Intinya sih...

• Sebuah tongkang pengangkut bauksit menabrak sejumlah lanting milik warga di Desa Sungai Paring, Kecamatan Cempaga, pada Kamis, 19 Februari 2026.
• Insiden tersebut menyebabkan sekitar lima lanting terdampak, dengan satu di antaranya hanyut terbawa arus sungai.
• Menurut warga, kejadian serupa telah berulang kali terjadi dan menimbulkan keresahan, mengingat lanting digunakan untuk aktivitas sehari-hari.
• Warga berharap adanya perhatian serius dari perusahaan pemilik tongkang dan instansi berwenang untuk memperketat pengawasan serta pengaturan lalu lintas tongkang.
• Hingga berita ini diterbitkan, penyebab pasti insiden belum diketahui dan belum ada keterangan resmi dari pihak terkait.

SAMPIT, Kanalindependen.id– Hari belum sepenuhnya siang ketika dentuman keras memecah ketenangan Sungai Paring. Air yang biasanya mengalir tenang mendadak bergolak. Warga di bantaran sungai tersentak sebuah tongkang pengangkut bauksit melaju terlalu dekat, lalu menghantam lanting-lanting milik warga.

Peristiwa itu terjadi di Desa Sungai Paring, Kecamatan Cempaga, Kamis (19/2/2026).  Dalam hitungan detik, lanting yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan warga tempat menambat perahu, mencuci, hingga beraktivitas sehari-hari bergeser dari posisinya. Satu di antaranya tak sempat diselamatkan, hanyut terbawa arus sungai.

Ardi Cempaka, warga setempat, masih mengingat jelas kepanikan yang terjadi sesaat setelah benturan itu.

“Benar, baru saja kejadiannya,” katanya singkat, seolah peristiwa itu masih bergema di kepalanya.

Rekaman video yang beredar di kalangan warga memperlihatkan momen ketika badan tongkang menghantam lanting-lanting di tepian sungai. Benturan keras membuat beberapa lanting bergeser, terlepas dari tambatannya.

“Kalau dilihat dari video, saya perkirakan ada sekitar lima lanting yang terdampak. Satu di antaranya hanyut,” ujar Ardi.

Bagi warga Sungai Paring, kejadian ini bukan cerita baru. Tabrakan tongkang dengan lanting disebut sudah berulang kali terjadi. Setiap insiden meninggalkan jejak kerusakan—dan rasa waswas yang semakin menumpuk.

“Sudah beberapa kali kejadian seperti ini. Warga jelas resah,” kata Ardi.

Keresahan itu bukan tanpa alasan. Banyak warga menggantungkan aktivitas harian di lanting, dari urusan rumah tangga hingga mencari nafkah. Setiap tongkang melintas terlalu dekat, rasa cemas ikut mengapung di permukaan sungai.

Warga pun berharap ada perhatian serius dari pihak terkait baik perusahaan pemilik tongkang maupun instansi berwenang. Mereka meminta pengawasan dan pengaturan lalu lintas tongkang diperketat, terutama di kawasan permukiman warga di sepanjang bantaran sungai.

Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti tongkang pengangkut bauksit tersebut menabrak lanting warga belum diketahui. Belum ada keterangan resmi dari pihak terkait. Sementara itu, warga Sungai Paring masih berjibaku mengamankan lanting yang rusak berusaha mempertahankan ruang hidup mereka, dari sungai yang seharusnya memberi kehidupan, bukan ancaman. (***)