SAMPIT, Kanalindependen.id – Sirkuit peredaran gelap narkotika di wilayah urban Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali kebobolan, namun berhasil diputus oleh gerak taktis aparat penegak hukum. Upaya menyembunyikan kristal haram di dalam wadah domestik harian kembali menjadi modus yang gagal total. Seorang pemuda berinisial JS (23) tidak berkutik setelah diringkus oleh Unit Reskrim Polsek Ketapang karena kedapatan menyimpan paket sabu siap edar di sebuah barak yang berlokasi di Jalan Pinang IV RT 047 RW 007, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Penggeledahan Prosedural Berdasarkan Sinyal Transaksi dari Laporan Masyarakat

​Eksekusi penangkapan ini dilancarkan pada Rabu (8/7/2026) sekitar pukul 21.30 WIB. Berawal dari laporan kritis warga setempat yang mencium adanya aroma mencurigakan terkait dugaan transaksi narkotika di area barak tersebut, polisi segera menggelar sirkuit penyelidikan kilat hingga berhasil mengunci pergerakan tersangka.

​Kapolres Kotawaringin Timur AKBP Resky Maulana Zulkarnain melalui Kasi Humas AKP Edy Wiyoko menegaskan bahwa seluruh rangkaian penggeledahan dilakukan secara rigid mematuhi prosedur hukum dengan menghadirkan Ketua RT setempat sebagai saksi sirkuit lingkungan.

​”Anggota memperoleh informasi dari masyarakat terkait dugaan transaksi narkotika. Setelah dilakukan penyelidikan, terlapor berhasil diamankan dan dilakukan penggeledahan dengan disaksikan Ketua RT,” urai AKP Edy Wiyoko dalam manifes konfirmasi resminya pada Kamis (9/7/2026).


Modus Operandi Kaleng Milton Hijau dan Sitaan Timbangan Jok Motor

​Dalam penggeledahan yang berlangsung ketat tersebut, petugas berhasil menguliti siasat kamufles yang digunakan JS untuk menyimpan barang haram and alat pendukung distribusinya, meliputi:​Timbangan Digital Mini: Satu unit timbangan digital berwarna hitam ditemukan petugas tersembunyi di dalam jok sepeda motor milik terlapor. ​Kaleng Bekas Permen: Sebuah kaleng permen merek Milton berwarna hijau ditemukan berisi empat paket plastik klip kecil berisi kristal bening diduga sabu.

​Berdasarkan hasil penimbangan berat di tempat kejadian, total berat kotor dari empat paket sabu tersebut mencapai 3,07 gram. Seluruh barang bukti tersebut telah diakui secara sepihak oleh JS sebagai milik pribadinya. Guna kepentingan sirkuit penyidikan and pengembangan kasus, JS beserta seluruh barang bukti berupa sabu and timbangan digital langsung diangkut ke Mapolsek Ketapang. Pemuda 23 tahun ini kini resmi dijerat menggunakan Pasal 114 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

​Diciduknya JS dengan barang bukti 3,07 gram sabu di kawasan Jalan Pinang IV Mentawa Baru Hilir ini kembali menegaskan sebuah realitas pahit: kamar-kamar barak kontrakan di wilayah urban Sampit telah bergeser fungsi menjadi episentrum zona nyaman bagi para pengedar narkoba lini retail. Modus menyembunyikan kristal putih di dalam kaleng permen Milton and menaruh timbangan di jok motor membuktikan bahwa peredaran ini dilakukan secara lincah, bergerak cepat, and menyasar konsumen tingkat bawah di lingkungan pemukiman padat. Keberhasilan Polsek Ketapang dalam merespons laporan warga patut diapresiasi, namun jangan sampai penangkapan kurir kecil seperti JS ini dianggap sebagai akhir dari peperangan melawan narkotika.

​Kanal Independen memberikan catatan kritis and tajam. Volume sabu seberat 3,07 gram yang sudah dipecah menjadi empat paket klip kecil, lengkap dengan kepemilikan timbangan digital, adalah manifes otentik bahwa JS merupakan bagian dari sel jaringan distribusi terstruktur, bukan sekadar pengguna pasif. Polsek Ketapang bersama Satresnarkoba Polres Kotim wajib melakukan pendalaman radikal: dari mana pemuda 23 tahun ini mendapatkan modal and pasokan sabu tersebut? Siapa bandar hulu yang menyuplai barang haram ini ke wilayah Mentawa Baru Hilir?

​Aparat penegak hukum harus melakukan pelacakan digital (digital forensics) terhadap perangkat komunikasi JS untuk membongkar sirkuit chat and transaksi keuangannya. Jangan biarkan sirkuit hukum berhenti pada sosok JS semata sementara bandar besar di atasnya tetap melenggang bebas merekrut pemuda-pemuda barak lainnya untuk dijadikan tumbal hukum berikutnya di sisa tahun 2026 ini. (***)