• Sebanyak 945 titik panas (hotspot) terdeteksi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam 24 jam terakhir hingga Kamis, 8 Oktober 2026, pukul 16.00 WIB.
• Data tersebut tercantum dalam laporan rekapitulasi hotspot BMKG dan BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur.
• Tiga kecamatan dengan jumlah hotspot terbanyak adalah Seranau (294 titik), Pulau Hanaut (243 titik), dan Mentaya Hilir Utara (144 titik), yang secara total menyumbang 72% dari deteksi.
• Dari keseluruhan hotspot, 900 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah dan 12 titik tingkat kepercayaan tinggi, yang menurut Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim Rihel, tetap memerlukan verifikasi lapangan.
• Angka deteksi hotspot yang tinggi mengindikasikan tekanan tinggi pada peta kebakaran di Kotim, meskipun bukan berarti semua lokasi telah dipastikan terbakar.
SAMPIT, Kanalindependen.id – Sebanyak 945 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur dalam akumulasi 24 jam terakhir hingga Kamis (8/10/2026) pukul 16.00 WIB.
Data tersebut tercantum dalam laporan rekapitulasi hotspot BMKG dan BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur. Sebaran titik panas paling banyak berada di Kecamatan Seranau, Pulau Hanaut, dan Mentaya Hilir Utara.
“Seranau mencatat jumlah tertinggi dengan 294 hotspot. Rinciannya terdiri dari empat titik dengan tingkat kepercayaan rendah, 285 menengah, dan lima titik dengan tingkat kepercayaan tinggi,” ungkap Wakil Koordinator III Satgas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) adalah Rihel.
Pulau Hanaut berada di urutan berikutnya dengan 243 hotspot. Sebanyak enam titik masuk kategori rendah, 233 menengah, dan empat titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi.
Sementara Mentaya Hilir Utara mencatat 144 hotspot, terdiri dari sembilan titik rendah, 132 menengah, dan tiga titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Tiga kecamatan tersebut menyumbang 681 hotspot atau sekitar 72 persen dari total yang terdeteksi dalam periode tersebut.
Di wilayah lain, Teluk Sampit mencatat 41 hotspot dan Mentaya Hulu 40 titik. Mentawa Baru Ketapang tercatat 31 titik, Antang Kalang 29 titik, sedangkan Cempaga mencapai 26 titik.
Sebaran berikutnya tercatat di Bukit Santuai sebanyak 18 titik, Kotabesi 15 titik, Mentaya Hilir Selatan 14 titik, Telaga Antang 11 titik, serta Baamang 11 titik.
Parenggean dan Telawang masing-masing tercatat 10 hotspot. Cempaga Hulu lima titik dan Tualan Hulu tiga titik.
Jika dilihat berdasarkan tingkat kepercayaan, dari total 945 hotspot terdapat 33 titik kategori rendah, 900 titik kategori menengah, dan 12 titik kategori tinggi.
“Artinya, sebagian besar deteksi berada pada tingkat kepercayaan menengah. Data hotspot merupakan hasil deteksi satelit sehingga keberadaannya tetap perlu diverifikasi di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya,” ungkap RIhel.
Laporan BMKG dan BPBD tersebut mencantumkan rincian koordinat, waktu deteksi, satelit yang menangkap titik panas, serta desa atau kelurahan terkait. Satelit yang digunakan dalam pemantauan antara lain SNPP dan NOAA-20.
Konsentrasi hotspot di Seranau dan Pulau Hanaut menjadi bagian yang perlu diperhatikan karena kedua wilayah tersebut berada di kawasan yang dalam beberapa hari terakhir juga menjadi bagian dari sebaran titik panas di Kotawaringin Timur.
Dengan 945 hotspot terdeteksi hanya dalam periode 24 jam, peta kebakaran di Kotim masih menunjukkan tekanan tinggi.
Angka tersebut bukan berarti 945 lokasi telah dipastikan terbakar. Namun, kepadatan deteksi hotspot memberikan gambaran bahwa pemantauan dan verifikasi lapangan masih menjadi pekerjaan penting, terutama di wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi. (***)