SAMPIT, Kanalindependen.id – Batas aman antara ruang hidup manusia dan wilayah buru predator purba di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mentaya kembali menipis. Masyarakat Desa Bagendang Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali didera keresahan mendalam menyusul kemunculan sesosok buaya muara berukuran raksasa pada Jumat malam (29/5/2026). Kehadiran reptil besar di tepian sungai permukiman ini bukan sekadar melintas biasa, melainkan menjadi indikator kuat atas pergeseran perilaku satwa yang kian berani bergeser ke zona domestik warga.

Anomali Perilaku: Mendekat Saat Disorot Senter

​Kepanikan warga lokal ini beralasan kuat. Rekaman video amatir yang mengabadikan detik-detik kemunculan sang predator kini telah beredar luas di tengah masyarakat dan memicu gelombang kekhawatiran kolektif. Dalam visual tersebut, buaya muara (Crocodylus porosus) itu tampak tenang namun bergerak pasti mendekati bibir sungai.

​Ketegangan memuncak ketika warga mencoba memantau posisi satwa dengan mengarahkan sorotan lampu senter ke arah air. Bukannya menjauh atau menyelam ke dasar sungai sebagaimana karakter alami hewan liar, buaya tersebut justru berenang lurus menantang arah datangnya cahaya. Mahmudiansyah, salah seorang saksi mata yang melihat langsung pemandangan mencekam tersebut di tepian air, mengonfirmasi bahwa dimensi fisik predator ini berada jauh di atas ukuran rata-rata.

​“Perkiraan lebih dari 4 meter panjangnya,” ungkap Mahmudiansyah dengan nada khawatir saat menggambarkan skala fisik satwa liar tersebut.

Sinyal Bahaya dari BKSDA dan Protokol Keselamatan Sungai

​Kemunculan monster air dengan panjang melebihi empat meter ini langsung memicu respons dari otoritas konservasi wilayah. Aliran DAS Mentaya beserta kawasan pesisirnya memang dikenal sebagai habitat asli dari spesies buaya muara yang memiliki sifat teritorial kuat dan agresif. Rentetan tragedi serangan buaya yang pernah terjadi di sepanjang sungai ini bahkan beberapa kasus di antaranya merenggut korban jiwa dan luka serius menjadi bukti otentik bahwa ancaman keselamatan warga bantaran berada di titik kritis.

​Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit Muriansyah, langsung mengeluarkan imbauan keras agar warga yang menggantungkan hidupnya di jalur transportasi sungai, pencari ikan, maupun aktivitas domestik harian untuk melipatgandakan kewaspadaan mereka. Warga diminta menghindari aktivitas di tepian sungai pada jam-jam rawan perburuan satwa, seperti pagi buta, sore hari, hingga malam hari.

​“Kami mengimbau masyarakat agar selalu waspada dan tidak melakukan aktivitas sendirian di sekitar sungai. Jika melihat keberadaan buaya, segera menjauh dan laporkan kepada aparat desa atau pihak terkait,” tegas Muriansyah mengingatkan.

​Pihak BKSDA juga memperingatkan secara tegas agar warga tidak mengambil tindakan sepihak yang nekat seperti mencoba menangkap, mengusir, atau mendekati posisi buaya tanpa keahlian khusus. Tindakan defensif yang keliru justru dapat memicu perilaku agresif yang jauh lebih fatal dari sang predator. Selain faktor waktu, pola kebersihan lingkungan bantaran juga disorot karena kebiasaan membuang sisa makanan atau limbah hasil perikanan ke sungai dapat menarik perhatian buaya untuk mendekati permukiman.

​Keberanian buaya muara di Bagendang Hilir yang justru mendekat saat disorot senter adalah sebuah anomali perilaku yang mengerikan sekaligus menyedihkan. Secara ekologis, insting hewan liar untuk mendekati sumber cahaya atau permukiman manusia biasanya dipicu oleh asosiasi keberadaan makanan.

​Ketika sungai-sungai di Kotim terus dibebani oleh kebiasaan pembuangan sisa makanan dan limbah hasil perikanan secara sembarangan, buaya-buaya ini secara perlahan mengalami pergeseran perilaku. Mereka belajar bahwa di mana ada aktivitas manusia, di situ ada pasokan makanan mudah. Di sisi lain, penyusutan stok pakan alami di ekosistem asli DAS Mentaya memaksa mereka keluar dari zona aman.

​Imbauan dari BKSDA untuk menghindari jam rawan adalah solusi jangka pendek yang bersifat defensif. Jika masyarakat tidak disiplin dalam menghentikan pembuangan limbah domestik ke sungai, serta aparat terkait tidak mengevaluasi kelestarian habitat asli hilir Mentaya, maka konflik berdarah antara manusia dan reptil purba ini akan terus berulang. Sungai Mentaya tidak boleh dibiarkan berubah menjadi arena pertarungan maut akibat kelalaian kita dalam menjaga batas ruang berbagi kehidupan. (***)