- Fenomena pembelian *followers* di media sosial marak, menyebabkan akun dengan jumlah *followers* besar namun interaksi rendah, tidak mencerminkan pengaruh atau kredibilitas nyata.
- *Engagement rate*, yakni rasio interaksi (komentar, *share*, *save*, durasi tonton) terhadap jumlah *followers*, dianggap sebagai indikator pengaruh yang lebih jujur dan relevan.
- Algoritma media sosial saat ini memprioritaskan interaksi dan relevansi konten, menegaskan bahwa akun yang bertahan adalah yang paling konsisten dan membangun kepercayaan, bukan hanya yang terbesar.
Kanalindependen.id – Di profilnya tertulis 120 ribu followers. Angkanya besar. Terlihat meyakinkan. Tapi ketika konten baru diunggah, interaksinya hanya puluhan komentar.
Fenomena ini semakin umum di media sosial. Angka besar tidak selalu berarti pengaruh besar.
Di era algoritma, jumlah pengikut bukan lagi satu-satunya ukuran kekuatan.
Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024–2025, pengguna internet Indonesia telah menembus lebih dari 220 juta jiwa, atau sekitar 80 persen populasi.
Sementara laporan tahunan We Are Social menunjukkan Indonesia termasuk negara dengan pengguna Instagram dan TikTok terbesar di dunia.
Artinya, media sosial adalah ruang utama promosi, opini, bahkan politik. Tak heran jika followers dianggap sebagai “mata uang digital”.
Kasus Nyata: Followers Dibeli, Engagement Jatuh
Fenomena beli followers bukan mitos. Pada 2019, perusahaan riset keamanan siber Cheq dalam laporan globalnya menyebut praktik pembelian followers dan interaksi palsu menyebabkan kerugian miliaran dolar di industri periklanan digital setiap tahun.
Platform seperti Instagram sendiri pernah melakukan ”pembersihan” akun palsu secara massal. Pada 2018, Instagram menghapus jutaan akun bot dan spam, menyebabkan banyak akun besar kehilangan ribuan bahkan ratusan ribu followers dalam semalam.
Kasus ini menunjukkan satu hal, angka bisa dimanipulasi. Namun, interaksi nyata sulit dipalsukan dalam jangka panjang.