Di bawah sorot panggung, Mariatul Khiptiah adalah pusat semesta yang lantang bicara. Namun, tak banyak yang tahu, dia pernah akrab dengan kesunyian. Selama tiga tahun sempat vakum dari pendidikan formal demi menjaga sang ayah dan usaha keluarga. Perjalanan panjang dari keputusasaan menuju panggung nasional inilah yang membawaku menembus hujan menuju Bagendang.

Thovan Maulana Putera

PEREMPUAN berbusana serba hitam melangkah tepat di jantung panggung. Disoroti cahaya lampu. Tak ada orang lain. Tak ada properti yang bisa dijadikan tameng.

Hanya cahaya memisahkannya dari kegelapan di atas lantai pertunjukan dan cerita yang harus dia lantangkan.

Caranya menarasikan tiap jengkal cerita dengan emosi yang begitu hidup, membungkam mulut setiap pasang mata hingga tenggelam dalam bisu.

Begitulah imajinasiku pada monolog yang ditampilkan Mariatul Khiptiah dalam FLS3N 2025 tingkat Nasional di Jakarta sebelum aku temui.

Penampilan monolog Mariatul Khiptiah dalam pentas FLS3N di Institut Kesenian Jakarta. (Dokumentasi milik Narasumber)

Sekitar pukul 13.40, aku berangkat ke Mentaya Hilir Utara atau kerap disebut Bagendang untuk menemui Mariatul Khiptiah.

Sepanjang perjalanan dari Sampit ke wilayah itu, mobil yang aku tumpangi harus menembus derasnya hujan.

Sekitar setengah jam perjalanan menelusuri jalan trans Kalimantan akhirnya aku tiba di lokasi tujuan.

Aku berlari kecil menyusuri koridor hingga akhirnya berhenti di salah satu ruangan yang dipakai untuk latihan kesenian.

Aku menunggu. Tak lama dia pun datang. Akhirnya aku bisa bertatap muka dengan Mariatul Khiptiah, kesan pertama begitu hangat dan santai, dan tak pelit bicara.

Mariatul Khiptiah (Berpakaian hitam) sedang diwawancarai penulis. (Dokumentasi milik Penulis)

Bagi Mariatul Khiptiah atau akrab dipanggil Maria, pukul 06.05 bukan sekadar angka di jam, melainkan janji.

Perempuan kelahiran 06 Oktober 2004 asal Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan.

Dia selalu tepat waktu. Di sekolahnya, dia menjalani hari-harinya seperti siswa lain seperti piket pagi, bercengkerama dengan teman.

Namun saat jam kosong di mana teman-temannya bercakap riang, dia memilih membenamkan diri di pojok baca, nyaris semua buku seni nonfiksi yang disediakan sekolah itu dia lahap.  

Di balik seragam putih abu-abunya, dia menyimpan kisah sebagai Finalis FLS3N 2025 cabang Monolog.

Namun, Maria tak pernah sombong, dia tetap seperti air tenang, tak berisik, dan selalu tahu arah yang dia tuju.

Tahun 2020, saat badai pandemi Covid-19 mengusik dunia, menjadi masa berat bagi banyak orang.

Tak terkecuali bagi keluarga Maria. Bahkan ironisnya, pandemi usai saat lulus SMP cobaan baru kembali datang, kesehatan sang ayah malah menurun. Ini memaksa jejaknya menggali ilmu terhenti.

”Saat itu, mau tidak mau aku menunda melanjutkan pendidikan untuk mengurus usaha ayah,” ucapnya dengan nada bicara turun.

Maria terpaksa terjun untuk membantu usaha keluarganya. Tangan yang mestinya mengetik tugas dan telinga menerima penjelasan guru, kini justru sibuk berkutat dengan tandan buah segar kelapa sawit.

Saat teman-temannya belajar dari rumah, dia malah disibukkan dengan pekerjaan yang lumayan berat. Keinginan melanjutkan sekolah pun sempat terlupa.

Suatu ketika, kakak pertamanya berkata kepada Maria ”Dek, kamu harus sekolah lagi. Sudahlah, soal usaha ini serahkan ke kakak,” ujarnya.

Kalimat itu ibarat cambuk yang memacu semangat Maria. Dia pun mencari sekolah terdekat. Langkahnya jatuh pada salah satu sekolah, saksi bisu permulaan dunia teater milik Maria.

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi momentum paling berkesan bagi Maria.

Saat itu dia dipertontonkan video monolog dari kakak kelasnya. Ini sangat membekas di benaknya, hingga dia pun bertekad tak hanya menonton namun harus menjadi bagian cerita.

Memulai lagi dari nol belajar di bangku SMA dalam usia lebih dewasa daripada teman-teman sekelasnya tidak membuatnya malu.

