DI tengah dominasi budaya populer, generasi muda semakin akrab tren yang datang silih berganti. Tanpa sadar, mereka perlahan menjauh dari akar budayanya.

Di saat musik modern dengan mudah menguasai ruang dengar, ada satu suara yang kian tergerus.

Bukan karena kehilangan makna, melainkan tak lagi dianggap relevan. Karungut, seni tutur khas Dayak yang berasal dari Kalimantan Tengah, kini berada di persimpangan: dilupakan, atau diperjuangkan agar tetap hidup.

Di tengah situasi itu, sosok seperti Kornadi memilih untuk tetap bertahan, menjaga suara itu tidak benar-benar hilang.

Pencarian saya terhadap kesenian tradisional yang akan diangkat dalam lomba ini tidak berjalan mudah.

Sejumlah pilihan sempat muncul, namun tak satu pun yang benar-benar terasa tepat. Hingga suatu ketika, ingatan saya kembali pada sebuah momen di awal tahun 2026.

Saat itu, saya tengah berjalan menyusuri area Sampit Expo 2026. Di antara riuh pengunjung dan deretan stan, perhatian saya tertuju pada seorang pria berpostur tinggi, berkumis dan berambut putih yang memainkan alat musik tradisional dengan bentuk yang unik.

Lantunan syair terdengar asing, sulit saya pahami namun meninggalkan kesan. Saya tersadar, saya belum pernah menyaksikan penampilan seperti itu.

Dari situlah secercah ide mulai muncul. Rasa penasaran mendorong saya untuk mencari tahu lebih jauh tentang kesenian.

Setelah menelusuri berbagai informasi melalui media digital, saya akhirnya mengenal Karungut: sebuah seni tutur khas Dayak yang perlahan mulai jarang terdengar.

Rasa ingin tahu yang semakin besar membawa saya pada sosok tersebut. Seorang seniman yang setia menjaga keberlangsungan Karungut.

Namun, untuk menemukan kontaknya tidaklah mudah. Di tengah kebuntuan, saya mencoba untuk bertanya kepada ayah saya.

”Bah, pian kenal dengan sidin?” tanya saya, sembari menunjukkan foto di Expo Sampit.

”Oh, ini tampil di depan stan DSDABMBKPRKP seingat Abah namanya Pak Kornadi,” jawab ayah.

Setelah percakapan dengan ayah dan mencari informasi akhirnya saya mendapatkan kontak Kornadi.

Saya segera menghubunginya untuk wawancara. Setelah beberapa percakapan, kami pun sepakat untuk bertemu secara langsung di kediamannya pada Kamis, 16 April 2026, selepas waktu magrib.

Pertemuan itulah yang kemudian akan membuka lebih dalam cerita tentang Karungut—dan perjuangan seniman dalam menjaganya tetap hidup.

Malam telah turun ketika saya tiba di kediaman Kornadi. Halaman rumahnya cukup luas, dikelilingi oleh pepohonan dan tanaman yang membuat suasana terasa sejuk.

Dari kejauhan, cahaya lampu teras memancar hangat, menjadi sumber terang di tengah malam.

Rumah itu sederhana, namun terasa hidup. Di salah satu sisi teras, sebuah sepeda motor tua terparkir diam. Angin malam berembus pelan, diiringi suara jangkrik yang sesekali memecah kesunyian.

Kornadi, pegiat seni Karungut di Sampit memegang kecapi elektrik khas Kalteng ciptaannya sendiri. (Dokumentasi Pribadi Penulis)

Tak lama kemudian, sosok yang saya cari terlihat. Kornadi berdiri di teras, menyambut saya yang saat itu masih melangkah mendekat. Kesan pertama yang saya rasakan begitu hangat.

Ia menyambut saya dengan sikap ramah dan tenang, mengurangi rasa gugup yang sejak tadi saya rasakan.

Tanpa banyak basa basi, ia mempersilakan saya masuk ke ruang tamu.

Di dalam, suasana ruangan dipenuhi nuansa seni. Beberapa alat musik tradisional tersusun rapi di pojok ruangan, berpadu dengan hiasan dinding yang unik. Ruang itu seolah menjadi saksi bisu perjalanan seni yang ia jalani.

Wawancara pun dimulai. Awalnya suasana terasa canggung. Saya sempat gugup dalam menyusun pertanyaan, sementara ia menjawab dengan tenang.

Namun, seiring waktu, percakapan kami mulai mengalir, membuka satu per satu kisah tentang Karungut dan perjalanan panjang yang telah ia tempuh.

”Dibayar tidak membuat kaya, tidak dibayar juga pun tidak menjadi miskin. Jadi saya tetap maju.”

