Oleh: Fath Ahmad Arrosyid (Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)

Pendidikan pada hakikatnya tidak hanya bertujuan mengembangkan kecerdasan intelektual peserta didik, tetapi juga membentuk kepribadian, akhlak, dan kemampuan mereka dalam menjalani kehidupan bersama orang lain.
Di lingkungan sekolah maupun madrasah, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai rapor dan kemampuan menjawab soal. Pendidikan juga perlu dilihat dari bagaimana peserta didik bersikap terhadap teman, menghormati guru, menyikapi perbedaan pendapat, serta menyelesaikan persoalan tanpa menyakiti orang lain.
Salah satu karakter yang perlu ditanamkan sejak pendidikan dasar adalah sikap saling menghargai. Sikap ini menjadi fondasi bagi terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan setiap anak.
Siswa yang mampu menghargai orang lain akan lebih mudah bekerja sama, menerima perbedaan, mengendalikan diri, dan membangun hubungan sosial yang sehat.
Penanaman karakter tersebut menjadi semakin penting di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman suku, budaya, bahasa, tradisi, dan latar belakang sosial.
Keragaman merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari. Oleh sebab itu, anak perlu dibiasakan untuk memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk merendahkan orang lain, melainkan bagian dari kehidupan yang harus disikapi dengan bijaksana.
Dalam konteks pendidikan Islam, pembentukan karakter tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama dan sejarah peradabannya. Salah satu mata pelajaran yang memiliki peluang besar untuk mendukung tujuan tersebut adalah Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).
Selama ini, SKI terkadang dipahami sebatas mata pelajaran yang memuat kisah masa lalu, nama tokoh, urutan peristiwa, tempat, dan tahun kejadian. Padahal, apabila dipelajari secara bermakna, SKI dapat menjadi sumber pembelajaran karakter yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Kisah perjuangan Rasulullah saw., kehidupan masyarakat Madinah, peristiwa pembebasan Makkah, dan perkembangan peradaban Islam menyimpan berbagai pelajaran mengenai keadilan, kasih sayang, tanggung jawab, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama.
Dengan demikian, pembelajaran SKI di Madrasah Ibtidaiyah (MI) seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengingat peristiwa sejarah. Lebih jauh, pembelajaran tersebut perlu membantu siswa memahami nilai di balik peristiwa, kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
SKI sebagai Sarana Pendidikan Karakter
Sejarah merupakan rekaman pengalaman manusia pada masa lalu yang dapat menjadi bahan refleksi untuk menghadapi kehidupan masa kini. Melalui sejarah, seseorang dapat mempelajari keberhasilan, kesalahan, perjuangan, dan keputusan yang pernah diambil oleh manusia dalam berbagai situasi.
Dalam pendidikan Islam, sejarah memiliki kedudukan penting karena memberikan gambaran konkret tentang bagaimana nilai-nilai agama dijalankan dalam kehidupan. SKI tidak hanya memperkenalkan perkembangan Islam, tetapi juga membuka kesempatan bagi siswa untuk mengenal keteladanan para tokoh dan memahami konsekuensi dari tindakan manusia.
Pada jenjang MI, pembelajaran semacam ini perlu disesuaikan dengan perkembangan usia anak. Materi sejarah sebaiknya disampaikan melalui cerita yang menarik, bahasa sederhana, ilustrasi yang sesuai, serta pertanyaan yang mendorong siswa berpikir dan merasakan pengalaman tokoh yang dipelajari.
Misalnya, ketika guru menceritakan perjuangan Rasulullah saw. dalam membangun masyarakat Islam, siswa tidak hanya diminta mengingat tempat dan urutan peristiwa. Mereka juga dapat diajak memahami bagaimana sikap sabar, jujur, adil, dan menghormati orang lain membantu membangun kehidupan bersama.
Pendekatan tersebut sejalan dengan pandangan bahwa pendidikan harus mengembangkan pengetahuan sekaligus nilai dan keterampilan sosial. UNESCO dalam Guidelines on Intercultural Education menekankan pentingnya pendidikan yang mendorong pemahaman antarmanusia, penghargaan terhadap keberagaman, kerja sama, dan kemampuan mengelola konflik secara damai.
