✨ Intinya sih...

• Hujan mulai mengguyur beberapa wilayah Kotawaringin Timur (Kotim) dalam dua hari terakhir, namun BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotim menegaskan hal ini belum menandakan berakhirnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
• Kepala BMKG Mulyono Leo Nardo menyatakan Kotim kini memasuki awal transisi dari musim kemarau ke musim hujan, meskipun secara umum wilayah tersebut masih dilanda kemarau (per Senin, 28 September 2026).
• BMKG memperkirakan awal musim hujan tidak terjadi serentak: wilayah utara Kotim diprakirakan pertengahan Oktober 2026, Sampit dan sekitarnya awal November 2026, dan wilayah selatan akhir November 2026.
• Hingga akhir September 2026, peluang pertumbuhan awan hujan di Kotim diprediksi 50-70%, dengan potensi di atas 70% pada 27 September 2026.
• Hujan yang turun saat ini hanya mengurangi kondisi kering permukaan lahan dan belum cukup untuk meredakan karhutla secara menyeluruh; diperlukan hujan dengan intensitas lebat dan durasi yang lebih lama.

SAMPIT, Kanalindependen.id  – Hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam dua hari terakhir. Namun, turunnya hujan belum menjadi tanda bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut akan segera berakhir.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotim Mulyono Leo Nardo mengatakan, hujan yang mulai turun menjadi salah satu tanda Kotim memasuki fase awal transisi dari musim kemarau menuju musim hujan.

Meski demikian, secara umum Kotim masih berada dalam musim kemarau.

“Bisa dikatakan kita memasuki awal transisi dari musim kemarau ke hujan, tapi secara umum kita masih musim kemarau,” kata Mulyono, Senin (28/9/2026).

BMKG memperkirakan awal musim hujan tidak terjadi serentak di seluruh wilayah Kotim. Bagian utara diprakirakan lebih dahulu memasuki musim hujan sekitar pertengahan Oktober 2026.

Sementara Sampit dan sekitarnya diperkirakan memasuki awal musim hujan pada awal November. Adapun wilayah selatan diprakirakan baru memasuki awal musim hujan pada akhir November.

Hingga akhir September, peluang pertumbuhan awan hujan di Kotim masih cukup tinggi. BMKG memperkirakan peluang tersebut berada di kisaran 50–70 persen, bahkan pada 27 September potensinya diprakirakan di atas 70 persen.

“Untuk besok hingga akhir bulan ini ada potensi pertumbuhan awan hujan sekitar 50–70 persen di wilayah Kotim. Besok 27 September potensi di atas 70 persen,” jelasnya.

Hujan Belum Jadi Jaminan Karhutla Reda

Di tengah masih berlangsungnya karhutla di sejumlah wilayah Kotim, hujan yang turun memang membantu mengurangi kondisi kering di permukaan lahan.

Namun, Mulyono menegaskan hujan tersebut belum dapat disebut mampu meredakan karhutla secara menyeluruh. Api, terutama pada lahan yang kering, membutuhkan hujan dengan intensitas lebih tinggi dan durasi yang cukup lama.

“Untuk meredakan masih belum bisa dikatakan demikian, tepatnya mengurangi. Hujan dengan intensitas lebat dan durasinya lama yang bisa meredakan karhutla,” pungkasnya.

Dengan demikian, hujan yang mulai mengguyur Kotim belum menjadi alasan untuk menganggap ancaman karhutla telah berakhir. Wilayah Kotim masih berada dalam masa kemarau dan baru memasuki fase peralihan menuju musim hujan.(***)