• Dua perwira polisi wanita (Polwan), AKBP Arum Sari Puspita Dewi dan AKBP Rina Perwitasari, ditunjuk sebagai Kapolres di wilayah hukum Polda Kalimantan Tengah pada Jumat, 26 Juni 2026.
• AKBP Arum Sari Puspita Dewi menjabat Kapolres Gunung Mas menggantikan AKBP Heru Eko Wibowo, sementara AKBP Rina Perwitasari mengisi kursi Kapolres Kapuas menggantikan AKBP Gede Eka.
• Penunjukan ini mencetak sejarah sebagai kali pertama Polwan memegang komando Polres di Kalimantan Tengah, meruntuhkan tradisi kepemimpinan laki-laki selama puluhan tahun.
• Kedua Polwan tersebut memiliki rekam jejak karier di jalur reserse, sebuah unit yang umumnya didominasi laki-laki, sebelum penempatan ini.
• Mutasi ini juga mencakup pergantian sejumlah pejabat utama Polda Kalteng, termasuk Irwasda, Karorena, Karo SDM, Karo Logistik, Kabidkum, serta beberapa Kapolres lain seperti Kotawaringin Barat, Lamandau, Murung Raya, dan Dansatbrimob.
• Kabid Humas Polda Kalteng Kombes Pol Budi Rachmat membenarkan mutasi tersebut sebagai bagian dari penyegaran organisasi dan pembinaan karier.
SAMPIT, kanalindependen.id – Selama puluhan tahun, kursi komando di empat belas Kepolisian Resor jajaran Polda Kalimantan Tengah teramat identik dengan kepemimpinan laki-laki.
Tembok tradisi itu runtuh pada Jumat (26/6/2026). Lewat surat telegram yang diteken As SDM Kapolri, dua teritorial rawan dinamika sosial, Gunung Mas dan Kapuas, dipercayakan ke tangan AKBP Arum Sari Puspita Dewi dan AKBP Rina Perwitasari.
AKBP Arum ditunjuk memegang komando Polres Gunung Mas, menggantikan AKBP Heru Eko Wibowo yang ditarik menjadi Wakapolresta Surakarta.
Adapun AKBP Rina dipercaya mengisi kursi Kapolres Kapuas yang sebelumnya diduduki AKBP Gede Eka.
Catatan penempatan ini memiliki bobot historis. Kalteng sempat terlewat saat Mabes Polri melakukan dua gelombang besar promosi polwan sebagai Kapolres.
Pada Maret 2025, sepuluh polwan diangkat memimpin wilayah di Bali, Sumatra Utara, Lampung, hingga Papua.
Kemudian, pada Desember 2025, enam polwan kembali dipromosikan di Karimun hingga Samosir.
Nama Kalteng baru masuk dalam gerbong mutasi pada pengujung Juni 2026 ini, langsung dengan dua penunjukan.
Jejak Panjang Jalur Reserse
Hal yang patut dicatat, Arum dan Rina bukanlah perwira karbitan meja. Meski posisi terakhir mereka sebelum penunjukan ini berada di jalur staf dan pendidikan, yakni Arum di Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri dan Rina di kesekretariatan Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah (Sespimmen), keduanya justru meniti karier dari lapangan reserse, unit yang lazim didominasi laki-laki.
Jejak digital Arum tergolong terang. Dia alumnus Akademi Kepolisian 2006, tercatat pernah memperkuat Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Timur sebelum menjabat Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Pasuruan Kota.
Sementara itu, AKBP Rina menapaki jalur penindakan serupa di Jawa Barat. Kariernya membentang dari Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Bandung, Kasat Reskrim Polres Majalengka dan Polresta Cirebon, hingga menjabat Wakapolres Kuningan.
Latar belakang penindakan ini menjadi modal penting untuk konteks Kalteng. Rina ditempatkan di Kapuas, dan Arum diserahi komando di Gunung Mas.
Keduanya tidak datang sebagai pemimpin tanpa pengalaman lapangan, melainkan perwira reserse teruji yang kini dikirim ke teritorial padat persoalan.
