- Seekor orangutan (Pongo pygmaeus) dilaporkan muncul di kawasan permukiman warga Dusun Remiling, Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), diduga terdesak akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
- Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit menindaklanjuti laporan warga dengan melakukan observasi dan penyisiran lapangan pada Senin (2/11/2026).
- Hasil observasi, petugas menemukan satu sarang orangutan kelas A (baru) di lokasi yang didominasi kebun karet, rotan, dan sawit, dengan sebagian area telah terbakar dan beberapa titik lahan masih membara.
- Kemunculan orangutan merupakan dampak langsung dari rusaknya ekosistem hutan penyangga di Kecamatan Seranau, memaksa satwa tersebut mencari makan karena kehabisan pakan dan terkepung asap karhutla.
- BKSDA mengimbau masyarakat Dusun Remiling untuk tidak melakukan tindakan anarkis atau mengintimidasi satwa dilindungi tersebut, serta meminta warga segera melapor jika orangutan kembali muncul.
- BKSDA menyiagakan tim untuk rencana operasi penyelamatan dan translokasi orangutan, sementara Polres Kotim dan Polsek Seranau didesak menindak tegas oknum pembuat titik api di Desa Ganepo.
SAMPIT, Kanalindependen.id – Konflik ruang antara satwa liar dilindungi dan aktivitas manusia akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meletus di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Seekor orangutan (Pongo pygmaeus) dilaporkan muncul menyatroni kawasan permukiman warga di Dusun Remiling, Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotim.
Merespons aduan darurat dari warga bernama Samsul yang melihat penampakan satu individu orangutan pada Sabtu sore, tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit langsung diterjunkan melangsungkan observasi dan penyisiran lapangan pada Senin (2/11/2026).
Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, memimpin langsung tiga personelnya melakukan penyisiran berjalan kaki dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB menyusuri kebun karet, komoditas rotan, dan kebun kelapa sawit milik warga.
Meski individu orangutan tidak ditemukan saat penyisiran, tim BKSDA menemukan bukti otentik keberadaan primata langka tersebut.
“Hasil observasi lapangan, petugas menemukan satu sarang orangutan kelas A (sarang baru). Vegetasi di sekitar lokasi didominasi kebun karet, rotan, dan sawit. Sebagian area telah terbakar dan beberapa titik lahan masih dalam kondisi membara saat observasi berlangsung,” terang Muriansyah, Selasa (3/11/2026).
Terdesak Karhutla Seranau, BKSDA Imbau Warga Amankan Perimeter
Temuan sarang kelas A di tengah kepungan lahan yang masih terbakar mempertegas bahwa orangutan tersebut terdesak keluar dari habitat aslinya akibat kehabisan pakan dan terkepung asap Karhutla di wilayah Kecamatan Seranau.
Petugas BKSDA Resort Sampit memberikan edukasi dan pengarahan khusus kepada warga Dusun Remiling agar tidak melakukan tindakan anarkis atau mengintimidasi satwa dilindungi tersebut.
“Kami meminta masyarakat segera melapor jika orangutan tersebut kembali muncul. Perhatikan arah pergerakannya dan jangan sekali-kali ditangkap, dilukai, atau diusir dengan kekerasan,” imbau Muriansyah.
BKSDA kini menyiagakan tim untuk rencana operasi penyelamatan (rescue operation) dan translokasi jika individu orangutan tersebut kembali mendekati kebun atau pemukiman warga.
Kemunculan orangutan di Desa Ganepo merupakan dampak langsung dari rusaknya ekosistem hutan penyangga di Kecamatan Seranau akibat amuk Karhutla. Ketika hutan tempat tinggalnya hangus, satwa terpaksa mempertaruhkan nyawa mendekati kebun warga untuk bertahan hidup mencari makan.
Mengingat lahan di sekitar lokasi masih membara, BKSDA Kalteng didesak tidak sekadar menunggu laporan warga, tetapi segera menerjunkan Tim Medical Rescue untuk menembak bius dan memindahkan orangutan tersebut ke kawasan konservasi aman (seperti TN Sebangau atau Suaka Margasatwa Lamandau).
Polres Kotim dan Polsek Seranau dituntut menindak tegas oknum pembuat titik api di Desa Ganepo, karena pembakaran lahan tidak hanya memicu kabut asap bagi warga tetapi juga menghancurkan biodiversitas satwa langka Kalimantan. (***)