Kanalindependen.id  – Ledakan industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai memunculkan persoalan baru yang jarang disadari publik: konsumsi air dalam jumlah masif.

Mengutip Arstechnica.com,  sebuah kasus di Fayette County, Georgia, Amerika Serikat, menjadi sorotan setelah sebuah proyek pusat data (data center) diketahui menggunakan lebih dari 30 juta galon air tanpa pembayaran awal dan tanpa terdeteksi selama berbulan-bulan.

Fakta itu terungkap setelah warga di kawasan Annelise Park mengeluhkan tekanan air rumah mereka melemah. Dalam beberapa kesempatan, aliran air bahkan disebut tidak stabil saat jam-jam tertentu.

Investigasi pemerintah daerah kemudian menemukan bahwa fasilitas data center milik perusahaan teknologi Quality Technology Services (QTS) ternyata memakai suplai air dalam skala besar untuk kebutuhan proyek konstruksi.

Air digunakan untuk pencampuran beton, pengendalian debu, hingga kebutuhan pembangunan fasilitas pusat data berskala raksasa yang nantinya menopang layanan komputasi dan AI.

Ironisnya, penggunaan air jumbo tersebut terjadi saat wilayah Georgia tengah menghadapi ancaman kekeringan dan pemerintah meminta masyarakat melakukan penghematan air.

Infrastruktur Publik Mulai Terbebani

Kasus ini memicu kemarahan warga karena penggunaan air dalam jumlah sangat besar itu baru diketahui setelah berlangsung cukup lama.

Pemerintah daerah akhirnya menagihkan biaya sekitar US$147 ribu kepada perusahaan. Namun tidak ada sanksi tambahan maupun denda yang diberikan.

Otoritas utilitas setempat berdalih masalah muncul akibat transisi sistem pencatatan dan lemahnya pengawasan lapangan.

Meski demikian, banyak warga mempertanyakan bagaimana penggunaan air sebesar itu bisa lolos dari pemantauan.

Fenomena ini memperlihatkan sisi lain dari industri AI yang selama ini lebih banyak dipromosikan sebagai simbol kemajuan teknologi.

Di balik perkembangan chatbot, cloud computing, dan kecerdasan buatan, terdapat kebutuhan infrastruktur besar yang menyedot listrik dan air dalam skala luar biasa.

AI Tidak Hanya “Haus” Listrik

Pusat data modern membutuhkan sistem pendingin untuk menjaga suhu ribuan server tetap stabil. Sistem inilah yang membuat konsumsi air melonjak drastis.

Beberapa studi menyebut satu fasilitas data center besar dapat menggunakan jutaan galon air setiap hari, terutama di wilayah bercuaca panas.

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi global berlomba membangun pusat data baru untuk mendukung pertumbuhan AI generatif.

Namun di sejumlah daerah, pembangunan tersebut mulai memicu kekhawatiran terkait keberlanjutan sumber daya air dan tekanan terhadap infrastruktur publik.

Kasus di Georgia kini menjadi peringatan bahwa perkembangan AI ternyata tidak hanya soal inovasi digital, tetapi juga menyangkut perebutan sumber daya dasar yang digunakan masyarakat sehari-hari. (***)