Prinsip ini menunjukkan bahwa proses belajar perlu memberi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan hidup bersama, bukan hanya menguasai materi pelajaran.
Bagi siswa MI, nilai-nilai tersebut dapat diperkenalkan melalui kisah sejarah yang dekat dengan dunia anak. Ketika memahami bahwa tokoh-tokoh dalam sejarah menghadapi berbagai tantangan dalam membangun hubungan dengan orang lain, siswa dapat diajak menyadari bahwa sikap menghargai merupakan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat.
Keteladanan Rasulullah dalam Menghargai Sesama
Rasulullah merupakan teladan utama dalam pembentukan akhlak bagi umat Islam. Kehidupan beliau memberikan banyak pelajaran mengenai kesantunan, keadilan, kesabaran, kepedulian, dan cara memperlakukan orang lain secara bermartabat.
Salah satu peristiwa yang relevan untuk dijadikan bahan pembelajaran adalah pembangunan kehidupan masyarakat Madinah setelah hijrah. Masyarakat Madinah terdiri atas berbagai kelompok dengan latar belakang dan kepentingan yang tidak selalu sama. Dalam situasi tersebut, kehidupan bersama memerlukan kesepakatan, tanggung jawab, serta pengaturan hubungan antarkelompok.
Peristiwa tersebut dapat digunakan guru untuk menjelaskan bahwa kehidupan bermasyarakat membutuhkan sikap saling menghormati dan kesediaan menjalankan tanggung jawab bersama.
Perbedaan tidak selalu harus berakhir dengan pertentangan. Dengan komunikasi, aturan yang disepakati, dan sikap adil, manusia dapat membangun kehidupan yang lebih tertib.
Pelajaran serupa dapat diambil dari peristiwa Fathu Makkah atau pembebasan Makkah. Peristiwa ini dapat menjadi bahan refleksi tentang pentingnya pengendalian diri ketika seseorang berada dalam posisi yang kuat. Kemenangan tidak semestinya menjadi alasan untuk menyombongkan diri atau merendahkan orang lain.
Guru dapat menghubungkan nilai tersebut dengan kehidupan siswa. Anak yang memperoleh nilai tertinggi, misalnya, tidak seharusnya mengejek teman yang nilainya lebih rendah.
Siswa yang menang dalam perlombaan perlu belajar menerima kemenangan dengan rendah hati, sedangkan siswa yang belum berhasil perlu diberi dukungan untuk mencoba kembali.
Demikian pula, ketika terjadi perselisihan antarteman, siswa dapat dibimbing untuk tidak membalas kesalahan dengan penghinaan. Mereka perlu belajar menyampaikan keberatan secara santun, mendengarkan penjelasan, meminta maaf apabila bersalah, dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk memperbaiki diri.
Keteladanan Rasulullah saw. dalam pembelajaran SKI dengan demikian tidak hanya berfungsi sebagai pengetahuan keagamaan. Kisah-kisah tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi siswa untuk membangun perilaku yang lebih baik dalam lingkungan madrasah, keluarga, dan masyarakat.
Menghargai Perbedaan sebagai Nilai Ajaran Islam
Islam memberikan landasan yang kuat bagi sikap saling menghargai. Salah satu landasan tersebut terdapat dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 13, yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari laki-laki dan perempuan, kemudian dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Kemuliaan manusia di hadapan Allah ditentukan oleh ketakwaannya.
Pesan ayat tersebut mengandung pelajaran penting bahwa perbedaan identitas bukanlah dasar untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, manusia perlu membangun hubungan yang baik dan saling mengenal di tengah keragaman.
Nilai tersebut relevan untuk diterapkan dalam kehidupan siswa MI. Di dalam satu kelas, setiap anak memiliki karakter, kemampuan akademik, kondisi keluarga, minat, dan kebiasaan yang berbeda. Ada siswa yang cepat memahami materi, ada yang membutuhkan penjelasan berulang. Ada yang percaya diri berbicara di depan kelas, ada pula yang masih memerlukan dorongan.
Perbedaan kemampuan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk memberikan julukan yang merendahkan atau mengucilkan teman. Setiap siswa berhak memperoleh kesempatan belajar dan diperlakukan dengan hormat.