Ketimpangan Komando dan Budaya Patriarki
Secara makro, penempatan mereka sejalan dengan kebijakan pengarusutamaan gender Korps Bhayangkara.
Pada akhir 2025, Polri mendorong 35 polwan ke jabatan strategis untuk memperkuat penanganan kasus perempuan dan anak.
Meski begitu, ketimpangan struktur komando masih curam. Saat ini hanya ada lima polwan berpangkat jenderal di seluruh Polri, dengan rekor jabatan tertinggi sepanjang sejarah mentok di level Kapolda, terakhir dijabat Rumiah Kartoredjo di Banten.
Merespons hal ini, Guru Besar Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran, Muradi, sempat menilai kemunculan Kapolri perempuan masih butuh waktu sepuluh hingga dua puluh tahun akibat minimnya serapan polwan dari Akademi Kepolisian.
Pengamat dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Andy Ahmad Zaelany, memetakan persoalannya pada budaya patriarki yang menghambat akses promosi.
Gerbong Mutasi Pejabat Utama
Sementara itu, di luar rotasi kapolres, gerbong mutasi Juni 2026 ini turut mengubah formasi pejabat utama Polda Kalteng.
Kursi Inspektur Pengawasan Daerah (Irwasda) akan beralih dari Kombes Pol Benny Ganda Sudjana kepada Kombes Pol Djoko Susilo, mantan Irwasda Polda Aceh.
Brigjen Pol Andreas Wayan Wicaksono yang memasuki masa pensiun akan menyerahkan pos Karorena kepada Kombes Pol Susilo Setiawan dari Polda NTB.
Kombes Pol Adewira Negara Siregar ditunjuk mengisi posisi Karo SDM dari Kombes Pol Leo Surya Nugraha, dan Kombes Pol Elijas Hendrajana dipercaya memegang kendali Karo Logistik.
Pergeseran juga menyentuh pos hukum dan wilayah. Kombes Pol Ronny Yulianto ditunjuk menjadi Analis Kebijakan Madya Bidang Bankum Divkum Polri, dan akan menyerahkan kursi Kabidkum kepada AKBP Jovan R. Sumual.
Pada jajaran Polres lainnya, AKBP Joko Handono akan memimpin Kotawaringin Barat menggantikan AKBP Theodorus Priyo, sementara posisinya di Lamandau akan diisi AKBP Eko Yusmiarto.
Terakhir, AKBP Agung Gima dari Kasubbid Paminal Bidpropam Polda Kalteng dipercaya memimpin Polres Murung Raya menggantikan AKBP Frangki Matias.
Kepala Bidang Humas Polda Kalteng Kombes Pol Budi Rachmat, mewakili Kapolda Irjen Pol Iwan Kurniawan, membenarkan pergeseran susunan pejabat yang tertuang dalam surat telegram tersebut.
Setelah mengonfirmasi deretan mutasi di tingkat resor dan pejabat utama, Budi menyebut ada satu pergantian lagi di satuan elite.
”Selain itu, jabatan Dansatbrimob Polda Kalteng juga mengalami pergantian dari Kombes Pol Irwan Jaya kepada Kombes Pol Dieno Hendro Widodo,” ujar Budi dalam siaran persnya.
Dia juga menambahkan pernyataan administratif yang selalu menyertai pergantian struktur di kepolisian.
”Mutasi ini merupakan hal yang biasa, dalam rangka penyegaran organisasi dan pembinaan karier, serta untuk menambah pengalaman personel,” ujarnya.
Penyegaran organisasi itu kini menempatkan dua perwira perempuan berlatar reserse ke tengah lanskap Kalteng yang keras.
Gunung Mas dan Kapuas memiliki benturan dinamika sosial dan kompleksitas konflik agraria. Sejarah memang sudah dicetak di dalam surat telegram, tetapi ujian sesungguhnya bagi Arum dan Rina baru akan dimulai di lapangan. (ign)