✨ Intinya sih...

• Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memulai uji coba penutupan Jalan Tjilik Riwut di kawasan ujung landasan pacu Bandara Haji Asan Sampit pada Kamis, 8 Oktober 2026.
• Uji coba berlangsung selama tiga hari, setiap hari pukul 08.30-11.00 WIB, sebagai tahap awal penutupan permanen untuk mendukung pengembangan dan pengamanan bandara.
• Pengalihan arus lalu lintas utama diarahkan melalui Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto, yang disiapkan sebagai jalur pengganti, sementara Jalan Bengkirai menjadi alternatif untuk kendaraan roda dua.
• Kepala Dinas Perhubungan Kotim Raihansyah menegaskan penutupan jalan ini adalah bagian dari master plan pengembangan Bandara Haji Asan yang berkelanjutan.
• Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto saat ini dalam tahap pembenahan agregat dan akan dilanjutkan pengaspalan di titik-titik mendesak, ditargetkan November atau akhir tahun ini setelah APBD Perubahan disahkan.

SAMPIT, kanalindependen.id – Uji coba penutupan Jalan Tjilik Riwut di kawasan ujung landasan pacu Bandara Haji Asan Sampit mulai dilakukan Kamis (8/10/2026).

Pengalihan arus lalu lintas ini menjadi tahap awal sebelum ruas jalan tersebut ditutup permanen untuk mendukung pengembangan dan pengamanan kawasan bandara, dengan mengalihkan Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto sebagai jalur utama pengganti.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kotawaringin Timur (Kotim) Raihansyah mengatakan, simulasi uji coba  dilakukan untuk memastikan kesiapan pengalihan lalu lintas sebelum penutupan diberlakukan secara permanen.

Pemerintah daerah, memahami perubahan akses itu akan berdampak terhadap masyarakat yang selama ini menggunakan Jalan Tjilik Riwut, terutama pengguna rute Sampit–Palangka Raya maupun sebaliknya.

”Atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan kepada masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur atas penutupan jalan di sekitar runway Bandara Haji Asan Sampit, terutama jalan menuju ke arah Kota Palangka Raya ataupun sebaliknya,” kata Raihansyah.

Uji coba dilakukan selama tiga hari, mulai pukul 08.30 hingga 11.00 WIB setiap harinya. Hal itu dilakukan untuk membiasakan pengendara melewati jalur pengganti melewati Jalan Jaksa Agung R Soeprapto.

”Jadi, kami coba mulai hari ini, dari pukul 08.30 sampai pukul 11.00 setiap harinya, selama tiga hari. Setiap hari akan kami evaluasi,” ujarnya.

Evaluasi mencakup titik-titik yang masih memiliki kekurangan, termasuk kebutuhan rambu dan hal lain yang berkaitan dengan pengalihan arus.

”Setiap hari akan kami adakan evaluasi. Di mana titik kekurangannya, rambunya, ataupun apa pun yang berkaitan dengan kekurangan ini. Itu akan menjadi bahan keputusan kami untuk melakukan penutupan total,” jelas Raihansyah.

Selama masa uji coba, masyarakat diminta berhati-hati karena rambu-rambu di jalur pengalihan belum seluruhnya terpasang. Dishub tetap menempatkan petugas di sejumlah titik untuk membantu pengguna jalan.

”Kami mengimbau masyarakat yang akan melintas di jalan ini agar lebih berhati-hati karena belum terpasang rambu lalu lintas. Namun, kami tetap menempatkan petugas di titik-titik jalan yang dilalui akibat penutupan ini,” katanya.

Berkaitan dengan Pengembangan Bandara

Raihansyah menegaskan, penutupan Jalan Tjilik Riwut bukan pengalihan sementara akibat pekerjaan proyek. Ruas tersebut masuk dalam kawasan yang dipersiapkan untuk pengembangan Bandara Haji Asan.

”Perlu dipahami, ini dalam rangka melakukan pembangunan berkelanjutan. Rencana ini bukan rencana pada tahun ini saja, tetapi master plan yang sudah berjalan sejak lama,” ujarnya.

Pemkab Kotim lanjut Raihansyah, memiliki master plan bandara sekaligus master plan pengembangan Kota Sampit dan Kabupaten Kotim yang telah berjalan dari pemerintahan sebelumnya.

”Jadi, kita punya master plan bandara dan juga master plan pengembangan Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, secara berkelanjutan dari pemimpin-pemimpin sebelumnya,” kata Raihansyah.

Saat ini, pembangunan pagar di kawasan bandara juga telah berjalan setelah Kotim mendapatkan alokasi anggaran APBN 2026 untuk pemagaran.

”Kita lihat, pada posisi sekarang sudah ada pemagaran. Alhamdulillah, pada tahun 2026 ini kita mendapat alokasi anggaran dari APBN untuk pemagaran bandara,” ujarnya.

Pekerjaan pemagaran tersebut akan dilanjutkan dengan pembangunan fondasi yang membutuhkan pemotongan bagian jalan.

