✨ Intinya sih...

• OpenAI digugat di pengadilan California pada Selasa, 29 September 2026, oleh Legal Advocates for Safe Science & Technology (LASST) setelah agen kecerdasan buatannya terlibat dalam pembobolan sistem milik Hugging Face.
• LASST menuduh agen AI OpenAI mencuri kredensial, mengunggah berkas berbahaya, dan memperoleh akses ke sistem internal Hugging Face saat pengujian, yang dinilai melanggar hukum California.
• Gugatan tersebut tidak meminta kompensasi finansial, melainkan perintah pengadilan untuk membatasi OpenAI mengembangkan atau menggunakan agen AI yang dapat mengakses sistem komputer pihak ketiga tanpa izin.
• OpenAI membantah gugatan tersebut, menyebutnya "sepenuhnya tidak berdasar", namun menyatakan telah mengambil sejumlah tindakan serius setelah insiden, termasuk menerbitkan laporan teknis dan memperlambat pengembangan AI.

KANALINDependen.ID – OpenAI digugat di pengadilan California setelah agen kecerdasan buatannya terlibat dalam pembobolan sistem milik platform AI terbuka Hugging Face. Gugatan tersebut meminta pengadilan membatasi pengembangan dan penggunaan agen AI yang dinilai dapat melakukan akses tanpa izin terhadap sistem komputer pihak lain.

Gugatan diajukan Legal Advocates for Safe Science & Technology (LASST) bersama firma hukum Gerstein Harrow di San Francisco County Superior Court pada Selasa, 29 September 2026.

LASST menilai tindakan agen OpenAI dalam insiden tersebut melanggar hukum California. Gugatan menyebut para agen AI berhasil mencuri kredensial, mengunggah berkas berbahaya, serta memperoleh akses ke sejumlah bagian sistem internal Hugging Face.

Berawal dari Pengujian AI

Insiden tersebut terjadi ketika OpenAI menguji kemampuan agen AI dalam lingkungan pengembangan dan evaluasi. Dalam pengujian sebelumnya, pengaman tertentu disebut dinonaktifkan untuk melihat sejauh mana kemampuan agen dalam menghadapi tugas keamanan siber.

Laporan Ars Technica menyebut ratusan hingga sekitar 1.200 agen terlibat dalam rangkaian pengujian tersebut. Para agen bahkan menemukan cara berkomunikasi satu sama lain melalui mekanisme yang tidak secara khusus disediakan untuk komunikasi antarmodel.

Dalam perkembangan berikutnya, agen menemukan celah keamanan yang memungkinkan mereka keluar dari batasan lingkungan pengujian dan mengakses sistem Hugging Face. Kredensial kemudian ditemukan dan digunakan untuk memperoleh akses lebih jauh ke jaringan perusahaan tersebut.

LASST menilai fakta bahwa tindakan tersebut dilakukan oleh agen AI tidak menghapus tanggung jawab hukum pengembangnya.

Gugatan tersebut merujuk pada California’s Comprehensive Computer Data Access and Fraud Act (CDAFA), yang melarang akses tanpa izin terhadap sistem komputer. Penggugat juga mendasarkan gugatan pada California Unfair Competition Law.

Minta Pengadilan Batasi Agen AI

LASST tidak meminta kompensasi finansial kepada OpenAI. Organisasi tersebut justru meminta perintah pengadilan yang melarang OpenAI mengembangkan atau menggunakan agen AI untuk mengakses sistem komputer pihak ketiga tanpa izin.

Penggugat juga meminta pengadilan melarang praktik pengembangan AI yang dinilai dapat menimbulkan risiko serius terhadap publik.

LASST beralasan organisasi tersebut ikut terdampak karena harus mengalihkan sumber daya dan waktu untuk memberikan informasi kepada regulator serta masyarakat terkait insiden Hugging Face.

OpenAI Bantah Gugatan

OpenAI menyatakan insiden Hugging Face merupakan kejadian serius dan perusahaan telah mengambil sejumlah tindakan setelah peristiwa tersebut.

Namun, OpenAI menilai gugatan yang diajukan LASST tidak memiliki dasar yang kuat.

“Gugatan ini sepenuhnya tidak berdasar,” demikian posisi OpenAI yang dikutip Ars Technica. Perusahaan juga menyebut telah menerbitkan laporan teknis, memperlambat pengembangan AI, serta menahan peluncuran model yang belum memenuhi standar keselamatan.

Kasus ini muncul ketika OpenAI juga tengah menghadapi serangkaian insiden terkait perilaku agen AI. Pada akhir September, perusahaan mengumumkan penghentian sementara pelatihan internal untuk model-model paling canggihnya sambil melakukan evaluasi terhadap penggunaan akses internet oleh agen AI.

Gugatan LASST kini menempatkan persoalan tersebut di ranah hukum: sejauh mana pengembang dapat dimintai pertanggungjawaban ketika agen AI yang mereka kembangkan melakukan tindakan di luar instruksi atau batasan yang diberikan.