Intinya sih...

• Seorang ibu rumah tangga bernama Ida Suaimi menjadi korban penjambretan di Jalan Cristopel Mihing, Kecamatan Baamang, Sampit, Kotawaringin Timur, pada Jumat pagi (10/7/2026) sekitar pukul 06.00 WIB.
• Dua pelaku mengendarai sepeda motor jenis Yamaha Jupiter tanpa pelat nomor dan merampas kalung emas milik korban saat memepet dari belakang.
• Kalung emas korban dengan kadar 700 dan berat sekitar 10 gram putus menjadi dua bagian, di mana setengahnya berhasil dibawa kabur pelaku.
• Insiden tersebut terjadi di tengah ramainya aktivitas warga dan sempat terekam kamera pengawas (CCTV) di lokasi kejadian.
• Hingga berita ini diturunkan, korban Ida Suaimi menyatakan belum membuat laporan resmi ke pihak kepolisian.

SAMPIT, Kanalindependen.id  – Keamanan ruang publik di wilayah Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kembali berada dalam lampu kuning seiring maraknya aksi kejahatan jalanan. Kali ini, aksi penjambretan nekat melanda kawasan Kecamatan Baamang pada Jumat pagi (10/7/2026) sekitar pukul 06.00 WIB lebih. Seorang ibu rumah tangga menjadi sasaran empuk dua pria tak dikenal yang berboncengan sepeda motor saat situasi jalanan justru mulai ramai oleh aktivitas warga.

Kronologi Eksekusi di Koridor Jalan Cristopel Mihing

Insiden tersebut meletus tepat di koridor Jalan Cristopel Mihing, di depan Gang Tri Putra. Meskipun matahari telah terbit dan mobilitas warga di sekitar lokasi kejadian terpantau ramai, hal itu tidak menyiutkan nyali para komplotan penjahat jalanan ini untuk mengeksekusi targetnya. Pelaku bergerak cepat dan langsung melarikan diri sesaat setelah berhasil merampas perhiasan korban.

Korban yang diketahui bernama Ida Suaimi membenarkan tragedi yang menimpa dirinya tersebut. Ia menjelaskan bahwa kedua pelaku datang memepet dari arah belakang secara mendadak sebelum menarik paksa perhiasan yang melingkar di lehernya.

“Iya benar, saya kena jambret. Kalung ditarik dari belakang sekitar jam enam lewat. Saat itu sudah ramai orang,” urai Ida Suaimi memberikan konfirmasi atas musibah yang dialaminya.

Modus Jupiter Tanpa Pelat dan Kalung Emas yang Putus Dua

Hantaman tarikan paksa yang begitu kuat dari eksekutor membuat kalung emas milik korban putus menjadi dua bagian. Berdasarkan manifes korban, perhiasan tersebut memiliki kadar 700 dengan berat total sekitar 10 gram. Setengah bagian dari kalung emas tersebut berhasil digondol kabur oleh pelaku, sementara sisa patahannya masih tersangkut di leher korban.

Aksi kriminalitas ini pun sempat terekam oleh kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi. Berdasarkan rekaman video dan foto yang beredar, modus operandi pelaku meliputi: Armada Operasional: Kedua pelaku menunggangi sepeda motor jenis Yamaha Jupiter yang sengaja dilepas pelat nomor kendaraannya untuk mempersulit pelacakan. Profil Pengendara Depan: Bertindak sebagai joki, mengenakan jaket hitam dan helm pelindung kepala. Profil Eksekutor Belakang: Bertindak sebagai penarik kalung, mengenakan baju cokelat dan penutup kepala berupa topi.

Warga di sekitar TKP menduga kuat bahwa aksi penjambretan ini telah direncanakan secara matang oleh para pelaku. Meskipun korban mengaku belum membuat laporan resmi ke pihak kepolisian hingga berita ini diturunkan, sirkuit informasi dan bukti CCTV sudah menyebar luas di tengah masyarakat.

Keberanian dua pelaku menjambret kalung emas milik Ida Suaimi di Jalan Cristopel Mihing pada pukul 06.00 WIB lebih adalah bukti nyata bahwa para pelaku kejahatan jalanan (street crime) di Sampit kian berani, oportunis, dan tidak lagi memedulikan kehadiran massa. Beraksi di tengah ramainya aktivitas pagi hari menunjukkan adanya pergeseran pola kriminalitas, di mana pelaku memanfaatkan kelengahan warga yang mengira suasana ramai aman dari kejahatan. Namun, catatan kritis yang paling tajam dari insiden ini bukanlah sekadar hilangnya emas 10 gram, melainkan fakta pembiaran terhadap maraknya sepeda motor tanpa pelat nomor yang bebas berseliweran di jalanan Sampit.

Kanal Independen menegaskan bahwa penggunaan sepeda motor Jupiter tanpa pelat nomor dalam aksi ini adalah manifes dari lemahnya sirkuit pengawasan lalu lintas dan patroli preventif di tingkat tapak. Kendaraan tanpa pelat adalah alat utama yang paling disukai oleh pelaku kriminal karena secara otomatis melumpuhkan efektivitas pelacakan kamera ETLE maupun CCTV lingkungan. Jika polisi dan Dinas Perhubungan terus membiarkan kendaraan tanpa identitas resmi ini bebas melintasi jalan-jalan protokol, maka Sampit secara tidak langsung sedang menyediakan “karpet merah” bagi para pelaku kejahatan jalanan untuk beraksi secara bebas.

Polres Kotim dan Polsek Baamang tidak boleh pasif dan berlindung di balik alasan “menunggu laporan resmi dari korban”.

Gunakan rekaman CCTV dan foto manifes pelaku yang sudah beredar luas sebagai dasar hukum untuk melakukan perburuan represif, lacak sirkuit pelarian mereka, dan gila-gilaan gelar razia kendaraan tanpa pelat nomor di seluruh titik strategis Kota Sampit!

Jika kejahatan jalanan di pagi hari ini dibiarkan berlalu tanpa penegakan hukum yang radikal, maka rasa aman warga Kotim saat melangkah keluar rumah akan total ambruk, dan jalanan kota akan dikuasai oleh hukum rimba para bandit bermotor. (***)