Pewarta Layar dan Kerja Lapangan

Perbedaan karakter kian kentara. Di satu sisi, masih ada wartawan yang gigih mengetuk pintu narasumber demi satu kutipan akurat.

Di sisi lain, tumbuh pewarta yang merasa cukup dengan riset daring, menyamakan pencarian mesin dengan jelajah data dan bukti lapangan.

Bagi wartawan muda, AI kerap tampil sebagai pisau bermata dua. Membantu sekaligus menjebak.

Zainal mencontohkan media yang sepenuhnya bergantung pada AI. Produksi cepat, tetapi gagap saat menghadapi klarifikasi. Rilis disalin mentah, tanpa pemahaman bahwa klarifikasi pun harus diperlakukan sebagai berita.

Risikonya bukan sekadar kualitas tulisan, melainkan masa depan profesi. Ketergantungan berlebihan pada AI berpotensi melahirkan generasi wartawan miskin reportase. Semakin jauh dari kerja investigasi, rapuh saat diuji fakta.

Kepada Kanal Independen, sejumlah wartawan di Kalteng mengaku telah memanfaatkan AI untuk membantu kinerja jurnalistik.

Sebagian besar menggunakan kecerdasan buatan itu secara terbatas dan ketat, yakni hanya untuk merapikan tulisan dan mengatasi salah ketik.

Ada pula jurnalis yang terpaksa menggunakan AI untuk membuat berita sepenuhnya karena tuntutan kecepatan. Informasi yang diperoleh harus lekas tayang, sehingga akurasi kerap terabaikan.

”Pada saat tertentu, ketika banjir informasi yang harus ditulis, terpaksa menggunakan AI untuk membantu membuat berita. Sejauh ini tak ada masalah,” ungkap seorang wartawan di Sampit, seraya meminta identitasnya tak disebutkan.

Panggilan Pulang

Refleksi Hari Pers Nasional tahun ini bukan tentang merayakan teknologi, melainkan mengingatkan arah pulang. Kembali ke jalanan, kembali menemui manusia, kembali mengotori sepatu.

Zainal menegaskan, jurnalisme tidak pernah lahir dari kenyamanan, melainkan dari ketekunan, keraguan, dan keberanian memastikan kebenaran.

Kecepatan boleh menjadi alat. Namun, ketika militansi lenyap, yang dipertaruhkan bukan sekadar kualitas berita, melainkan nalar sehat yang menopang kehidupan publik. ”Teruslah belajar. Bukan hanya lewat pendidikan formal, tapi juga dengan terus turun ke lapangan. Dan yang paling penting, tetap menjaga akurasi dan keberimbangan,” pesan Zainal. (ign)