✨ Intinya sih...

• Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mendeteksi 22 titik panas dalam rekapitulasi periode 1–3 November 2026, tersebar di sembilan kecamatan.
• Mentaya Hilir Utara mencatat lima titik panas, diikuti Bukit Santuai dengan empat titik. Seluruh deteksi memiliki tingkat kepercayaan 8.
• BMKG memprakirakan potensi awan hujan sedang hingga tinggi, namun curah hujan di Kotim diprediksi ringan (0,5-20 mm/hari), yang dianggap belum cukup untuk memadamkan bara, terutama di lahan gambut.
• Pemkab Kotim telah memperpanjang status tanggap darurat karhutla dan kekeringan selama 16 hari, mulai 31 Oktober hingga 15 November 2026, meskipun tingkat kemudahan terbakar diproyeksikan menurun.
• Bupati Kotim H. Halikinnor menegaskan pentingnya pemadaman, pendinginan, patroli, dan verifikasi lapangan, karena deteksi satelit hanya indikasi anomali suhu dan bukan bukti langsung kebakaran aktif.

SAMPIT, Kanalindependen.id  – Sebanyak 22 titik panas terdeteksi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, dalam rekapitulasi akumulasi 24 jam terakhir pada periode pemantauan 1–3 November 2026. Sebaran titik panas meliputi sembilan kecamatan, dengan seluruh deteksi memiliki tingkat kepercayaan 8.

Data BMKG Stasiun Meteorologi H  Asan Kotim menunjukkan titik panas tersebar di Kecamatan Bukit Santuai, Baamang, Mentawa Baru Ketapang, Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hulu, Antang Kalang, Telaga Antang, Seranau, dan Mentaya Hilir Selatan.

Mentaya Hilir Utara mencatat jumlah terbanyak dengan lima titik di Desa Bagendang Tengah dan Natai Baru. Bukit Santuai menyusul dengan empat titik di Desa Tumbang Payang dan Lunuk Bagantung.

Sebaran lainnya meliputi tiga titik di Desa Tinduk, Kecamatan Baamang; dua titik di Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang; dua titik di Desa Tanjung Jariangau, Kecamatan Mentaya Hulu; serta tiga titik di Desa Sungai Hanya, Kecamatan Antang Kalang.

Masing-masing satu titik juga terdeteksi di Desa Bukit Indah, Kecamatan Telaga Antang; Desa Ganepo, Kecamatan Seranau; dan Desa Handil Sohor, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan.

“Seluruh titik panas terdeteksi melalui satelit NOAA20 dan SNPP. Data mencatat tipe deteksi pixel, tingkat kepercayaan 8, serta radius kemungkinan 1.125 meter,” jelas Forecaster on Duty BMKG Stasiun Meteorologi H  Asan Kotim Suci Priatin Ningsih, Senin (2/11/2026).

Di sisi lain, prakiraan cuaca BMKG untuk periode 2 November pukul 07.00 WIB hingga 3 November pukul 07.00 WIB menunjukkan potensi pertumbuhan awan hujan di Kotim berada pada kategori sedang hingga tinggi.

Namun, prakiraan jumlah curah hujan dalam periode yang sama masih berada pada kategori ringan, yakni sekitar 0,5 hingga 20 milimeter per hari berdasarkan model WRF Daily Forecast.

Peta analisis parameter cuaca BMKG juga memperlihatkan sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah bagian tengah hingga selatan, termasuk Kotim, berada dalam zona mudah hingga sangat mudah terbakar pada 2 November.

Untuk 3 November, peta tersebut memperlihatkan penurunan tingkat kemudahan terbakar di sebagian besar wilayah. Sejumlah kawasan bergeser ke kategori tidak mudah terbakar dan aman, meskipun beberapa wilayah barat dan selatan masih memiliki potensi mudah terbakar.

Perbedaan antara prakiraan hujan dan tingkat kemudahan terbakar ini menunjukkan bahwa potensi hujan belum dapat langsung diartikan sebagai berakhirnya ancaman karhutla. Curah hujan ringan juga belum tentu cukup untuk membasahi seluruh lapisan lahan, terutama kawasan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan.

Sebelumnya, Pemkab Kotim memperpanjang status tanggap darurat karhutla dan kekeringan selama 16 hari, mulai 31 Oktober hingga 15 November 2026. Perpanjangan dilakukan karena hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah belum sepenuhnya menghilangkan potensi kebakaran.

Bupati Kotim H. Halikinnor menegaskan penanganan harus tetap berjalan melalui pemadaman, pendinginan, dan patroli. Pemeriksaan lapangan juga diperlukan di lokasi yang tidak lagi memperlihatkan asap untuk memastikan tidak ada bara api yang tersisa.

Sebanyak 22 titik panas dalam rekapitulasi terbaru menjadi informasi penting untuk menentukan prioritas pemantauan. Namun, deteksi satelit merupakan indikasi anomali suhu, bukan bukti langsung bahwa seluruh titik merupakan kebakaran aktif.

Verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk memastikan kondisi setiap lokasi. Di tengah prakiraan hujan dan penurunan tingkat kemudahan terbakar, pertanyaan utamanya adalah apakah hujan benar-benar cukup untuk memadamkan bara dan menjaga wilayah rawan tetap aman.(***)