”Rencana Senin depan, kami akan lakukan cutting jalan untuk melanjutkan pembangunan fondasi pagar,” katanya.

Raihansyah mengatakan pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk pengembangan Bandara Haji Asan, termasuk peluang perpanjangan runway pada tahun berikutnya.

”Kami terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan. Mudah-mudahan tahun depan akan ada perpanjangan runway di Bandara Haji Asan Sampit,” ujarnya.

Raihansyah menjelaskan, kebutuhan pengembangan tersebut semakin penting karena Bandara Haji Asan sudah melayani pesawat berbadan besar. Sejumlah aspek teknis juga masih menjadi perhatian, termasuk obstacle dan runway end safety area (RESA).

”Sekarang kita sudah tahu bahwa sudah ada pesawat berbadan besar yang beroperasi di Bandara Haji Asan Sampit. Tentunya, kemarin ada beberapa catatan dan evaluasi kami, termasuk obstacle-obstacle yang ada di bandara, termasuk juga RESA,” jelasnya.

Raihansyah berharap pengembangan dan pengamanan runway dapat meningkatkan fungsi bandara sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi Kotim.

”Kalau ini sudah kita perpanjang dan kita amankan, insyaallah ke depannya bandara ini akan lebih maju. Efek  luar biasa terhadap perekonomian Kabupaten Kotawaringin Timur,” katanya.

Jalan Jaksa Jadi Jalur Utama Pengganti

Sebagai konsekuensi penutupan Jalan Tjilik Riwut, pemerintah menyiapkan Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto sebagai jalur pengganti.

Raihansyah mengatakan jalan tersebut mulai dibenahi dan difungsikan untuk mendukung pengalihan arus.

”Sekarang kita coba fungsikan, sudah muncul warung-warung kecil,” ujarnya.

Menurut Raihansyah, munculnya aktivitas perdagangan di sepanjang Jalan Jaksa menjadi salah satu dampak dari mulai berfungsinya jalur tersebut.

”Ini juga akan menambah perekonomian kita. Walaupun jarak tempuh akan lebih jauh, kami menyiapkan alternatif jalan di Jalan Bengkirai untuk kendaraan roda dua,” katanya.

Selain menjadi jalur pengganti, Jalan Jaksa diproyeksikan memiliki konektivitas yang lebih luas. Jalur tersebut nantinya akan terhubung dengan akses menuju Desa Kandan.

”Untuk diketahui juga, ke depannya Jalan Jaksa ini terkoneksi dengan jalan menuju Desa Kandan. Ini lurus, nanti akan menuju Desa Kandan,” ujarnya.

Pengembangan tersebut, lanjut Raihansyah, merupakan bagian dari program pemerintah daerah untuk membentuk konektivitas dari kawasan Jalan Tjilik Riwut menuju Kandan hingga Jembatan Bajarum.

”Sesuai dengan program Bapak Bupati, ini akan terus ditingkatkan sehingga arus jalan dari Jalan Tjilik Riwut sampai Jalan Jaksa, sampai dengan Kandan, langsung menuju Jembatan Bajarum,” katanya.

Jalur menuju Kandan juga direncanakan menjadi kawasan penataan UMKM. Pemerintah daerah akan mengarahkan aktivitas perdagangan buah di sepanjang jalur tersebut.

”Di sana, rencananya di sepanjang jalan menuju Kandan akan ada UMKM, terutama orang-orang yang menjual buah nanas bandara, karena nanas bandara ini sudah terkenal sampai luar daerah,” ujarnya.

Selain nanas, pedagang buah lainnya juga akan ditata.

”Ini juga akan kami tata nantinya di sepanjang jalan menuju Desa Kandan tersebut. Untuk yang menjual nanas ataupun buah-buahan lainnya, seperti durian dan lain sebagainya, nanti akan kami tata di sana,” kata Raihansyah.

Kendaraan Besar Tetap Lewat Jalur Utama

Dishub juga menyiapkan rekayasa lalu lintas berdasarkan jenis kendaraan. Raihansyah mengatakan, jalur menuju Kandan nantinya diarahkan bagi kendaraan operasional berukuran kecil.

”Nanti juga akan kami pilah. Untuk jalan menuju Desa Kandan, yang tembus Kandan, itu adalah mobil-mobil operasional seperti mobil kecil, misalnya Avanza,” jelasnya.

Sementara kendaraan berukuran besar tetap menggunakan jalur utama melalui jaringan Jalan Tjilik Riwut, Lingkar Utara, Lingkar Selatan hingga arah Bagendang.

”Untuk mobil-mobil besar, akan melintas seperti biasa: Jalan Cilik Riwut langsung menuju Lingkar Utara, sampai dengan Lingkar Selatan, sampai ke arah Bagendang,” ujarnya.

Rekayasa tersebut disiapkan agar perubahan akses dapat berjalan lebih teratur setelah penutupan permanen diberlakukan.

”Kami coba ke depannya rekayasanya seperti itu,” kata Raihansyah.

