• Perputaran ekonomi di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), meningkat pesat menjelang Idulfitri, dengan perkiraan mencapai ratusan miliar rupiah selama Ramadan hingga Lebaran.
• Bank Indonesia mencatat kebutuhan uang tunai di Kalimantan Tengah selama Ramadan dan Lebaran tahun ini mencapai sekitar Rp3,28 triliun, di mana Kotim menyumbang Rp500 miliar hingga Rp800 miliar.
• Ketua UMKM Kotim, Rahmat Noor, menyebut lonjakan perputaran ekonomi di Kotim bisa mencapai 30% atau tambahan sekitar Rp900 miliar dari kondisi normal, didorong juga oleh pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kotim sebesar Rp35,6 miliar.
• Meski perputaran uang tinggi, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku yang menipiskan keuntungan.
• Rahmat Noor menjelaskan bahwa peningkatan sirkulasi uang tersebut lebih disebabkan oleh lonjakan kebutuhan konsumsi masyarakat menjelang Lebaran, bukan indikasi peningkatan kesejahteraan permanen.
SAMPIT, kanalindependen.id – Menjelang Idulfitri, denyut ekonomi di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur terasa makin cepat.
Pasar-pasar penuh sejak pagi, aroma kue kering bercampur suara pedagang yang tak berhenti menawar. Uang mengalir deras di tengah hiruk-pikuk itu. Diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah selama Ramadan hingga Lebaran.
”Tahun ini pembeli ramai sekali, terutama sejak dua minggu terakhir,” ujar Rahmat Noor, Ketua UMKM Kotim, Kamis (19/3).
”Makanan, kue kering, sampai kebutuhan hari raya semua laku. Tapi harga bahan juga naik,” tambahnya.
Data Bank Indonesia menunjukkan, kebutuhan uang tunai di Kalimantan Tengah selama Ramadan dan Lebaran tahun ini mencapai sekitar Rp3,28 triliun.
Dari jumlah itu, Kotim kebagian porsi signifikan: antara Rp500 hingga Rp800 miliar. Tambahan arus uang juga datang dari Tunjangan Hari Raya (THR) Aparatur Sipil Negara di Kotim yang mencapai Rp35,6 miliar, belum termasuk tenaga swasta.
Para pelaku usaha menyebut, Ramadan dan Lebaran ibarat musim panen singkat. Dalam kondisi normal, perputaran ekonomi di Kotim sekitar Rp3 triliun per bulan.
Ketika Lebaran tiba, pergerakannya bisa melonjak hingga 30 persen, setara tambahan Rp900 miliar yang berputar di pasar, toko, dan pusat perbelanjaan.
Namun, bagi pedagang kecil, derasnya uang bukan berarti rezeki melimpah. Kenaikan harga bahan baku membuat banyak UMKM berhitung lebih hati-hati.
”Kalau harga bahan naik, kami serba salah. Mau dinaikkan takut pelanggan kabur, tapi kalau ditahan, untung tipis sekali,” kata Rahmat.
Uang yang berputar cepat itu sebagian besar habis untuk sembako, pakaian, dan kebutuhan hari raya.
Namun, ia menegaskan, banyaknya uang yang beredar tidak selalu berarti masyarakat lebih sejahtera. ”Uang memang lebih banyak berputar, tapi itu karena kebutuhan meningkat. Bukan berarti masyarakat punya uang lebih,” jelasnya.
Setelah Lebaran, sirkulasinya kembali menurun, meninggalkan ruang bagi para pelaku ekonomi kecil untuk kembali bertahan dengan strategi lama. (ign)