Kalimat itu diucapkan Kornadi dengan nada tenang, namun sarat makna. Bagi dirinya, Karungut bukan sekadar seni, melainkan bagian dari hidup yang telah ia jalani sejak muda.

Ia mulai mengenal Karungut sejak masih duduk di bangku SMA pada tahun 1980-an. Ketertarikannya bukan datang begitu saja, melainkan tumbuh dari lingkungan keluarga yang kental dengan dunia seni.

”Saya itu dari bakat, turunan,” ujar pria berusia 63 tahun ini.

Ia bercerita, sang kakak menjadi salah satu sosok yang lebih dahulu terjun dalam dunia Karungut, bahkan termasuk di antara yang pertama melakukan rekaman di Kalimantan Tengah pada masa kaset pita.

Sementara dirinya, saat itu hanya mengikuti jejaknya.

”Awalnya saya sih cuma ikut-ikutan Kakak. Tetapi juga ada kemauan dan tertarik seni Karungut,” tambahnya.

Sejak masa sekolah, ia aktif mengikuti berbagai perlombaan dan sempat meraih juara di tingkat SMA.

Dari situlah, Karungut perlahan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidupnya.

Bagi Kornadi, Karungut bukan sekadar hiburan. Lebih dari itu, ia merupakan media untuk menyampaikan berbagai pesan.

”Karungut itu, untuk hiburan tapi juga bisa menyampaikan aspirasi. Bisa juga seperti cerita tentang kehidupan, legenda, hingga kritik,” jelasnya.

Kornadi menceritakan, dahulu Karungut kerap hadir dalam berbagai acara adat, mulai dari pesta panen hingga upacara tertentu.

Liriknya yang khas dengan pola sajak tertentu serta cengkok yang unik menjadikannya berbeda dari bentuk seni tutur lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu keberadaan Karungut mulai menghadapi tantangan.

”Sekarang ini ditekan terus dari budaya luar,” ujarnya, dengan lirih.

Ia mengakui minat generasi muda terhadap Karungut semakin berkurang. Selain dianggap kuno kesenian ini juga dinilai kurang memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan.

Meskipun demikian, hal itu tidak membuatnya berhenti. Ia melakukan berbagai cara agar Karungut tetap bertahan.

”Kalau tidak ikut perkembangan, ya bisa hilang,” selorohnya.

Bagi Kornadi, mengikuti perkembangan bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Ia menyadari bahwa mempertahankan bentuk lama tanpa penyesuaian hanya akan membuat Karungut semakin tertinggal.

Dari pemahaman itulah ia menciptakan kecapi elektrik dengan bentuk etnik yang tetap mempertahankan identitas aslinya. Inovasi ini bukan sekadar bunyi modern, tetapi cara agar Karungut tetap relevan.

Di tengah keterbatasan, langkah tersebut menunjukkan bahwa kreativitas bukan sekadar kemampuan mencipta, melainkan cara bertahan.

Sebuah bentuk keteguhan untuk tidak menyerah pada perubahan, sekaligus upaya menjaga agar nilai-nilai yang terkandung di dalam Karungut tetap hidup.

Tak hanya itu, ia juga mulai menyesuaikan bahasa dalam Karungut agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas, termasuk menggunakan bahasa Banjar atau Indonesia dalam beberapa penampilannya.

Upaya ini ia lakukan bukan tanpa alasan. Baginya, yang terpenting adalah bagaimana Karungut tetap dikenal dan bertahan.

”Hanya untuk memperkenalkan saja, mempertahankan bahwa masih ada Karungut,” tuturnya.

Di tengah berbagai keterbatasan, ia masih melihat secercah harapan. Kehadiran generasi muda yang mulai mengenalkan Karungut melalui media sosial menjadi tanda bahwa kesenian ini belum sepenuhnya ditinggalkan.

”Kalau menurut saya masih ada harapanlah kalau Karungut ini bisa bertahan lebih lama,” Kornadi optimistis.

Baginya, melestarikan Karungut bukan sekadar soal mempertahankan tradisi, tetapi juga menjaga nilai dan identitas yang terkandung di dalamnya.

Sebuah langkah kecil yang berdampak besar, agar suara lama itu tetap memiliki tempat di tengah zaman yang berjalan dinamis.

Di tengah perubahan zaman, Karungut mungkin tak lagi menjadi suara utama. Namun, melalui keteguhan sosok seperti Kornadi, ia tetap hidup, membawa nilai tentang ketekunan, kesabaran, dan keberanian untuk bertahan.

Malam itu di Sampit, saya belajar bahwa budaya tidak mati karena zaman. Ia akan hilang ketika kita berhenti menjaganya. (***)

Juara 3 Lomba Jurnalistik FLS3N Kotim: Ahmad Raja, SMAN 1 Sampit.