Dia bersama pedagang lain berharap panitia kembali menghadirkan hiburan seperti tahun sebelumnya untuk meningkatkan kunjungan masyarakat.
”Tahun lalu ada hiburan musik religi, suasananya jadi lebih ramai dan menarik pengunjung. Tahun ini tidak ada,” katanya.
Hal serupa disampaikan Zubainah, pemilik Lapak Mama Hubil. Ia mengaku penjualan sempat menurun, namun masih terbantu oleh pelanggan tetap.
”Akhir bulan lalu agak sepi, tapi awal bulan mulai ramai lagi. Alhamdulillah masih balik modal, tidak sampai rugi,” ujarnya.
Zubainah membuka lapak pukul 13.00 – 21.00 WIB dengan menyajikan sekitar 20 menu lauk siap saji seharga Rp25 ribu hingga Rp40 ribu per porsi.
Menu yang paling diminati antara lain ketuyung, nila asam manis, ayam panggang, rendang, pais ikan, urap, ikan bakar, serta inovasi baru berupa empal ikan pipih.
Untuk operasional, ia melibatkan tujuh karyawan yang mulai memasak sejak pukul 04.00 hingga 13.00 WIB. Ia juga menyewa tiga lapak berukuran 3 x 3 meter seharga Rp750 ribu per lapak, termasuk biaya kebersihan, keamanan, air, dan listrik.
”Resep masakan ini turun-temurun dari almarhum ibu. Kami hanya berjualan khusus saat Ramadan,” ujarnya.

Di zona kuliner Jalan Yos Sudarso, aktivitas penjualan juga terpantau ramai saat sore hari. Salah satu lapak yang banyak diminati adalah Ririsol milik Riri Karnita.
Riri menjual lebih dari 15 varian produk seperti tahu bakso, tahu isi, risol mayo, dan risol manis dengan harga Rp5.000 hingga Rp9.000 per pcs.
Dalam sehari, penjualan bisa mencapai sekitar 1.500-2.000 potong dengan omzet sekitar Rp10 juta. Namun saat hujan, omzet turun menjadi sekitar Rp6 juta hingga Rp7 juta per hari.
”Kalau hujan pembeli malas keluar, jadi penjualan menurun,” ujarnya.
Riri menyewa dua lapak seharga Rp1,5 juta per unit selama sebulan Ramadan. Ia menilai biaya tersebut masih lebih murah dibandingkan mengikuti event lain yang tarif sewanya bisa mencapai Rp3 juta per minggu.
Selama Ramadan, Riri menutup sementara outletnya di Jalan RA Kartini untuk fokus berjualan di bazar. Ia membuka lapak pukul 15.00 hingga 18.00 WIB, sementara proses produksi dilakukan sejak pukul 03.00 hingga 14.00 WIB dengan melibatkan enam karyawan.
”Semua makanan diolah fresh setiap hari. Jika ada yang tidak habis, kami bagikan ke masjid atau warga sekitar,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Perdagangan, dan Perindustrian Johny Tangkere saat pembukaan bazar awal Ramadan lalu, optimistis Bazar Kuliner Ramadan memberikan dampak ekonomi signifikan bagi pelaku usaha.
”Kami optimistis kegiatan Bazar Ramadan ini mampu memberikan dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat. Selama satu bulan kedepan, proyeksi dari transaksi jual beli masyarakat ditargetkan menghasilkan hingga Rp2 miliar,” kata Johny saat pembukaan Bazar Kuliner Ramadan, Kamis (19/2/2026) lalu.
Selain itu, efek ekonomi tidak langsung, dari sektor parkir dan aktivitas perdagangan di sekitar lokasi diperkirakan mencapai Rp1 miliar.
”Melalui Bazar Ramadan ini juga diproyeksikan memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi sebesar Rp50 juta,” tandasnya. (hgn)