• Perumda Tirta Mentaya Sampit mengimbau ribuan pelanggannya di tiga kecamatan Kotawaringin Timur (Kotim) bahwa air bersih yang didistribusikan belum aman untuk konsumsi (minum dan memasak).
• Imbauan ini dikeluarkan setelah hasil uji laboratorium menunjukkan penurunan signifikan kualitas air baku Sungai Mentaya, sehingga tidak memenuhi standar baku mutu air minum.
• Kepala Seksi Teknik Perumda Tirta Mentaya, Edy Dyufriadi, menyatakan bahwa air tersebut untuk sementara hanya dapat digunakan untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan kakus (MCK), per Rabu (30/9/2026).
• Penurunan kualitas air baku dipicu oleh krisis lingkungan akibat kemarau dan kebakaran hutan/lahan (karhutla) yang masih berlangsung di Kotim.
• Tiga wilayah kecamatan yang menjadi sasaran imbauan ini adalah Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, dan Mentawa Baru Ketapang.
SAMPIT, Kanalindependen.id – Krisis lingkungan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang dipicu kemarau dan karhutla makin mengancam kebutuhan dasar masyarakat. Perusahaan Daerah Air Minum (Perumda) Tirta Mentaya Sampit mengeluarkan imbauan resmi bahwa air bersih yang didistribusikan ke ribuan pelanggan di tiga kecamatan saat ini belum aman dan tidak diperuntukkan untuk konsumsi (minum dan memasak).
Langkah darurat ini diambil setelah hasil pengujian laboratorium menunjukkan kualitas air baku Sungai Mentaya mengalami penurunan signifikan dan tidak memenuhi standar baku mutu air minum.
Kepala Seksi Teknik Perumda Tirta Mentaya Sampit Edy Dyufriadi mengatakan, air yang saat ini didistribusikan kepada pelanggan hanya diperuntukkan bagi kebutuhan mandi, mencuci, dan kakus (MCK).
“Perumdam Tirta Mentaya menginformasikan bahwa air yang didistribusikan saat ini belum diperuntukkan untuk konsumsi karena kondisi kualitas air baku belum memenuhi standar untuk dikonsumsi. Air tersebut untuk sementara hanya dapat digunakan untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan kakus (MCK),” ujar Edy, Rabu (30/9/2026).
Pengolahan Tetap Berjalan
Edy menjelaskan, proses pengolahan air tetap berjalan di instalasi pengolahan. Namun, kondisi air baku menjadi kendala yang harus dihadapi dalam menghasilkan air yang memenuhi standar untuk konsumsi.
Penurunan kualitas air baku terjadi di tengah kondisi kemarau dan karhutla yang masih berlangsung di Kotim.
Perumda Tirta Mentaya terus melakukan proses pengolahan sesuai tahapan yang berlaku. Namun, untuk sementara air hasil distribusi belum diperuntukkan bagi kebutuhan konsumsi.
Tiga wilayah kecamatan yang menjadi sasaran imbauan tersebut yakni Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, dan Mentawa Baru Ketapang.
Perumda meminta pelanggan di wilayah tersebut mematuhi imbauan sampai terdapat pemberitahuan lebih lanjut mengenai kondisi kualitas air.
Masyarakat juga diminta tidak menggunakan air yang didistribusikan untuk minum maupun memasak selama larangan konsumsi masih berlaku.
Perkembangan kualitas air akan menjadi dasar untuk menentukan kapan air kembali dapat digunakan untuk kebutuhan konsumsi. (***)