Kanalindependen.id  – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terus berkembang pesat dan mulai digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, layanan pelanggan hingga dunia kerja. Namun di tengah euforia tersebut, kritik terhadap industri AI semakin menguat.

Sejumlah pengamat teknologi menilai persoalan utama AI saat ini bukan terletak pada kecanggihan teknologinya, melainkan pada cara teknologi tersebut diterapkan dan dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan besar.

Penulis dan aktivis teknologi Cory Doctorow menjadi salah satu sosok yang paling vokal menyuarakan kritik tersebut. Dalam berbagai wawancara dan tulisannya, ia memperingatkan munculnya fenomena yang disebut “reverse centaur”, yaitu kondisi ketika manusia tidak lagi menggunakan mesin sebagai alat bantu, tetapi justru harus menyesuaikan diri dengan keputusan yang dibuat sistem otomatis.

Menurut Doctorow, banyak perusahaan kini mengadopsi AI dengan tujuan meningkatkan efisiensi dan menekan biaya operasional. Namun dalam praktiknya, pekerja sering kali dipaksa mengikuti rekomendasi atau keputusan sistem AI, meskipun hasilnya belum tentu lebih baik dibanding pertimbangan manusia.

“Teknologi seharusnya membantu manusia bekerja lebih baik. Masalah muncul ketika manusia justru harus mengikuti logika mesin,” demikian pandangan yang menjadi inti kritik Doctorow terhadap perkembangan AI saat ini.

Fenomena tersebut mulai terlihat di berbagai bidang. Di sektor layanan pelanggan, misalnya, banyak perusahaan mengandalkan chatbot AI untuk menangani pertanyaan pengguna. Di lingkungan kerja, AI digunakan untuk menilai produktivitas, menyusun laporan hingga memberikan rekomendasi keputusan.

Meski menawarkan kecepatan dan efisiensi, pendekatan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa peran manusia perlahan berkurang dan digantikan oleh sistem otomatis yang belum tentu memahami konteks secara utuh.

Selain dampaknya terhadap pekerja, Doctorow juga menyoroti besarnya investasi yang mengalir ke industri AI. Menurutnya, ledakan investasi bernilai triliunan dolar yang terjadi saat ini berpotensi membentuk gelembung ekonomi baru.

Ia menilai banyak perusahaan teknologi berlomba mengembangkan dan memasarkan AI dengan janji revolusi besar di berbagai sektor. Namun hingga kini, keuntungan ekonomi yang dihasilkan dinilai belum sepenuhnya sebanding dengan biaya pengembangan dan operasional yang terus membengkak.

Meski demikian, Doctorow tidak percaya AI akan menghilang. Ia memperkirakan teknologi tersebut tetap akan menjadi bagian penting dalam kehidupan modern. Yang berpotensi berubah adalah besarnya ekspektasi pasar dan investor terhadap kemampuan AI.

Jika gelembung investasi tersebut pecah, sebagian perusahaan AI mungkin mengalami kesulitan atau bahkan tumbang. Namun teknologi yang benar-benar memberikan manfaat diyakini akan tetap bertahan dan digunakan secara luas.

Karena itu, Doctorow menilai perdebatan mengenai AI seharusnya tidak hanya berfokus pada kemampuan teknologi semata. Yang tak kalah penting adalah membahas siapa yang mengendalikan teknologi tersebut, siapa yang memperoleh keuntungan, dan bagaimana dampaknya terhadap masyarakat.

Di tengah perlombaan global mengembangkan AI, kritik-kritik seperti ini menunjukkan bahwa masa depan teknologi tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan mesin, tetapi juga oleh keputusan manusia dalam menggunakannya. (***)