Guru SKI dapat menjadikan prinsip saling mengenal dan menghargai sebagai dasar diskusi setelah menyampaikan kisah sejarah. Siswa dapat diminta menyebutkan contoh perbedaan yang mereka temui di kelas, kemudian mendiskusikan cara menyikapinya secara baik.
Penting pula dipahami bahwa menghargai tidak berarti harus menyetujui seluruh pendapat orang lain. Siswa tetap boleh memiliki pendapat yang berbeda, tetapi perlu menyampaikannya tanpa menghina, mengancam, atau mempermalukan orang lain. Dengan cara ini, siswa belajar membedakan antara keteguhan dalam memegang prinsip dan perilaku merendahkan sesama.
Kementerian Agama melalui buku Integrasi Moderasi Beragama dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam menyediakan rujukan bagi guru untuk mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam proses pembelajaran. Sumber ini dapat menjadi pengayaan dalam merancang kegiatan pendidikan yang mendorong sikap adil, terbuka, dan menghormati perbedaan.
Dengan demikian, pembelajaran SKI memiliki peluang untuk memperkuat pemahaman siswa bahwa penghormatan terhadap sesama bukan sekadar aturan sopan santun, melainkan bagian dari pengamalan nilai-nilai Islam.
Peran Guru dalam Menghubungkan Sejarah dengan Kehidupan Siswa
Keberhasilan pembelajaran SKI dalam membentuk karakter sangat dipengaruhi oleh cara guru mengelola proses belajar. Materi sejarah yang kaya akan nilai belum tentu menghasilkan perubahan perilaku apabila disampaikan hanya melalui ceramah dan hafalan.
Guru perlu berperan sebagai penghubung antara peristiwa masa lalu dan pengalaman nyata siswa. Artinya, setelah menjelaskan sebuah kisah, guru perlu mengajak siswa memikirkan makna peristiwa tersebut dan mempertimbangkan bagaimana nilai-nilainya dapat diterapkan dalam kehidupan mereka.
Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah diskusi berbasis cerita. Setelah menjelaskan suatu peristiwa sejarah, guru dapat mengajukan pertanyaan seperti, “Apa yang dapat kita pelajari dari sikap tokoh tersebut?” atau “Bagaimana jika kita menghadapi keadaan serupa di kelas?”
Pertanyaan tersebut membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir sekaligus mempertimbangkan perasaan dan kepentingan orang lain. Guru juga dapat menyajikan contoh persoalan sederhana, seperti seorang siswa yang pendapatnya tidak didengarkan saat diskusi kelompok atau seorang anak yang diejek karena belum mampu menyelesaikan tugas.
Siswa kemudian diminta memberikan tanggapan dan menawarkan cara penyelesaian yang adil. Melalui kegiatan tersebut, mereka belajar bahwa sikap saling menghargai harus diwujudkan melalui tindakan, bukan hanya diucapkan.
Metode bermain peran juga dapat diterapkan. Siswa diberi kesempatan memerankan situasi ketika dua teman memiliki pendapat berbeda, ketika seseorang melakukan kesalahan, atau ketika anggota kelompok tidak memperoleh kesempatan yang sama untuk berbicara. Setelah kegiatan, guru mengajak siswa mengevaluasi perilaku yang ditampilkan dan mendiskusikan pilihan tindakan yang lebih tepat.
Pendekatan ini perlu disesuaikan dengan usia, kemampuan, dan kondisi kelas. Tujuannya bukan membuat siswa menghafal jawaban moral tertentu, melainkan membantu mereka memahami alasan suatu tindakan dianggap baik serta melatih kemampuan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Kebijakan kurikulum madrasah juga memberi ruang bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik. Kementerian Agama menjelaskan bahwa Keputusan Menteri Agama Nomor 450 Tahun 2024 menjadi pedoman implementasi kurikulum madrasah dan mendorong guru untuk berinovasi serta menciptakan pembelajaran yang menyenangkan.
Pedoman ini kemudian mengalami perubahan melalui KMA Nomor 1503 Tahun 2025. Karena itu, pengembangan pembelajaran SKI perlu diselaraskan dengan ketentuan kurikulum yang berlaku di madrasah masing-masing.
