari mancanegara sudah aku tahu,” ucap Bapak Haitami dengan bangga.

Bapak Haitami pertama kali mengenalkan karyanya ke tingkat nasional pada era 1990-an.

Beliau membawa 16 patung kayu untuk memperkenalkan budaya Dayak lama yang namanya sudah jarang terdengar. Karya tersebut lahir dari keringat dan kerja keras Bapak Haitami sembari berpacu dengan waktu. 

”Asalkan ada niat di diri, pasti semua bisa,” kata beliau sembari membenarkan kerah baju.

Tentu tidak mudah mengerjakan 16 patung kayu hanya dengan beberapa tangan. Di tengah pergulatan menyusun intisari pemikiran, beliau tidak memiliki banyak waktu dalam pengerjaannya.

Ada malam-malam di mana tangan beliau terasa kaku dan punggung terasa seolah akan patah karena terus membungkuk di depan kayu.

Namun, Bapak Haitami sadar bahwa jika bukan dia yang membawa wajah Dayak lama ini ke luar sana, mungkin tak akan ada lagi orang yang tahu bahwa budaya ini pernah ada.

Dengan matahari dan bulan yang silih berganti menemani prosesnya, 16 patung tersebut akhirnya rampung dengan sempurna.

Rasa berdebar di dada sudah pasti ada saat Bapak Haitami berangkat membawa karya-karya tersebut.

Namun, semua itu terbayar lunas oleh sorak-sorai masyarakat di luar sana. Patung karya Bapak Haitami yang mengangkat budaya Dayak lama menjadi sinar yang paling terang hingga diapresiasi oleh khalayak luas. Karyanya berhasil mengharumkan nama Kalimantan.

Beliau juga belajar banyak atas kebudayaan milik tanah lain. Ke mana pun Bapak Haitami pergi ia akan membagikan ilmu yang didapat di luar sana agar dapat dikembalikan ke tanah lahir, takkan hilang tanah kelahiran dalam ingatan.

”Yang penting murid-murid bisa belajar,” ujarnya.

Bapak Haitami adalah sumber air bagi anak muda, banyak sekali anak muda yang belajar dan ditempa olehnya.

Ajaran yang beliau semai tumbuh mekar dan berhasil membuat banyak murid mencetak prestasi, bahkan hingga skala nasional. Dalam pertemuan singkat ini pun, saya dapat belajar banyak dari kisah beliau.

Namun, Bapak Haitami mengingatkan bahwa seni tidak hanya tentang apa yang dipegang oleh tangan, tetapi juga tentang apa yang diyakini oleh hati dan ke mana arah kaki melangkah.

Seni dapat mengajarkan budaya serta budi pekerti bagi murid-murid beliau agar karakter tersebut terus merekah dan dibawa hingga hari ini.

Selain mendedikasikan hidup untuk melestarikan seni budaya di Kota Sampit, Bapak Haitami juga memiliki kecintaan pada dunia botani, khususnya tanaman lokal yang mulai langka. Beliau merupakan seorang penanam yang memberikan tunas-tunas kehidupan.

”Lihat ja di belakang rumah tu banyak tanaman yang sudah jarang, pasti tumbuh sehat,” ujar beliau dengan nada bangga sembari melihat dedaunan di pohon.

Halaman belakang rumah Bapak Haitami, tempat beliau seringkali menghabiskan waktu. (Dokumentasi Pribadi Penulis)

Di pekarangan belakang rumahnya, tumbuh pohon limpasu, yaitu buah tradisional yang masyhur dengan sejuta manfaat.

Tak jauh dari sana, merambat pula tanaman rambusa yang kerap dijuluki sebagai markisa Kalimantan. Kedua buah ini merupakan harta karun rimba yang kini kian sulit ditemui di pasar maupun pemukiman warga.

Pertemuan di seberang sungai ini bukan sekadar wawancara, melainkan sebuah refleksi bagi saya sebagai insan muda.

Bapak Haitami telah membuktikan bahwa satu orang yang teguh memegang prinsip kebudayaan mampu memberi dampak bagi ribuan orang lainnya.

Beliau adalah bukti hidup bahwa karakter yang kuat tidak lahir dari kemudahan, melainkan dari presisi, kesabaran, dan kejujuran dalam berkarya.

”Kejar ilmu tu setinggi mungkin,” seru beliau sembari melihat saya menaruh buku ke dalam tas.

Langkah kaki saya meninggalkan rumah beliau dengan perasaan yang lebih ringan namun penuh tanggung jawab.

Jika Bapak Haitami adalah sang penanam, maka kitalah tunas-tunas yang harus memastikan bahwa seni dan budaya di Kota Sampit tidak akan pernah kehilangan detakannya. Karena dari satu ketulusan, akan tumbuh seribu kebaikan bagi masa depan. (***)

Juara Harapan 2 Juara Harapan 1 Lomba Jurnalistik FLS3N Kotim: Bilal Aqso Setiawan, SMAN 1 Sampit