Saatnya Beranjak dari Retorika ke Skema Nyata
Kotim butuh keberanian politik untuk keluar dari pola ”penertiban musiman” menuju penanganan yang berkelanjutan.
Artinya, menjadikan data gepeng dan orang terlantar hasil razia sebagai pintu masuk pemetaan kemiskinan lintas daerah asal-tujuan, bukan sekadar arsip administrasi.
Kemudian, menghubungkan Dinsos, pemerintah desa/kota asal, dan lembaga layanan sosial lain dalam satu skema intervensi jangka panjang: akses pekerjaan, bantuan sosial yang tepat sasaran, hingga rehabilitasi bagi yang mengalami kerentanan berlapis.
Selanjutnya, mengundang publik, khususnya komunitas keagamaan yang ramai bergerak di Ramadan, untuk bergeser dari praktik sedekah instan ke dukungan program yang memastikan orang keluar dari jalanan secara bermartabat.
Tanpa langkah-langkah seperti itu, pembicaraan tentang marwah pemerintah daerah akan selalu terdengar kosong di hadapan trotoar yang terus dipenuhi tubuh-tubuh rapuh setiap Ramadan.
Ramadan akan selalu datang dengan wajah religiusnya yang indah. Pertanyaannya, apakah Kotim mau berhenti menjadikan gepeng sebagai bayangan yang setiap tahun disapukan dari trotoar, dan mulai melihat mereka sebagai cermin yang memantulkan sejauh mana daerah ini sungguh-sungguh memuliakan manusia. (redaksi)