Kanalindependen.id  – Perubahan iklim ternyata membawa dampak yang lebih luas dari sekadar cuaca ekstrem dan suhu panas. Dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan menemukan krisis iklim turut membuat musim alergi menjadi lebih panjang, lebih intens, dan memicu gangguan kesehatan yang semakin berat.

Kenaikan suhu global membuat banyak tanaman berbunga lebih cepat dan bertahan lebih lama. Kondisi ini menyebabkan produksi serbuk sari atau pollen meningkat drastis di berbagai wilayah dunia.

Tidak hanya itu, tingginya kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer juga disebut membuat tanaman menghasilkan pollen dalam jumlah lebih banyak dibanding sebelumnya.

Sejumlah penelitian menunjukkan musim alergi kini datang lebih awal dan berlangsung lebih lama dibanding beberapa dekade lalu. Di Amerika Serikat misalnya, musim bebas embun beku dilaporkan bertambah rata-rata hingga 21 hari sejak tahun 1970.

Perubahan tersebut memberi waktu lebih panjang bagi tanaman untuk tumbuh dan melepaskan pollen ke udara.

Dokter spesialis THT dari NYU Langone Health, Neelima Tummala, mengatakan banyak pasien kini mengeluhkan alergi yang terasa semakin parah setiap tahun.

Gejala yang muncul beragam, mulai dari bersin berkepanjangan, mata gatal, hidung tersumbat, hingga memicu serangan asma pada sebagian penderita.

Tak hanya suhu panas, badai petir juga disebut dapat memperburuk kondisi alergi. Saat hujan deras disertai kelembapan tinggi terjadi, butiran pollen dapat pecah menjadi partikel yang jauh lebih kecil dan mudah masuk ke paru-paru.

Fenomena tersebut dikenal dengan istilah “thunderstorm asthma” atau asma akibat badai petir.

Di sejumlah wilayah Eropa, musim pollen bahkan tercatat lebih panjang satu hingga dua minggu dibanding era 1990-an. Intensitas pollen juga dilaporkan meningkat hingga 20 persen akibat pemanasan global.

Keluhan masyarakat pun ramai bermunculan di media sosial dan forum daring seperti Reddit. Banyak pengguna mengaku alergi mereka kini terasa jauh lebih buruk dibanding beberapa tahun lalu.

Seorang pengguna di Austin misalnya mengaku mengalami migrain, hidung tersumbat, hingga bersin terus-menerus akibat tingginya kadar pollen dan perubahan cuaca ekstrem.

Para ahli mengimbau masyarakat mulai rutin memperhatikan kualitas udara dan kadar pollen harian untuk mengurangi risiko paparan.

Beberapa langkah sederhana seperti menggunakan filter udara, mandi setelah beraktivitas di luar rumah, menutup jendela saat kadar pollen tinggi, hingga memakai masker dinilai dapat membantu meredakan gejala alergi. (***)