Contoh Politik, Ramai di Instagram, Sepi di TPS
Fenomena serupa juga terjadi di ranah politik. Dalam beberapa pemilu daerah di Indonesia, sejumlah kandidat memiliki followers media sosial jauh lebih banyak dibanding pesaingnya.
Namun, hasil akhir di tempat pemungutan suara tidak selalu sejalan dengan popularitas digital.
Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia, misalnya, pernah menekankan bahwa popularitas di media sosial tidak identik dengan elektabilitas. Media sosial hanya satu kanal komunikasi, bukan penentu tunggal pilihan pemilih.
Like bukan suara sah. Followers bukan surat suara.
Engagement Rate: Angka yang Lebih Jujur
Dalam dunia digital marketing, ukuran yang lebih relevan adalah engagement rate.
Sederhananya,
Akun 5.000 followers dengan 500 interaksi = kuat
Akun 50.000 followers dengan 100 interaksi = lemah
Algoritma Instagram dan TikTok lebih memprioritaskan durasi tonton, komentar, share, save, interaksi berulang.
Artinya, akun kecil dengan komunitas aktif bisa lebih sering muncul di linimasa dibanding akun besar yang pasif.
Tekanan untuk Terlihat Besar
Di kota-kota seperti Sampit atau Palangka Raya, UMKM kini mulai sadar pentingnya media sosial. Banyak yang merasa harus terlihat “ramai” agar dipercaya pelanggan.
Sebagian fokus membangun konten organik. Sebagian lain tergoda membeli followers demi kesan profesional.
Masalahnya, publik semakin cerdas membaca pola. Akun dengan 100 ribu followers tapi hanya mendapat 30 komentar sering memunculkan tanda tanya.
Jadi, Masih Pentingkah Followers?
Jawabannya: penting, tapi bukan segalanya.
Followers adalah pintu masuk. Engagement adalah indikator pengaruh. Kepercayaan adalah fondasi.
Di era algoritma, akun yang benar-benar bertahan bukan yang paling besar, melainkan yang paling relevan dan konsisten. Pasalnya, angka bisa dibeli. Kepercayaan tidak. (ign/berbagai sumber)