Intinya sih...

• Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menghadapi krisis pendanaan setelah belum menerima anggaran dari pemerintah daerah sejak pergantian kepengurusan pada 14 Agustus 2025.
• Ketua KONI Kotim, Alexius Esliter, mengungkapkan bahwa seluruh kegiatan KONI dan cabang olahraga selama tujuh bulan terakhir berjalan murni dari swadaya pribadi pengurus dan pelatih.
• Situasi ini ironis mengingat Kotim merupakan juara umum Porprov XII Kalteng 2023, namun anggaran hibah Rp3 miliar untuk pembinaan tidak kunjung cair dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kotim.
• Ketiadaan jaminan finansial telah memicu eksodus sejumlah atlet potensial Kotim ke kabupaten lain yang menawarkan fasilitas dan dana pembinaan yang lebih baik.
• KONI Kotim berharap pemerintah daerah segera memberikan kepastian pendanaan agar persiapan kontingen menuju Porprov Kalteng 2026 dapat berjalan optimal dan tidak hanya mengandalkan semangat juang atlet.

SAMPIT, kanalindependen.id – Krisis pendanaan menjerat pembinaan olahraga di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Sejak pergantian kepengurusan 14 Agustus 2025, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kotim belum menerima anggaran satu rupiah pun dari pemerintah daerah.

Kondisi tersebut memaksa sebagian cabang olahraga dan pengurus bertahan murni melalui pendanaan swadaya.

Fakta operasional itu dibeberkan Ketua KONI Kotim, Alexius Esliter, di hadapan elemen mahasiswa dan pemuda yang datang menuntut kejelasan nasib kontingen, baru-baru ini.

Baca Juga: Sengkarut Persiapan Porprov di Kotim: Ultimatum 3×24 Jam, Desak Bupati Evaluasi Kadispora

”Sejak saya dilantik sampai hari ini, kami belum menerima satu rupiah pun dana dari pemerintah daerah. Semua kegiatan KONI dan cabang olahraga berjalan murni dari inisiatif dan kemampuan pribadi masing-masing,” kata Alexius.

Dia tidak menutupi beban yang kini dipikul pengurus dan pelatih di lapangan demi menjaga pembinaan agar tidak terhenti jelang Porprov Kalteng 2026.

“Saya terbuka saja dengan teman-teman mahasiswa dan pemuda, mulai dari biaya latihan, transportasi, hingga kebutuhan rapat, semuanya ditanggung sendiri. Ini tentu sangat berat, tapi kami tidak ingin atlet berhenti hanya karena tidak ada anggaran,” lanjutnya.

Ironi Sang Juara Bertahan

Realita swadaya yang membebani pengurus dan atlet berbanding terbalik dengan sejarah kejayaan olahraga daerah.

Kotim tercatat sebagai penguasa Porprov XII Kalteng 2023 dengan raihan 113 medali emas, terpaut 30 emas dari peringkat kedua.

Kemenangan itu dulunya lahir dari kepastian program dan sokongan anggaran.

Baca Juga: Editorial: Juara Bertahan Porprov Kalteng yang Lupa Cara Menang

Hari ini kondisinya berbeda. Upaya mempertahankan muruah sebagai juara umum tak ditopang dana hibah Rp3 miliar untuk pembinaan yang tak bergerak di DPA Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kotim.

Batas Kesabaran dan Eksodus

Macetnya aliran dana selama tujuh bulan ini berada dalam ranah pengawasan DPRD Kotim dan eksekutif.

Alexius menegaskan, semangat juang para atlet membutuhkan jaminan finansial yang nyata.

”Kami hanya berharap ada kepastian. Atlet tidak bisa terus bergantung pada semangat saja. Mereka butuh dukungan nyata,” katanya.

Catatan Kanal Independen dari pemberitaan sebelumnya, satu skenario terburuk nyatanya sudah mulai tervalidasi.

Ketiadaan jaminan program telah memicu eksodus sejumlah atlet potensial ke kabupaten lain yang lebih siap menawarkan fasilitas dan dana pembinaan.

Jika eksodus ini terus bergulir dan pencairan tetap tertahan, persiapan kontingen Kotim menuju Porprov 2026 murni hanya bersandar pada sisa kemampuan swadaya masing-masing cabang olahraga. (ign)