Justru, ini jadi pemantik semangat bagi Maria untuk pembuktian diri. Demikian halnya dengan teater. Akan tetapi, dunia teater ternyata tak semudah ekspektasinya.

”Bayangkan, untuk menghafal naskah selama tiga hari, aku hanya bisa mencerna satu kata,” ujarnya dengan nada pelan, seolah itu rahasia.

Tanpa dasar, tanpa pengalaman, Maria memulai kegiatan berteater dari awal, di bawah bimbingan Tiara Permata Sukma. Di teater, mental maupun fisiknya ditempa.

Saat lomba, selama tiga bulan dia melatih diri dengan gestur, artikulasi, blocking, dan penguasaan ekspresi. Teater memberinya pelajaran berharga: kehidupan, kesabaran, cara mengendalikan emosi, dan bagaimana bekerja sama dengan banyak individu.

Kalamantana, karya Titi (pembimbing monolog) merupakan salah satu naskah paling membekas yang pernah dia bawakan di panggung. Baginya, itu bukan sekadar dialog, melainkan teguran.

Memerankan tokoh “Tanah” dengan watak lelah, marah, dan tersakiti oleh kerakusan manusia.

”Jangan sombong manusia! Karena aku mengingat semua bentukmu sebelum kau mengenakan nama,” ucap Maria, menirukan di depanku.

Kalimat itu mengakar dalam benaknya. Menurutnya, satu kutipan naskah ini begitu kuat, dapat membuatnya berapi-api.

Di lantai panggung, Maria membiarkan tubuhnya menjadi wadah untuk kemarahan bumi, seolah jiwanya tergantikan.

Meskipun gestur dan ekspresi dilatih secara khusus, saat lampu menyorot, dia biarkan intuisi mengalir. Jika meleset dari naskah, improvisasi spontan menjadi pilihan terbaik untuknya, tanpa harus berganti jiwa.

”Ini bukan hanya cuma lomba biasa, tapi itu adalah kecintaanku pada seni,” ujarnya dengan mata berbinar.

Menurut Maria, kerja keras tanpa dorongan orang-orang terdekat nyaris mustahil.

Dukungan kedua orangtuanya, arahan pembimbing, serta dedikasi pelatih dan kru menjadi mesin bagi raga dan mentalnya. Sedangkan doa dan ikhtiar jadi bahan bakarnya.

Di pedesaan Bagendang jarang ada anak bisa berdiri di panggung nasional, namun siapa sangka Maria dapat membantah stigma tersebut.

Dengan latar belakang sempat tertunda tiga tahun absen di meja sekolah, semangat dan kecintaannya terhadap seni dapat menorehkan prestasi mengagumkan.

Perjalanannya mengalir deras melewati satu demi satu tahapan: Juara 1 tingkat kabupaten, berlanjut ke provinsi, hingga terbang ke Jakarta dan bersaing dengan 35 perwakilan masing-masing provinsi.

Banyaknya perwakilan tersebut tak bisa memadamkan api semangat Maria.

Di balik setiap langkah Maria menuju panggung nasional, ada doa dua orang tak pernah absen: orangtuanya, mereka paling percaya padanya sejak awal.

”Kalau dipikir-pikir, jika saja dulu aku tidak kembali ke sekolah,” gumamnya pelan, matanya menerawang sendu.

Dia berhenti sejenak, seolah merangkai kata-kata berikutnya.

”Pencapaian ini tidak pernah ada. Mungkin aku bisa ikut sanggar, tapi tak akan pernah bisa membawa nama sekolah dan provinsi sejauh ini.”

Seni teater telah mengubah jati diri Maria. Jika saja dulu dia hanya mengenal disiplin yang kaku, kini dia belajar tentang batasan dan sikap saat bertemu orang baru.

Menjadi lebih mawas diri, namun tetap rendah hati dan bersosialisasi dengan teman. Salah satu nilai dibawa Maria hingga sekarang adalah, setinggi apapun prestasi kita, janganlah berlagak sombong, layaknya napas tokoh “Tanah” dalam naskah Kalamantana.

Mariatul Khiptiah telah menyelesaikan perjalanan panjang dalam hidupnya. Dari perempuan kehilangan harapan sekolah, menjadi peraih gelar menginspirasi orang lain.

”Untuk siapa pun yang berada di posisi sepertiku atau merasa tertinggal. Jangan menyerah, apa pun keadaannya. Jangan pernah berpikir kalau hidupmu berhenti di situ saja.”

Dari pertemuan dan wawancara dengan Maria menambah khazanah baruku soal seni yang menguatkan karakter.

Ternyata, sering kali sorot lampu paling terang justru dimenangkan kepada jiwa berani bangkit setelah terjatuh. (***)

Juara 2 Lomba Jurnalistik FLS3N Kotim: Thovan Maulana Putra, SMKN 2 Sampit