• Kota Sampit mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 5,15 persen pada Februari 2026, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kotawaringin Timur.
• Kepala BPS Kotim, Eddy Surahman, pada Kamis (5/3/2026), menjelaskan Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 104,41 pada Februari 2025 menjadi 109,79 pada Februari 2026.
• Penyumbang utama inflasi berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang naik 16,91 persen, dengan tarif listrik sebagai komoditas pemberi andil terbesar.
• Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 3,71 persen, didorong oleh kenaikan harga daging ayam ras, beras, ikan nila, udang basah, dan minyak goreng.
• Kenaikan tinggi juga terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 15,80 persen, dipicu oleh meningkatnya harga emas perhiasan.
• Meski kelompok transportasi deflasi 0,65 persen dan sejumlah komoditas seperti telur ayam ras, cabai rawit, serta bawang putih turun harga, kenaikan listrik, pangan, dan biaya tempat tinggal tetap menjadi faktor utama inflasi di Sampit.
SAMPIT, Kanalindependen.id – Tekanan biaya hidup masyarakat di Kota Sampit kian terasa. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kotawaringin Timur mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) di kota ini pada Februari 2026 mencapai 5,15 persen
Kepala BPS Kabupaten Kotawaringin Timur, Eddy Surahman, mengatakan inflasi tersebut terlihat dari meningkatnya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 104,41 pada Februari 2025 menjadi 109,79 pada Februari 2026.
“Pada Februari 2026 terjadi inflasi year-on-year sebesar 5,15 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 109,79,” ujar Eddy dalam rilis resmi BPS Kotim, Kamis (5/3/2026).
Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi secara bulanan (month-to-month) sebesar 0,61 persen, sementara inflasi sejak awal tahun (year-to-date) mencapai 1,03 persen.
Listrik dan kebutuhan rumah tangga melonjak
Salah satu pemicu utama inflasi berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mengalami kenaikan hingga 16,91 persen.
Tarif listrik menjadi komoditas yang paling besar memberikan andil terhadap inflasi di Sampit. Selain itu, kenaikan juga terjadi pada kontrak rumah, sewa rumah, hingga bahan bakar rumah tangga.
Lonjakan harga pada sektor ini memperlihatkan bahwa tekanan biaya hidup tidak hanya datang dari kebutuhan pangan, tetapi juga dari kebutuhan dasar rumah tangga.
Harga pangan ikut naik
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mencatat inflasi 3,71 persen. Beberapa komoditas yang dominan mendorong kenaikan harga antara lain daging ayam ras, beras, ikan nila, udang basah, serta minyak goreng.
Kenaikan harga bahan pangan ini turut berdampak pada biaya konsumsi masyarakat, termasuk di sektor jasa makanan. BPS mencatat kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga mengalami inflasi 4,65 persen.
Emas dan jasa pribadi ikut menyumbang inflasi
Selain kebutuhan pokok, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami lonjakan cukup tinggi hingga 15,80 persen.
Kenaikan ini sebagian besar dipicu oleh meningkatnya harga emas perhiasan, yang menjadi salah satu komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi di Sampit.
Di tengah kenaikan harga berbagai komoditas, sejumlah barang justru mengalami penurunan harga.
Kelompok transportasi tercatat mengalami deflasi 0,65 persen, dipicu turunnya harga bensin serta beberapa biaya transportasi. Selain itu, komoditas seperti telur ayam ras, cabai rawit, dan bawang putih juga mengalami penurunan harga.
Meski demikian, kenaikan harga pada kebutuhan utama seperti listrik, pangan, dan biaya tempat tinggal tetap menjadi faktor utama yang mendorong inflasi di Sampit. Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap daya beli masyarakat apabila tren kenaikan harga terus berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. (***)