Ia kembali meminta masyarakat memahami perubahan tersebut sebagai bagian dari rencana pembangunan jangka panjang.

”Jadi, kami mohon maaf kepada masyarakat. Jangan berpikir bahwa ini untuk kepentingan sesaat, tetapi untuk kepentingan Kabupaten Kotawaringin Timur dalam jangka panjang,” tegasnya.

Raihansyah mengatakan manfaat pengembangan tersebut mungkin belum dirasakan langsung oleh generasi sekarang.

”Tidak harus kita pada saat ini yang menikmati. Siapa tahu nanti anak atau cucu kita yang akan menikmati pengembangan Kabupaten Kotawaringin Timur,” ujarnya.

Raihansyah berharap pengembangan bandara dan perubahan jaringan jalan tersebut dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi daerah.

”Kami menginginkan penutupan jalan dan pengembangan bandara ini juga diikuti dengan perekonomian Kabupaten Kotawaringin Timur yang semakin meningkat,” harapnya.

Jalan Jaksa Diperbaiki Bertahap

Sementara itu, Kepala DSDABMBKPRKP Kotim Mentana Dhinar Tistama menjelaskan kesiapan fisik Jalan Jaksa sebagai jalur pengganti.

Mentana mengatakan, sesuai instruksi Bupati Kotim, pihaknya telah memfungsikan Jalan Jaksa untuk mendukung perubahan akses tersebut.

”Jadi, saat ini sudah dilakukan uji coba penutupan Jalan Tjilik Riwut terkait dengan perluasan bandara. Kami dari dinas, sesuai instruksi Pak Bupati, saat ini sudah memfungsikan Jalan Jaksa,” kata Mentana.

Pemeliharaan awal dilakukan dengan agregat pada bagian jalan yang membutuhkan peningkatan.

”Kemarin sudah dilakukan pemeliharaan dengan agregat sepanjang kurang lebih 800 sampai 900 meter,” ujarnya.

Tahap berikutnya adalah pengaspalan pada titik-titik yang dinilai paling mendesak. Saat ini proses pengadaan barang dan jasa sedang berjalan.

”Proyeksinya nanti kami akan lanjutkan dengan pengaspalan. Saat ini sedang proses pengadaan barang dan jasa. Kontraknya nanti menunggu pengesahan APBD Perubahan. Mudah-mudahan pada November atau akhir tahun ini sudah bisa diaspal,” jelas Mentana.

Pengaspalan tidak dilakukan terhadap seluruh ruas Jalan Jaksa karena sebagian badan jalan masih dalam kondisi baik. Pemerintah akan memprioritaskan titik yang benar-benar membutuhkan penanganan.

”Pengaspalan tidak ddilakukaan total sepanjang Jalan Jaksa, tetapi spot-spot saja. Karena sebagian jalan kondisinya masih bagus. Pemda juga memiliki keterbatasan anggaran, jadi harus dipilih yang memang benar-benar urgent untuk  di aspal,” katanya.

Secara keseluruhan, bagian yang membutuhkan peningkatan berada pada kisaran 900 meter. Bagian yang sudah ditangani dengan agregat mencapai sekitar 800 meter, ditambah sejumlah titik lainnya.

”Ada spot-spot jalan rusak, itu nanti di aspal supaya lebih aman,” ujarnya.

Titik Genangan Jadi Prioritas

Salah satu bagian yang telah ditangani merupakan lokasi yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat genangan air saat musim hujan.

Mentana mengatakan badan jalan pada titik tersebut telah ditinggikan menggunakan agregat. Setelah pengaspalan, pemerintah juga akan melakukan pembenahan drainase.

”Kerusakannya itu karena tergenang ketika musim hujan. Nah, itu sudah ditimbun ditinggikan dengan agregat. Nanti akan di aspal dan juga kita lakukan pembenahan drainasenya,” katanya.

Penanganan drainase dilakukan melalui kegiatan pemeliharaan. Pemerintah akan menggunakan alat berat untuk membantu membuka atau memperbaiki aliran air.

”Pemeliharaan saja nanti. Mungkin nanti kita turunkan ekskavator dan segala macam untuk mengalirkan airnya,” jelas Mentana.

Jalan Bangkirai Sudah Fungsional

Mentana juga menjelaskan kondisi Jalan Bangkirai yang disiapkan sebagai salah satu jalur alternatif. Ruas jalan tersebut saat ini sudah dapat digunakan oleh masyarakat, baik kendaraan roda dua maupun roda empat.

”Kondisi jalan di sana saat ini sudah fungsional, sudah bisa dilewati, baik roda dua maupun roda empat. Kondisinya agregat B,” katanya.

Jalan Bangkirai juga direncanakan ditingkatkan menjadi jalan beraspal. Namun, pekerjaan tersebut belum menjadi prioritas pada 2026.

”Nanti dilihat pada tahun 2027, melihat kondisi keuangan daerah. Tapi yang pasti, sekarang sudah fungsional,” pungkas Mentana. (hgn/ign)