• Anggota DPRD Kotawaringin Timur, Juliansyah, mendesak aparat kepolisian dan instansi terkait untuk melakukan tes narkoba (tes urine) secara acak terhadap sopir angkutan barang dan penumpang di jalur Sampit-Pundu.
• Desakan tersebut disampaikan pada Rabu, 11 Maret 2026, menyusul kekhawatiran terhadap perilaku sopir yang ugal-ugalan menjelang musim mudik Idulfitri, dengan dugaan penggunaan narkoba sebagai pemicu.
• Jalur Sampit-Pundu menjadi sorotan karena sering ditemukan angkutan yang melaju kencang dan membahayakan pengguna jalan lain.
• Sepanjang Januari 2026, tercatat 79 kasus kecelakaan lalu lintas di Kalimantan Tengah yang merenggut 19 nyawa, dengan Kotawaringin Timur menjadi salah satu wilayah penyumbang angka kecelakaan signifikan.
• Polres Kotawaringin Timur telah mengadakan rapat koordinasi lintas sektoral pada 6 Maret 2026 untuk mematangkan persiapan Operasi Ketupat Telabang 2026, yang akan fokus pada pengaturan arus mudik dan pengawasan ketat kondisi fisik sopir.
SAMPIT, kanalindependen.id – Bayang-bayang maut mulai mengintai aspal jalur Sampit-Pundu menjelang musim mudik Idulfitri. Deru mesin bus dan truk angkutan barang seringkali terdengar meraung tanpa ampun, menyalip dengan nekat di tengah padatnya arus lalu lintas.
Fenomena sopir ugal-ugalan itu jadi sorotan tajam di gedung DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Anggota DPRD Kotim Juliansyah mendesak aparat kepolisian dan instansi terkait untuk tidak lagi hanya memberi imbauan manis.
Pelaksanaan tes narkoba bagi para sopir angkutan barang maupun penumpang dipandang sebagai langkah penting.
Menurutnya, hal itu bisa menjadi benteng pertahanan utama guna menekan potensi tragedi yang kerap menghantui para pemudik di pengujung Ramadan nanti.
Kekhawatiran tersebut berakar dari tumpukan keluhan masyarakat yang menyaksikan langsung betapa nyawa seolah tak berharga di tangan para pengemudi yang memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi.
Jalur Sampit-Pundu, yang menjadi nadi utama kendaraan travel antarkecamatan dan angkutan logistik, menjadi sorotan karena perilaku berkendara yang membahayakan pengguna jalan lain.
”Jalur Sampit menuju Pundu sering kita temukan angkutan yang melaju cukup kencang dan cenderung ugal-ugalan. Ini sangat membahayakan pengguna jalan lain, apalagi menjelang arus mudik Lebaran nanti,” tegas Juliansyah, Rabu (11/3/2026).
Ada kecurigaan kuat bahwa keberanian semu para sopir dalam menginjak pedal gas dipicu oleh faktor di luar kelelahan fisik.
Penggunaan narkoba untuk mengusir kantuk saat menempuh rute jauh diduga menjadi salah satu pemicu perilaku nekat di jalan raya.
Oleh karena itu, tegas Juliansyah, pemeriksaan acak di pos pengamanan maupun terminal melalui tes urine menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar lagi.
Data yang terkumpul sepanjang awal tahun 2026 menggambarkan realitas yang kelam di jalanan Kalimantan Tengah. Sepanjang Januari saja, tercatat ada 79 kasus kecelakaan lalu lintas di Bumi Tambun Bungai.
Tragedi ini telah merenggut 19 nyawa, menyebabkan 16 orang luka berat, dan 86 lainnya luka ringan. Sebuah tren peningkatan sekitar 2,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sayangnya, Kotawaringin Timur berdiri sebagai salah satu wilayah penyumbang angka kecelakaan yang signifikan.
Aspal Kotim seolah terus meminta tumbal. Hingga 26 Januari 2026, serangkaian kecelakaan fatal yang merenggut nyawa tersebar di berbagai titik vital.
Mulai dari Jalan Kenan Sandan di Baamang, kawasan ikonik Terowongan Nur Mentaya, Jalan HM Arsyad, hingga bentangan Jalan Jenderal Sudirman serta wilayah Cempaga menuju Telawang.
Merespons ancaman nyata ini, Polres Kotawaringin Timur mulai merapatkan barisan. Melalui rapat koordinasi lintas sektoral pada 6 Maret 2026, persiapan Operasi Ketupat Telabang 2026 mulai dimatangkan.
Fokus petugas tidak hanya pada pengaturan arus mudik dan balik, tetapi juga pada pemetaan titik rawan dan pengawasan ketat terhadap kondisi fisik para sopir. (ign)