Intinya sih...

• Video pengaduan seorang sopir ambulans bernama Ruspandi yang mengeluhkan tidak mendapat prioritas pengisian BBM di SPBU Samuda, Kotawaringin Timur, viral pada Jumat (15/5/2026).
• Ruspandi menyoroti dugaan monopoli antrean oleh oknum pelangsir biosolar bersubsidi serta minimnya pengawasan dari Pertamina dan instansi terkait.
• Pengawas SPBU Samuda, Hasbi, membantah aduan tersebut pada Sabtu (16/5/2026), mengklaim prioritas selalu diberikan dan merilis rekaman CCTV yang disebutnya menunjukkan ambulans pergi dari posisi terdepan.
• Namun, analisis rekaman CCTV secara utuh justru menunjukkan sebuah kendaraan memotong antrean ambulans pada pukul 05.48-05.51 WIB tanpa intervensi petugas, sehingga Ruspandi meninggalkan SPBU.
• Menanggapi polemik tersebut, Ketua Komisi II DPRD Kotawaringin Timur, Akhyannoor, menjadwalkan inspeksi mendadak (sidak) ke SPBU Samuda pada hari Senin pukul 08.00 untuk memverifikasi dugaan praktik pelangsiran.

SAMPIT, kanalindependen.id – Jumat pagi (15/5/2026), sebuah video pengaduan menyebar cepat melintasi linimasa media sosial.

Rekaman video itu tak menampilkan wajah pemilik suara. Hanya menangkap hamparan aspal dari balik kaca depan.

Nada kecewa terdengar begitu jelas dari dalam mobil yang terus melaju. Dia baru saja meninggalkan area SPBU Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur, membawa tangki bahan bakar yang nyaris kosong.

Belakangan, pria itu diketahui bernama Ruspandi, seorang sopir ambulans yang harus menelan pil pahit akibat rapuhnya tata kelola distribusi bahan bakar.

Ruspandi menceritakan detail kronologis kejadian yang baru saja dialaminya. Sebelum pukul 06.00, ia merapat ke SPBU membawa beban kedaruratan.

Kendaraan lain sudah menumpuk menanti pagar SPBU dibuka. Ruspandi mengaku mengenali oknum pelangsir yang justru mengambil alih antrean.

Ironisnya, saat meminta hak prioritas, Ruspandi malah mendapat tudingan dia ikut melangsir.

”Ambulans ini untuk menjemput orang sakit, bukan untuk melangsir. Saya sakit hati, enggak terima,” ujarnya dalam rekaman tersebut.

Ruspandi menyoroti monopoli antrean di SPBU itu yang seolah sudah menjadi tradisi.

Menurutnya, ada oknum yang beroperasi menggunakan delapan, sepuluh, hingga tiga belas kendaraan sekaligus demi menyedot kuota biosolar bersubsidi. Semua itu terjadi tanpa tindakan pencegahan.

”Cuma sampai saat ini enggak ada penegakan. Enggak ada pemantauan dan pengawasan, baik pihak Pertamina atau pihak-pihak instansi terkait. Ini sebenarnya pembiaran,” tegasnya.

SPBU Membantah, Lalu Merilis Rekaman

Pernyataan sang sopir buru-buru ditepis pihak SPBU Samuda. Hasbi, selaku pengawas SPBU, tampil ke publik pada Sabtu (16/5/2026), menyampaikan pembelaan.

Dia mengklaim hak istimewa bagi kendaraan darurat merupakan prosedur tetap yang selalu dijamin .

”Dari dahulu kami sudah berkomitmen bahwa ambulans dan mobil pemadam kebakaran tidak perlu ikut antre. Jika datang untuk mengisi BBM, kendaraan tersebut dapat langsung masuk dan akan segera kami layani,” ujarnya.

Untuk memperkuat bantahan tersebut, sebuah potongan rekaman kamera pengawas (CCTV) berdurasi lima menit menyebar.

Hasbi meyakini visual itu akan mematahkan keluhan Ruspandi. Argumennya, ambulans sudah berada di posisi terdepan, namun sang sopir memilih pergi.

”Ada rekaman CCTV yang memperlihatkan ambulans sudah berada di depan antrean. Namun kendaraan tersebut justru pergi. Yang kami sesalkan adalah munculnya opini yang seolah-olah SPBU tidak memberikan prioritas,” katanya.

Ironi yang Tertangkap Kamera

Pembelaan pengelola berbalik arah ketika potongan visual itu dibedah secara utuh.

CCTV tersebut memang merekam posisi ambulans Ruspandi di garis depan jalur kiri dari dua pintu masuk yang tersedia.

Namun, apa yang terekam pada menit-menit berikutnya justru meruntuhkan klaim prioritas tersebut.

Jarum jam di layar menunjukkan pukul 05.43 ketika pagar mulai digeser bagi kendaraan roda dua.

Menyusul pukul 05.48, gerbang untuk roda empat dibuka. Ambulans perlahan bergerak maju.

Tepat pada detik terpenting itu, kendaraan paling depan dari jalur kanan bergerak lebih cepat dan berhasil merebut akses masuk. Ambulans tertahan tepat di mulut pintu.

Tidak ada satu pun petugas SPBU yang melangkah maju untuk memotong laju mobil dari jalur kanan.

Pukul 05.49, ambulans masih mematung. Ruspandi turun dari kemudi.

Dia melangkah ke area pengisian, menunjuk ke arah barisan mobil yang memotong jalurnya, lalu terlihat berbincang dengan seseorang.

Satu menit berlalu, ia kembali ke sisi ambulans. Gestur tubuhnya merekam keputusasaan saat ia terlihat seperti mengangkat ponsel dan mendokumentasikan keadaan sekitar.

Pukul 05.51, Ruspandi masuk kembali ke kabin dan menginjak pedal gas, meninggalkan SPBU.

Ujian Pembuktian Melalui Sidak

Polemik tata kelola BBM bersubsidi ini memicu reaksi legislatif. Ketua Komisi II DPRD Kotawaringin Timur, Akhyannoor, memastikan pihaknya akan turun langsung memeriksa lokasi.

”Kita sidak hari Senin jam 08.00 aja biar jelas ambulans dan SPBU Samuda,” ujarnya singkat.

Inspeksi mendadak tersebut adalah ujian nyata untuk memverifikasi kesaksian Ruspandi tentang dugaan praktik oknum pelangsir yang berani mengerahkan belasan armada sekaligus. (ign)