Menagih Kejujuran di Atas Puing Kepercayaan
Redaksi Kanal Independen menegaskan bahwa skandal Gedung Expo Sampit harus menjadi alarm keras bagi perbaikan sistemik.
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur memiliki kewajiban moral untuk mengevaluasi total proses pengadaan, mulai dari seleksi konsultan hingga prosedur perubahan kontrak.
Untuk proyek bernilai raksasa, uji desain independen harus menjadi syarat mutlak.
Kita butuh tenaga ahli yang benar-benar bekerja di lapangan, bukan sekadar nama yang dipinjam demi memenangkan lelang.
Setiap addendum harus transparan dan bisa diuji publik agar tidak ada lagi dokumen yang lahir secara sembunyi-sembunyi di pengujung tahun anggaran.
Transparansi adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Lembaga audit negara dan auditor independen perlu didorong untuk membuka hasil temuannya secara gamblang kepada rakyat.
Selama laporan-laporan masalah hanya mendekam di laci elite dan penegak hukum, momentum koreksi tidak akan pernah terjadi.
Masyarakat berhak tahu ke mana setiap rupiah pajak mereka mengalir, proyek mana yang bermasalah, dan siapa yang harus bertanggung jawab secara hukum maupun politik.
Keterbukaan informasi bukanlah ancaman, melainkan syarat utama untuk menyembuhkan luka kepercayaan yang sudah terlanjur menganga.
Kisah Gedung Expo Sampit merangkum satu kenyataan pahit. Semegah apa pun fasad merah itu dipoles, ia akan tetap terlihat ringkih dan memuakkan jika dibangun di atas tumpukan dusta administrasi.
Selama prosedur bisa ditekuk lewat pesan singkat dan dokumen disulap demi hasrat pejabat, APBD bakal terus menjadi ladang jarahan, bukan alat untuk menyejahterakan rakyat.
Gedung yang bocor dan mangkrak itu menjadi pengingat abadi bahwa pengkhianatan terhadap aturan selalu meninggalkan jejak busuk, setebal apa pun lapisan panel ACP membungkusnya.
Tugas warga, media, dan penegak hukum kini adalah menjaga agar jejak ini tidak menguap begitu saja, lalu menjadikannya alasan kuat untuk menuntut perubahan sistem, bukan hanya mencari tumbal untuk meredam kemarahan sesaat. (redaksi)