Intinya sih...

• Seorang pria melakukan pencurian di Warung Restu Ibu, Jalan Panjaitan, Sampit, pada Jumat dini hari (19/6/2026), antara pukul 01.30 hingga 02.00 WIB.
• Aksi pelaku terekam CCTV, menunjukkan ia sempat menengadahkan tangan seperti berdoa di dekat korban yang terlelap, sebelum menggasak satu unit telepon seluler dan sejumlah uang tunai.
• Rekaman CCTV pencurian tersebut menjadi viral di media sosial dan memicu perbincangan warganet.
• Insiden ini merupakan kasus pencurian ketiga yang terjadi di Warung Restu Ibu dalam kurun waktu terakhir.
• Warga Jalan Panjaitan mendesak Polres Kotim untuk meningkatkan patroli malam dan segera menangkap pelaku yang wajahnya terekam jelas di CCTV.

SAMPIT, Kanalindependen.id – Degradasi moral berkelindan dengan anomali perilaku kriminal di pusat Kota Sampit kian mempertontonkan fenomena yang menggelitik sekaligus mencemaskan. Sirkuit keamanan domestik kembali bobol setelah rekaman kamera pengawas atau CCTV dari Warung Restu Ibu di kawasan Jalan Panjaitan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit, mendadak viral dan memicu perbincangan hangat akibat aksi pencurian dengan modus operandi yang di luar nalar sehat, Jumat (19/6/2026) dini hari.

Ritual Ironis di Samping Korban yang Tertidur Lelap

Aksi kriminal yang terekam jelas secara visual ini pecah pada jam rawan, yakni antara pukul 01.30 hingga 02.00 WIB. Memanfaatkan situasi lanskap perkotaan yang sepi dan kelengahan pemilik warung yang tengah terlelap melepas penat, seorang pria misterius berhasil menyusup masuk ke dalam area privat tempat usaha tersebut.

Bukannya langsung menggasak barang berharga, pelaku justru mempertontonkan gestur teatrikal yang membuat warganet geleng-geleng kepala. Sebelum mengeksekusi aksinya, pria tersebut sempat berdiri dan menengadahkan kedua belah tangannya menyerupai orang yang sedang khusyuk memanjatkan doa di dekat tubuh korban. Usai merampungkan ritual ironisnya, ia dengan cepat menggasak satu unit telepon seluler dan sejumlah uang tunai milik korban tanpa menimbulkan keributan sedikit pun.

Gelombang rekaman CCTV yang tersebar luas di jagat maya seketika memancing sinisme dan komentar satir dari para pengguna media sosial yang menyoroti kontradiksi moral sang pencuri.

“Berdoa supaya tidak ketahuan dan aman dari amukan massa,” tulis  Eka Purnama Sari dalam kolom komentar di Instagram yang viral.

“Berdoa biar usahanya lancar,” timpal akun netizen lain bernama Aninda, menggambarkan betapa absurdnya pemanfaatan simbol kesucian demi memuluskan tindakan profan.

Teror Tiga Kali Kebobolan dan Desakan Patroli Malam

Di balik riuh rendahnya candaan satir di media sosial, insiden ini menyisakan trauma dan ketakutan riil bagi korban dan warga sekitar Jalan Panjaitan. Berdasarkan informasi yang dihimpun di tingkat tapak, peristiwa ini merupakan kasus pencurian ketiga yang sukses melumat harta benda di Warung Restu Ibu dalam kurun waktu beberapa waktu terakhir.

Berulangnya kasus serupa membuktikan adanya celah keamanan yang menganga lebar di kawasan tersebut, terutama saat memasuki pergantian malam hingga dini hari. Warga kini mendesak aparat penegak hukum untuk tidak menutup mata terhadap rekaman visual yang sudah mengekspos wajah pelaku dengan sangat benderang. Masyarakat menuntut adanya eskalasi patroli roda empat dan roda dua dari Polres Kotim guna mengembalikan rasa aman komunal.

Aksi nekat pencuri yang sempat “berdoa” sebelum menggasak Warung Restu Ibu di Jalan Panjaitan menyajikan sebuah paradoks sosiologi kriminal yang mendalam. Perilaku ini bukan sekadar bumbu komedi kriminal biasa, melaikan cerminan dari distorsi psikologis akut di mana pelaku mencoba melakukan rasionalisasi moral atau spiritual atas sebuah tindakan pelanggaran hukum yang gamblang.

Secara kriminologis, ada fenomena penyimpangan kesadaran di mana pelaku merasa tindakannya “direstui” atau setidaknya membutuhkan proteksi metafisik agar selamat dari amukan massa. Namun, dari sudut pandang sosiologi urban Sampit, berulangnya kasus pencurian di Warung Restu Ibu hingga tiga kali berturut-turut adalah potret buram dari lemahnya sistem deteksi dini dan patroli preventif kepolisian di zona komersial mikro. Warung kelontong dan kedai keluarga yang beroperasi hingga larut malam adalah tulang punggung ekonomi akar rumput yang paling rentan menjadi sasaran empuk kejahatan jalanan karena ketiadaan proteksi sekuriti profesional.

Polres Kotim tidak boleh membiarkan keresahan warga Jalan Panjaitan menguap begitu saja. Wajah pelaku sudah terpampang nyata tanpa sensor di media sosial, sehingga tidak ada alasan birokrasial bagi unit buru sergap untuk menunda penangkapan. Jika pelaku pencurian berulang seperti ini dibiarkan berkeliaran bebas tanpa ada tindakan tegas, maka hukum kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian akan merosot drastis. Pemerintah daerah bersama aparat keamanan harus merumuskan sistem pengamanan lingkungan yang terintegrasi, termasuk optimalisasi pos kamling dan penambahan lampu penerangan jalan umum, agar ruang gelap malam di Sampit tidak terus-menerus dikuasai oleh para pemburu harta instan yang kehilangan kompas moralnya. (***)