Dengan kreativitas dan perencanaan yang baik, guru dapat menjadikan pembelajaran sejarah lebih bermakna sekaligus mendukung pembentukan karakter siswa.
Pembiasaan Sikap Saling Menghargai di Lingkungan Madrasah
Pendidikan karakter tidak cukup dilakukan melalui penjelasan materi. Nilai-nilai yang dipelajari perlu diperkuat melalui pembiasaan dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Di lingkungan madrasah, sikap saling menghargai dapat dilatih melalui kebiasaan mendengarkan ketika orang lain berbicara, meminta izin sebelum menggunakan barang milik teman, tidak memotong pembicaraan, menerima pembagian tugas kelompok, serta menyampaikan kritik dengan bahasa yang santun.
Guru juga perlu memperhatikan perilaku yang tampak sederhana tetapi dapat memengaruhi hubungan sosial siswa, seperti kebiasaan mengejek nama orang tua, menertawakan kesalahan teman, memberikan julukan yang menyakitkan, atau mengucilkan siswa yang dianggap berbeda.
Apabila perilaku tersebut muncul, guru sebaiknya tidak hanya memberikan teguran. Siswa perlu dibimbing untuk memahami dampak tindakannya, menyadari perasaan orang yang dirugikan, dan melakukan perbaikan. Dengan demikian, penyelesaian masalah menjadi kesempatan belajar untuk mengembangkan empati dan tanggung jawab.
Keteladanan guru memiliki peran yang sangat penting. Guru yang meminta siswa menghormati pendapat orang lain harus bersedia mendengarkan pendapat siswa. Guru yang melarang penghinaan juga harus menghindari kata-kata yang mempermalukan anak di depan teman-temannya.
Konsistensi antara ucapan dan tindakan akan membuat pesan pembelajaran lebih mudah dipahami. Sebaliknya, apabila siswa menyaksikan perilaku yang bertentangan dengan nilai yang diajarkan, mereka dapat mengalami kesulitan memahami pentingnya nilai tersebut.
Budaya saling menghargai juga perlu didukung oleh aturan kelas yang disusun dan dijalankan secara adil. Siswa dapat dilibatkan dalam menyepakati aturan sederhana, seperti tidak mengejek, memberikan kesempatan berbicara, membantu teman yang kesulitan, dan menyelesaikan perselisihan melalui dialog.
Kegiatan pembiasaan ini tidak harus selalu berupa program besar. Hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa tentang bagaimana nilai-nilai moral diterapkan.
Sinergi Madrasah dan Keluarga dalam Pembentukan Karakter
Pembentukan sikap saling menghargai tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada guru SKI. Karakter anak berkembang melalui interaksi di berbagai lingkungan, terutama keluarga, madrasah, dan masyarakat.
Oleh karena itu, orang tua perlu dilibatkan dalam upaya memperkuat nilai-nilai yang dipelajari anak di madrasah. Orang tua dapat membiasakan komunikasi yang santun di rumah, mengajarkan anak mendengarkan ketika anggota keluarga berbicara, serta memberikan contoh dalam menyelesaikan perbedaan pendapat tanpa pertengkaran yang merendahkan.
Ketika anak mengalami konflik dengan teman, orang tua dapat membantu mereka memahami persoalan dari berbagai sudut pandang. Anak perlu didorong untuk menceritakan kejadian secara jujur, mempertimbangkan perasaan pihak lain, dan mencari penyelesaian yang tidak merugikan orang lain.
Madrasah juga dapat membangun komunikasi dengan keluarga mengenai pembiasaan karakter yang sedang dikembangkan. Dengan komunikasi yang baik, orang tua memahami nilai-nilai yang ingin ditanamkan guru dan dapat memperkuatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Kerja sama tersebut bukan berarti seluruh tanggung jawab pendidikan harus diserahkan kepada keluarga. Sebaliknya, madrasah dan orang tua perlu saling mendukung sesuai peran masing-masing. Lingkungan yang konsisten akan membantu anak memahami bahwa menghormati sesama merupakan perilaku yang perlu diterapkan di mana pun mereka berada.
Dalam jangka panjang, sinergi tersebut dapat membantu menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga memperhatikan perkembangan sosial dan moral peserta didik.
