• Sebuah kasus penipuan terjadi di Gang Gudang Kuning, Kelurahan Baamang Hilir, Kecamatan Baamang, Sampit, dengan modus penjualan beras berisi pasir.
• Peristiwa ini menimpa Jamilah dan Jumah, dua ibu rumah tangga, pada Minggu, 7 Juni 2026 pagi.
• Pelaku, seorang pria tidak dikenal, menawarkan beras premium dengan harga miring, menunjukkan sampel pulen, namun menyerahkan karung berisi pasir dengan sedikit beras di bagian atas.
• Akibat penipuan ini, para korban mengalami kerugian materiil sebesar Rp410 ribu.
• Modus serupa disinyalir sudah beberapa kali beroperasi di Kecamatan Baamang, mengindikasikan adanya jaringan penipu; Polsek Baamang diimbau untuk merespons serius kasus ini.
SAMPIT, Kanalindependen.id – Melambungnya harga berbagai komoditas kebutuhan pokok di pasaran Sampit dalam beberapa waktu terakhir mulai dimanfaatkan oleh jaringan kriminal untuk melancarkan aksi penipuan yang menyasar masyarakat kelas pekerja. Menggunakan modus penawaran beras retail berkualitas premium dengan harga miring, pelaku nekat mengelabui korbannya dengan menjual karung kemasan yang ternyata berisikan pasir seberat puluhan kilogram.
Tergiur Sampel Beras Pulen dan Janji Stok Pulau Jawa
Aksi penipuan yang sangat meresahkan ini menimpa Jamilah dan Jumah, dua orang ibu rumah tangga yang bermukim di kawasan padat Gang Gudang Kuning, Kelurahan Baamang Hilir, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Akibat kelengahan sesaat, keduanya terpaksa menelan kerugian materiil sebesar Rp410 ribu setelah bertransaksi dengan seorang pria misterius.
Jamilah, yang sehari-harinya menyambung hidup sebagai pedagang nasi kuning rumahan, membeberkan bahwa petaka tersebut terjadi pada Minggu (7/6/2026) pagi. Saat ia dan tetangganya sedang bercengkrama di depan teras rumah, seorang pria tidak dikenal yang mengendarai sepeda motor mendadak berhenti dan menawarkan komoditas beras dengan harga di bawah standar pasar.
“Awalnya kami berdiri di depan rumah, lalu ada laki-laki datang naik motor menawarkan beras. Dia menunjukkan contoh beras pulen yang kualitasnya memang terlihat bagus,” tutur Jamilah saat memberikan konfirmasi, Senin (8/6/2026).
Terpikat oleh sampel beras yang bersih dan pulen, para korban akhirnya sepakat melakukan transaksi setelah berhasil menawar harga dari Rp14 ribu menjadi Rp13 ribu per kilogram. Jamilah memesan sebanyak 20 kilogram untuk modal dagangannya, sementara Jumah mengambil porsi 10 kilogram.
Pelaku kemudian meminjam karung kosong milik korban dengan dalih akan mengambil pasokan beras yang disimpan di tempat lain. Tak berselang lama, pria tersebut kembali dengan membawa satu karung besar yang diklaim berbobot total 31 kilogram. Guna memuluskan tipu dayanya dan menghindari kecurigaan, pelaku meyakinkan korban bahwa barang tersebut bukan beras subsidi pemerintah melainkan pasokan mandiri yang didatangkan langsung dari Pulau Jawa.
Percaya dengan narasi manis tersebut, kedua korban menyerahkan uang tunai sebesar Rp400 ribu, ditambah uang pecahan Rp10 ribu yang sebelumnya sempat dipinjam pelaku dengan alasan darurat untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) sepeda motornya. Begitu lembaran rupiah berpindah tangan, pelaku langsung memacu kendaraannya dengan tergesa-gesa meninggalkan lokasi.
Kecurigaan baru menyeruak saat kedua wanita tersebut membuka ikatan karung untuk menimbang dan membagi isi beras. Alangkah terkejutnya mereka saat mendapati fakta bahwa hamparan beras bersih hanya diletakkan setebal beberapa sentimeter di lapisan paling atas karung. Sementara sisa volume ruang ke bawah sepenuhnya merupakan tumpukan pasir hitam yang sengaja diisi pelaku sebagai pemberat manipulatif.
“Pas dibuka untuk ditimbang, ternyata berasnya cuma sedikit di bagian atas. Di bawahnya pasir semua. Saat itu orangnya sudah pergi,” ungkap Jamilah dengan nada kecewa.
Kasus penipuan beras berisi pasir di Gang Gudang Kuning ini menyajikan potret sosiologis yang sangat getir mengenai bagaimana inflasi bahan pangan melahirkan celah kriminalitas baru yang langsung menusuk sektor urat nadi ekonomi mikro. Sebagai penjual nasi kuning eceran, keputusan Jamilah untuk memburu beras murah adalah langkah rasional demi menekan biaya produksi (cost production) agar usahanya tidak gulung tikar di tengah jepitan harga sembako yang fluktuatif.
Pelaku kejahatan secara jeli memanfaatkan psikologi kepasrahan konsumen kelas bawah ini. Dengan memamerkan contoh beras pulen berkualitas tinggi (bait-and-switch tactic), pelaku dengan mudah meruntuhkan benteng kewaspadaan korban.
Informasi internal yang menyebutkan bahwa modus serupa disinyalir sudah beberapa kali beroperasi di wilayah Kecamatan Baamang mengindikasikan bahwa ini bukan aksi spontan perorangan, melainkan indikasi adanya jaringan penipu spesialis sembako palsu yang bergerak lincah berpindah-pindah kawasan (mobile crime group). Mereka mengincar pemukiman padat dan gang-gang sempit yang minim pantauan kamera pengawas (CCTV) lingkungan.
Polsek Baamang bersama aparat kelurahan setempat harus merespons serius fenomena “beras pasir” ini sebelum memakan lebih banyak korban dari kalangan pedagang kecil. Sosialisasi mitigasi penipuan di tingkat RT/RW wajib digencarkan, terutama imbauan agar warga menolak segala bentuk transaksi komoditas pangan yang tidak memiliki label resmi dan tidak dapat diperiksa isinya secara langsung di tempat. Jangan sampai impitan ekonomi yang sudah menjerat dompet warga Sampit, masih harus diperparah oleh hilangnya rasa aman akibat merajalelanya para predator sosial yang tega menukar isi piring nasi warga dengan butiran pasir. (***)