Razia Musiman: Merapikan Trotoar, Bukan Mengurai Akar

Polanya hampir selalu sama. Jelang Ramadan, aparat bergerak menertibkan gepeng di titik-titik keramaian, dari persimpangan hingga kawasan perdagangan.

Mereka diamankan, didata, sebagian dibawa ke rumah singgah atau dikembalikan ke daerah asal dengan bantuan jaringan pelabuhan dan moda transportasi.

Ini tampak sebagai penanganan terukur di atas kertas. Akan tetapi, di lapangan, lebih mirip manajemen pandangan mata, yakni memindahkan tubuh-tubuh miskin keluar dari frame kota yang ingin tampak tertib selama bulan suci.

Kotim adalah daerah terbuka dengan akses darat, laut, dan udara yang memudahkan arus manusia masuk dan keluar.

Pemerintah menyebut ini sebagai tantangan dalam pengawasan sosial, terutama saat simpati publik meningkat di bulan puasa.

Namun, jika akses itu hanya dijawab dengan pengetatan razia tanpa diimbangi kebijakan yang menyentuh akar kemiskinan—dari desa asal hingga kota tujuan—maka yang dibangun hanyalah siklus, yakni datang, dirazia, dipulangkan, dan datang lagi tahun berikutnya.

Ujian Kemanusiaan, Siapa Sebenarnya Diuji Ramadan?

Ramadan kerap diglorifikasi sebagai bulan pengendalian diri dan kepedulian sosial. Di Kotim, bulan ini justru menguji kejujuran kita melihat siapa yang sebenarnya sedang diuji. Para gepeng di trotoar, atau negara yang mengklaim hadir untuk semua?

Jika pemerintah daerah lebih cepat mengeluarkan surat edaran penutupan tempat hiburan malam, pengaturan car free day, dan penertiban pasar Ramadan, ketimbang merilis peta masalah kesejahteraan sosial dan rencana konkret pengurangan kemiskinan struktural, maka pesan yang sampai ke publik jelas, yaitu ketertiban ruang lebih penting daripada keadilan sosial.

Gelandangan dan pengemis direduksi menjadi ”masalah” yang mengganggu pemandangan religius, bukan sebagai alarm keras bahwa jaring pengaman sosial kita bocor di banyak sisi.

Pertanyaannya, apakah kita rela menjadikan sedekah di lampu merah sebagai pelipur lara yang menutupi mandat negara untuk menjamin hak dasar warganya?

Atau berani mengakui bahwa tidak semua problem kemiskinan bisa diserahkan kepada kotak amal dan inisiatif filantropi musiman?