Intinya sih...

• Suwardi (51), seorang pedagang pentol asal Bojonegoro, Jawa Timur, ditemukan meninggal dunia di kontrakannya di Jalan Delima 7, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit.
• Penemuan jenazah terjadi pada Jumat (10/4/2026) sekitar pukul 13.00 WIB, setelah Suwardi tidak terlihat selama tiga hari dan warga mencurigai bau tak sedap dari dalam kamar.
• Warga bersama pemilik kontrakan dan Ketua RT setempat memutuskan untuk mendobrak pintu kamar Suwardi.
• Tim relawan Palang Merah Indonesia (PMI) bersama kepolisian telah mengevakuasi jasad korban dari lokasi kejadian.
• Pihak berwenang saat ini tengah melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kematian Suwardi.

SAMPIT, kanalindependen.id – Suwardi (51) mengenal betul sudut-sudut Jalan Delima 7 di Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Setiap sore, pria asal Bojonegoro, Jawa Timur itu kembali ke kontrakannya setelah seharian berkeliling menjajakan pentol.

Gerobaknya, sepeda motornya, dan pintu kamarnya adalah tanda-tanda kecil bahwa ia masih ada.

Tiga hari belakangan, semua tanda itu menghilang.

Hingga Jumat (10/4/2026) siang, sekitar pukul 13.00 WIB, kekhawatiran yang menumpuk itu terjawab dengan cara yang paling memilukan.

Aroma Kegelisahan

Ketiadaan aktivitas Suwardi selama tiga hari awalnya luput dari perhatian. Firasat warga perlahan tak bisa ditekan ketika pintu kamarnya terus terkunci rapat. Aroma tak wajar yang mulai menguar dari ventilasi memicu kegelisahan yang tak bisa lagi didiamkan.

Warga enggan menunggu lebih lama. Bersama pemilik kontrakan dan Ketua RT, mereka memutuskan untuk mendobrak pintu.

Pemandangan di balik pintu kayu itu mengunci langkah para saksi. Suwardi terbaring kaku di ruangan sempitnya.

Ia telah berpulang jauh dari keluarga dan tanah kelahirannya.

”Kami dobrak bersama pemilik kontrakan dan disaksikan Pak RT. Kondisinya sudah meninggal dunia,” ujar salah satu warga di lokasi penemuan dengan suara bergetar.

Jejak yang Terhenti

Sepeda motor yang setiap hari menemani Suwardi mencari nafkah masih terparkir rapi di tempatnya.

Kendaraan itu berdiri membisu, seolah menunggu tuannya keluar menarik gas, menjadi saksi bisu perjalanan yang telah selesai.

Tim relawan Palang Merah Indonesia (PMI) bersama kepolisian segera mengevakuasi jasad korban.

Garis polisi kini membentang di lokasi kejadian. Pihak berwenang tengah menyelidiki penyebab pasti kematian pria paruh baya tersebut untuk memastikan faktor medis atau indikasi lainnya.

Kerentanan di Ruang Sunyi

Kepergian Suwardi merekam kerentanan yang jarang dibicarakan di ruang publik kota ini.

Banyak perantau hidup di petak-petak kontrakan, hadir setiap hari mendorong gerobak, melayani kebutuhan warga, dan mengisi urat nadi ekonomi informal.

Namun, secara sosial, identitas mereka kerap mengabur tanpa rekam jejak.

Absennya Suwardi selama tiga hari tanpa ada yang menyadari menjadi tamparan senyap bagi interaksi sosial masyarakat urban. Ketiadaan mereka baru disadari ketika ruang dan waktu sudah terlambat.

Interaksi antar-tetangga sejatinya berfungsi sebagai jaring pengaman sosial paling dasar. Tragedi di ujung Jalan Delima 7 ini meninggalkan pesan kuat tentang pentingnya kepekaan terhadap ruang-ruang sunyi di sekitar kita.

Selamat jalan, Pak Suwardi. Semoga tenang di sana. (***)