Intinya sih...

• Kebakaran melanda tiga bangunan tempat tinggal di Desa Batuah, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Minggu, 12 April 2026, sekitar pukul 09.30 WIB.
• Ketiga rumah dalam kondisi tidak berpenghuni saat kejadian, mengakibatkan seluruh harta benda di dalamnya ludes terbakar dan kerugian material besar, namun tidak ada korban jiwa.
• Warga setempat bahu-membahu memadamkan api secara swadaya menggunakan peralatan seadanya, karena akses pemadam kebakaran dari pusat kota Sampit terhambat oleh bentang sungai.
• Api berhasil dikendalikan oleh warga sebelum sempat merembet ke permukiman lain.
• Penyebab pasti kebakaran hingga berita ini diturunkan masih dalam penyelidikan, dan aparat desa sedang melakukan pendataan identitas korban.
• Peristiwa ini menyoroti pentingnya penguatan sarana pemadam api di desa-desa dengan akses geografis yang sulit.

SAMPIT, kanalindependen.id – Kepulan asap hitam pekat memecah rutinitas Minggu (12/4/2026) pagi di Desa Batuah, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Tepat pukul 09.30 WIB, kobaran api dengan beringas meratakan tiga bangunan tempat tinggal, merampas habis harta benda warga tanpa sisa.

Tragedi ini menyimpan ironi yang getir. Saat lidah api mulai melahap dinding-dinding rumah, ketiga bangunan tersebut dalam kondisi tak berpenghuni.

Para pemiliknya tengah berada di luar, entah bekerja maupun urusan lainnya, tanpa menyadari bahwa tempat bernaung dan hasil keringat mereka sedang dilalap api.

Amuk si jago merah membesar dengan sangat agresif.

Izai, salah seorang warga yang menjadi saksi mata detik-detik kehancuran tersebut, menuturkan bahwa tidak ada peringatan berarti sebelum api menguasai bangunan.

”Baru saja terjadi sekitar pukul 09.30 tadi. Ada tiga rumah yang terbakar,” ungkap Izai di tengah hiruk-pikuk dan kepanikan warga yang berupaya memadamkan kobaran.

Pertahanan Swadaya di Seberang Sungai

Peristiwa ini kembali membuka mata terkait kerentanan penanganan musibah di wilayah Kecamatan Seranau.

Keterbatasan akses dan bentang sungai yang memisahkan desa dari pusat kota Sampit, membuat jangkauan armada pemadam kebakaran terhambat.

Kondisi ini memaksa warga Desa Batuah untuk mengambil alih kendali.

Dengan semangat gotong royong, mereka bahu-membahu menahan laju api bermodalkan ember, pompa air kecil, dan wadah penampung air seadanya.

Kerja keras tersebut membuahkan hasil; api berhasil dikendalikan sebelum merembet ke permukiman lain.

Meski tidak ada korban jiwa, dampak materiel yang ditimbulkan sangat telak.

Karena rumah dalam kondisi kosong, praktis tidak ada barang berharga, mulai dari pakaian, surat berharga, hingga perabotan, yang berhasil diselamatkan. Semuanya kini menyatu dengan tanah dalam bentuk arang dan abu.

Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan.

Aparat desa setempat juga masih melakukan pendataan identitas korban, sembari menunggu kepulangan para pemilik rumah untuk mendapati kenyataan pahit tersebut.

Di luar dugaan penyebab teknis, tragedi ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk kembali memikirkan penguatan sarana pemadam api di desa-desa yang memiliki akses geografis sulit seperti Seranau. (***/ign)