• Kotawaringin Timur (Kotim) telah resmi memasuki musim kemarau sejak awal Juni 2026, meskipun masih terjadi hujan lebat sesekali di Kota Sampit.
• Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, menjelaskan pada Rabu (17/6/2026) bahwa hujan tersebut merupakan mutasi cuaca pada fase awal kemarau dan bukan pertanda kembalinya musim hujan.
• BMKG memprediksi musim kemarau 2026 akan lebih ekstrem, kering, dan berlangsung lebih panjang, sekitar 100 hingga 120 hari ke depan.
• Penurunan volume air akibat kemarau telah memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), di mana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim menanggapi dua titik api pada Senin (15/6/2026), termasuk 0,12 hektare lahan di Jalan Mohammad Hatta Kelurahan Ketapang.
• Selain karhutla, BMKG juga memperingatkan ancaman intrusi air laut di wilayah pesisir selatan Kotim yang berpotensi menyebabkan krisis air payau, merusak pertanian, dan mengganggu pasokan air bersih.
SAMPIT, Kanalindependen.id – Fenomena atmosferik yang membingungkan tengah menyelimuti wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada pertengahan Juni 2026. Hujan lebat yang masih beberapa kali membasahi aspal Kota Sampit dalam beberapa hari terakhir memicu ilusi optik di tengah masyarakat bahwa musim penghujan belum benar-benar berakhir. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) buru-buru mematahkan persepsi tersebut dengan merilis status bahwa Kotim secara klimatologis telah resmi masuk dalam cengkeraman musim kemarau sejak awal Juni 2026.
Anomali Cuaca Kontras dan Durasi Kering yang Lebih Panjang
Kondisi cuaca di Sampit saat ini memang memperlihatkan kepribadian ganda (contrasting weather). Pada siang hari, radiasi matahari terasa sangat terik dan membakar kulit, namun memasuki transisi sore hingga malam hari, awan konvektif mendadak tebal dan menumpahkan hujan berintensitas ringan hingga sedang. BMKG menegaskan, dinamika ini adalah karakteristik mutasi cuaca pada fase awal kemarau dan bukan pertanda kembalinya musim hujan.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo, menjelaskan bahwa pergerakan angin monsun telah mengunci status kemarau di wilayah Bumi Tambun Bungai. Masyarakat diminta tidak terkecoh oleh sisa-sisa pasokan uap air yang memicu hujan sesaat tersebut.
“Juni ini kita sudah resmi memasuki musim kemarau. Namun, secara sains bukan berarti langsung tidak ada hujan sama sekali. Hujan masih bisa terjadi, hanya saja intensitas curah hujan dan frekuensi kejadiannya mulai menurun drastis,” urai Mulyono Leo Nardo saat memberikan konfirmasi ilmiah, Rabu (17/6/2026).
Prognosis jangka panjang BMKG menunjukkan sinyal bahaya yang jauh lebih mengkhawatirkan. Musim kemarau tahun 2026 ini diprediksi akan berjalan jauh lebih ekstrem, kering, dan melorot lebih panjang dari rata-rata historisnya, yakni mencapai durasi sekitar 100 hingga 120 hari ke depan.
Dua Hantaman Karhutla dan Ancaman Krisis Air Payau di Selatan
Dampak dari penurunan drastis volume air langit ini mulai mengirimkan hantaman nyata di sektor kebencanaan hulu. Lahan gambut (peatland) Kotim yang mulai mengering dalam hitungan hari langsung memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hanya dalam satu hari pada Senin (15/6/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim dipaksa pontang-panting merespons dua laporan titik api (hotspot).
Kebakaran pertama melumat lahan belukar di Jalan Mohammad Hatta atau jalur Lingkar Selatan, Kelurahan Ketapang, sekitar pukul 13.56 WIB. Sebanyak 10 personel taktis BPBD disiagakan memadamkan bara gambut seluas 0,12 hektare tersebut sebelum meluas menjilat jalan raya. Beberapa jam kemudian, api kembali menyala di kedalaman 700 meter dari koridor Jalan Tjilik Riwut. Sayangnya, akibat tiadanya akses kendaraan roda empat dan unit water tank, ditambah pekatnya malam, BPBD terpaksa menghentikan operasi pemadaman karena risiko keselamatan personel.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, menegaskan bahwa manifes karhutla ini murni dipicu oleh kesengajaan tangan manusia (human-induced wildfire). “Kami mengimbau keras masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. Potensi karhutla sudah meningkat tajam,” tegasnya.
Selain ancaman api bawah tanah, BMKG juga membunyikan peluit peringatan dini terkait ancaman krisis hidrologis di wilayah pesisir selatan Kotim. Penurunan debit air sungai yang ekstrem akibat kemarau panjang akan memicu hukum hidrolika: air laut akan merangsek masuk jauh ke daratan (intrusi air laut). Jika ini dibiarkan, sumber air baku warga di wilayah selatan akan terkontaminasi garam dan berubah menjadi payau, merusak sektor pertanian padi and pasokan air bersih konsumsi.
Peringatan BMKG mengenai durasi kemarau ekstrem hingga 120 hari di tahun 2026 ini adalah lonceng kematian bagi ketahanan lingkungan jika Pemkab Kotim masih menggunakan pola mitigasi yang serabutan. Fenomena hujan sesekali di malam hari telah menjelma menjadi “ilusi kemarau basah” yang membuat publik and penegak hukum lengah, sementara di bawah permukaan tanah, kadar air gambut Sampit sedang dikuras menuju titik terendah yang sangat reaktif terhadap api.
Keputusan BPBD Kotim membiarkan titik api di Jalan Tjilik Riwut menyala semalaman dengan dalih “aman karena jauh dari permukiman” adalah bentuk pengabaian taktis yang berbahaya. Dalam sosiologi kebencanaan tanah gambut, tidak ada istilah api yang aman. Api yang terisolasi di dalam hutan malam hari bisa merayap di bawah permukaan (subsurface fire) lewat akar-akar kering dan meledak menjadi kebakaran masif berskala regional keesokan harinya begitu dihantam angin kencang siang hari.
Lebih jauh lagi, ancaman intrusi air laut di pesisir selatan Kotim adalah bom waktu ekonomi bagi para petani padi di lumbung pangan seperti Teluk Sampit. Kegagalan Dinas PUPR dan Dinas Pertanian dalam membangun sistem tata air makro—seperti pintu air otomatis (flap gate) and tanggul penahan rob yang permanen—membuat nasib ribuan petani kini digantungkan pada belas kasihan alam. Ketika air sungai berubah menjadi asin, gagal panen massal (puso) akan langsung menghantam stabilitas pangan daerah.
Kanal Independen mendesak Bupati Kotim untuk segera menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla dan Kekeringan 2026 secara dini. Jangan tunggu sampai langit Sampit berubah menjadi kuning akibat kabut asap atau sampai tenggorokan anak-anak di pesisir selatan melepuh karena meminum air payau, baru birokrasi daerah sibuk menggelar rapat koordinasi seremonial. Lakukan patroli udara, segel setiap lahan yang kedapatan memicu asap, and distribusikan teknologi filtrasi air bersih ke wilayah selatan sebelum durasi 120 hari kemarau ini membakar habis sisa-sisa kenyamanan hidup warga Kotawaringin Timur. (***)