Mengukur Keberhasilan Pembelajaran SKI
Jika pembelajaran SKI diarahkan untuk membentuk sikap saling menghargai, keberhasilannya perlu dilihat melalui lebih dari sekadar hasil tes tertulis. Kemampuan siswa mengingat materi sejarah tetap penting, tetapi guru juga perlu memperhatikan bagaimana mereka menerapkan nilai-nilai yang dipelajari.
Guru dapat melakukan pengamatan sederhana terhadap perilaku siswa selama kegiatan pembelajaran. Misalnya, apakah siswa bersedia mendengarkan pendapat teman, mampu bekerja sama dalam kelompok, menggunakan bahasa yang santun, atau menunjukkan kesediaan meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
Refleksi singkat setelah pembelajaran juga dapat membantu. Siswa dapat diminta menjelaskan satu nilai yang mereka pelajari dan satu tindakan nyata yang akan mereka lakukan. Pada pertemuan berikutnya, guru dapat mengajak siswa menceritakan pengalaman ketika mencoba menerapkan nilai tersebut.
Penilaian semacam ini sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan, bukan untuk memberikan cap bahwa seorang anak baik atau buruk. Perkembangan karakter memerlukan waktu dan setiap siswa memiliki kebutuhan pendampingan yang berbeda.
Guru juga perlu menghindari penilaian berdasarkan satu kejadian saja. Seorang siswa yang sesekali berselisih dengan temannya belum tentu tidak memahami nilai menghargai. Yang lebih penting adalah bagaimana siswa dibimbing untuk mengenali kesalahan, memperbaiki perilaku, dan menunjukkan perkembangan dari waktu ke waktu.
Dengan pendekatan tersebut, penilaian pembelajaran SKI dapat memberikan gambaran yang lebih utuh tentang perkembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan sosial siswa.
Penutup
Sejarah Kebudayaan Islam memiliki potensi besar untuk menjadi sarana pembentukan sikap saling menghargai pada siswa Madrasah Ibtidaiyah. Melalui kisah perjuangan Rasulullah saw. dan perkembangan peradaban Islam, siswa dapat belajar mengenai keadilan, kasih sayang, persaudaraan, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap sesama.
Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang secara optimal apabila pembelajaran hanya berorientasi pada hafalan. Guru perlu menghubungkan peristiwa sejarah dengan pengalaman nyata siswa, menggunakan metode yang melibatkan mereka secara aktif, serta membangun pembiasaan yang konsisten di lingkungan madrasah.
Sikap saling menghargai juga perlu diperkuat melalui keteladanan guru dan dukungan keluarga. Ketika anak memperoleh contoh yang baik, kesempatan untuk mempraktikkan nilai, dan pendampingan saat menghadapi konflik, mereka memiliki ruang yang lebih luas untuk mengembangkan perilaku positif.
Pada akhirnya, keberhasilan pembelajaran SKI bukan hanya terletak pada seberapa banyak peristiwa sejarah yang mampu diingat siswa, melainkan juga pada sejauh mana nilai-nilai sejarah tersebut tercermin dalam perilaku mereka. Sejarah akan menjadi lebih bermakna ketika pelajarannya hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Madrasah perlu terus menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menumbuhkan akhlak dan kepedulian sosial. Sebab, generasi yang memahami sejarah sekaligus mampu menghargai sesama merupakan bagian penting dari harapan untuk membangun kehidupan masyarakat yang damai, adil, dan beradab.
Referensi
- Al-Qur’an. Surah Al-Hujurat ayat 13. Rujukan mengenai keberagaman manusia dan prinsip saling mengenal.
- Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Keputusan Menteri Agama Nomor 183 Tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.
- Kementerian Agama Republik Indonesia. (2021). Integrasi Moderasi Beragama dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam. Direktorat Pendidikan Agama Islam, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Buku digital resmi Kementerian Agama.
- Kementerian Agama Republik Indonesia. (2024). Keputusan Menteri Agama Nomor 450 Tahun 2024 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada Raudhatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan Madrasah Aliyah Kejuruan. Perlu dibaca bersama perubahan yang berlaku, termasuk KMA Nomor 1503 Tahun 2025.
- UNESCO. (2006). UNESCO Guidelines on Intercultural Education. Paris: United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization.