• Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengevaluasi penanganan kabut asap akibat karhutla yang telah berlangsung tiga bulan, mengganggu operasional penerbangan dan pembelajaran sekolah di Kota Sampit.
• Bupati Kotim Halikinnor memerintahkan agar setiap titik karhutla dipadamkan dan dilanjutkan dengan pendinginan hingga tuntas, tidak hanya ditinggalkan, mengingat karakter lahan gambut yang rentan bara api bawah tanah. Rapat evaluasi dilaksanakan pada Rabu (30/9/2026).
• Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidimantra mengusulkan pengerahan dua tim berbeda (pemadam dan pendingin) untuk satu titik api, bahkan bila diperlukan selama 24 jam, serta menjaga suplai air yang cukup selama operasi.
• Berdasarkan penjelasan BMKG, sebagian besar asap yang menyelimuti Kota Sampit merupakan kiriman dari kebakaran di wilayah selatan Kotim, seperti di Kecamatan Pulau Hanaut, Seranau, dan Mentaya Hilir Utara, sehingga penanganan di area tersebut perlu diperkuat.
• Mulai 1 Oktober, Pemkab Kotim akan memperbaiki pembagian shift petugas dengan menambah personel dan mobil untuk penanganan malam hari, serta mendorong penguatan peran masyarakat dalam pencegahan dan penanganan dini karhutla.
• Untuk mengatasi keterbatasan air di lapangan, direncanakan pembangunan 2-4 sumur bor tambahan di lokasi strategis. Indikator keberhasilan penanganan karhutla adalah kembalinya operasional penerbangan dan pembelajaran tatap muka di sekolah secara normal.
SAMPIT, kanalindependen.id – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih menghadapi tantangan mengatasi kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah kawasan di Kota Sampit.
Selama kurang lebih tiga bulan terakhir, karhutla yang belum berakhir telah mengakibatkan operasional penerbangan terganggu dan sekolah terpaksa harus memberlakukan pembelajaran dari rumah demi keselamatan kesehatan siswa.
Kondisi ini mendorong Bupati Kotim Halikinnor mengevaluasi secara teknis pola penanganan karhutla dan memerintahkan agar setiap titik kebakaran tidak hanya dipadamkan, tetapi dilanjutkan dengan pendinginan hingga benar-benar tuntas.
Halikinnor menilai pola pemadaman yang selama ini dilakukan perlu diperbaiki. Tim selama ini bergerak cepat ketika mendapat laporan api membesar, tetapi persoalan muncul ketika satu titik sudah dipadamkan lalu petugas berpindah ke lokasi lain tanpa memastikan proses pendinginan benar-benar selesai.
”Kalau kita terus bergerak dari satu titik ke titik lain tanpa penyelesaian, sementara hujan belum tentu turun, asap akan kembali muncul, maka upaya pendinginan harus dilakukan sampai tuntas. Ada tim yang fokus melakukan pendinginan sampai bara api padam, pastikan asapnya benar-benar hilang,” kata Halikinnor saat memberikan arahan saat memimpin rapat evaluasi teknis penanganan karhutla di Aula BPBD Kotim, Rabu (30/9/2026).
Karakter lahan gambut menjadi salah satu penyebabnya. Api yang terlihat di permukaan dapat saja padam, tetapi bara masih bertahan dan menjalar di bawah tanah.
Ketika kondisi kembali kering dan terkena angin, bara tersebut dapat kembali menghasilkan asap.
”Apalagi tanah di Kotim sebagian besar gambut, api bisa menjalar di bawah permukaan tanah. Berbeda dengan tanah mineral di wilayah utara, api relatif lebih mudah dipadamkan,” ujarnya.
Karena itu, Bupati meminta setiap titik yang ditangani benar-benar dituntaskan sebelum tim berpindah ke lokasi lain.
”Kalau ada satu titik, tuntaskan satu titik itu terlebih dahulu. Setelah itu bisa dilanjutkan ke titik lainnya,” tegasnya.
Strategi pemadaman karhutla juga diperkuat Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidimantra.
Ia mengusulkan agar pemadaman dan pendinginan dilakukan oleh tim berbeda sehingga proses pendinginan tidak terhenti ketika muncul laporan kebakaran baru.
”Untuk satu titik panas, dua tim dapat dikerahkan: satu tim untuk pemadaman dan satu tim untuk pendinginan hingga asap benar-benar padam, bahkan bila diperlukan selama 24 jam,” kata Kadek saat memberikan masukan dan saran dalam rapat tersebut.
Dengan pola itu, satu tim dapat fokus menghentikan api, sementara tim kedua tetap berada di lokasi untuk menyiram dan mendinginkan lahan hingga tidak lagi ditemukan asap maupun indikasi bara.
Kadek juga meminta ketersediaan air dijaga sepanjang operasi. Sedikitnya tiga mobil tangki besar dan tiga alkon disiapkan sebagai sumber suplai air di lokasi.
”Begitu persediaan air tinggal seperempat, langsung isi ulang. Jangan menunggu air habis. Dengan begitu, suplai air terus tersedia,” ujarnya.
Kebutuhan peralatan juga harus menyesuaikan kondisi medan. Untuk petugas di lapangan, selang berukuran 1,5 inci dinilai lebih efektif karena lebih mudah dibawa dibandingkan selang 2 inci yang lebih berat.
Karhutla di Wilayah Selatan Sumbang Asap Hingga Ke Kota Sampit
Rapat evaluasi juga membahas asal sumber asap yang mengepung Kota Sampit dan sekitarnya.
Berdasarkan penjelasan BMKG dalam rapat, pergerakan arah angin membuat asap dari wilayah selatan berpotensi terbawa menuju kawasan kota.
”Penjelasan dari BMKG ini, nenjadi gambaran kita bersama. Artinya, sebagian besar asap yang muncul merupakan kiriman dari kebakaran di wilayah Selatan, seperti di Kecamatan Pulau Hanaut, Seranau, dan Mentaya Hilir Utara. Mungkin juga ada sedikit kontribusi dari Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit,” jelasnya.
Persoalan sumber asap telah dipetakan, penanganan di wilayah selatan harus mendapat perhatian lebih besar.
”Karena sudah diketahui arahnya, maka upaya pemadaman di wilayah selatan harus diperkuat,” tegas Halikinnor.
Petugas di Malam Hari Perlu Diperkuat
Pemerintah juga mengevaluasi pembagian personel antara siang dan malam. Dalam rapat disebutkan kekuatan siang sekitar 22 personel, sedangkan malam hari hanya sekitar enam personel.
Halikinnor menilai komposisi tersebut tidak seimbang, terlebih sejumlah titik api dapat muncul atau kembali membesar pada malam hari.
”Untuk malam hari, jumlah mobil dan personel perlu ditambah. Saat ini kekuatan siang hari jauh lebih besar daripada malam hari. Ini tidak seimbang, padahal banyak titik api muncul atau membesar pada malam hari,” ujarnya.
Mulai 1 Oktober, pembagian shift diminta diperbaiki. Personel yang sudah bekerja pada siang hari tidak langsung ditugaskan kembali pada malam hari.
Untuk mendukung mobilitas petugas, pemerintah daerah juga mengatur peminjaman kendaraan roda tiga dari kecamatan yang kondisinya relatif aman kepada wilayah yang membutuhkan.
Dari sekitar 10 unit yang berpotensi masuk, hanya sekitar tiga unit yang dinilai masih benar-benar dalam kondisi baik. Halikinnor meminta tambahan unit diberikan ke lokasi prioritas.
”Kecamatan yang belum memiliki masalah besar agar meminjamkan kendaraan trail terlebih dahulu ke wilayah yang membutuhkan. Ini bukan pembagian permanen, melainkan pinjaman sementara,” ujarnya.
Lebih lanjut, Halikinnor meminta penguatan peran masyarakat dalam penanganan karhutla. Karena, kebakaran sering kali terjadi berdekatan dengan kebun dan permukiman warga.
Apabila diperlukan, masyarakat dapat dilibatkan membantu pemadaman dengan dukungan konsumsi dari BPBD.
”Berapa pun kebutuhan makan dan minumnya, selama benar-benar diperlukan untuk penanganan kebakaran, akan disiapkan,” katanya.
Setiap RT dapat mengirimkan warga untuk membantu petugas. Para camat juga diminta terus melakukan edukasi agar masyarakat tidak membiarkan api merembet.
”Jangan sampai api sudah dekat dengan kebun atau rumah, tetapi warga lain tidak peduli,” ujar Halikinnor.
Halikin juga mendorong pembentukan relawan peduli api di wilayah yang rawan kebakaran agar masyarakat memiliki peran lebih besar dalam pencegahan maupun penanganan dini.
Untuk masyarakat yang terdampak asap, bantuan masker dan kebutuhan lainnya akan disalurkan melalui kecamatan.
Sumur Bor Jadi Penopang Suplai Air
Keterbatasan air menjadi tantangan besar dalam proses pendinginan. Sejumlah sumber air permukaan mengalami penyusutan bahkan kosong sehingga pembangunan sumur bor dinilai penting.
Halikinnor meminta dua hingga empat sumur bor tambahan dibangun di lokasi strategis yang dapat melayani wilayah sekitarnya.
Namun, pembangunan sumur tidak selalu mudah. Kedalaman sekitar 16 meter di sejumlah lokasi belum tentu langsung menemukan sumber air. Karena itu, tim personel pemadaman di lapangan diminta memanfaatkan sumber air yang ada di lokasi terdekat dari titik api.
”Untuk jangka panjang, pembangunan sumur permanen perlu ditentukan titik sumber airnya dengan kedalaman lebih dari 100 meter. Karena, persoalan keterbatasan sumber air selalu jadi kendala pemadaman di saat musim kemarau,” ujarnya.
Operasional Penerbangan dan Sekolah Jadi Indikator Keberhasilan Penanganan Karhutla
Halikinnor kembali menegaskan bahwa indikator keberhasilan dalam penanganan karhutla, baik upaya pemadaman, pendinginan hingga penanganan kabut asap dinyatakan kondusif apabila operasional penerbangan dan pembelajaran di sekolah kembali normal.
”Dua indikator ini menjadi barometer keberhasilan dalam penanganan karhutla. Targetnya, Bandara Haji Asan Sampit dapat didarati pesawat dan anak-anak dapat kembali belajar tatap muka. Jika dua hal itu berjalan normal, maka aktivitas lainnya juga dapat kembali normal,” ujarnya.
Selain penanganan karhutla, Bupati juga menyoroti persoalan air yang mulai berpengaruh di sejumlah wilayah.
Halikinnor mengatakan kekurangan air layak minum tidak hanya terjadi di wilayah selatan, tetapi juga terjadi di wilayah utara hingga wilayah Kota Sampit, salah satunya di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
”Yang mengalami kebutuhan mendesak adalah air minum, bukan sekadar air bersih untuk kebutuhan umum. Masyarakat membutuhkan air yang sudah diolah dan siap diminum,” ujarnya.
Ia mencontohkan water treatment milik Brimob yang mampu mengolah air menjadi layak minum seperti air kemasan.
”Air baku sebenarnya masih ada, namun air menjadi asin karena dampak intrusi air laut,” katanya.
Halikinnor mengatakan pemerintah telah mengarahkan direksi Perumdam Tirta Mentay untuk mencari teknologi yang dapat mengolah air dengan kondisi tersebut agar tetap dapat dikonsumsi masyarakat.
”Di wilayah kota, air juga sudah mulai payau. Karena itu, kami sudah mengarahkan direksi PDAM untuk mencari teknologi agar air tersebut tetap dapat diolah dan dikonsumsi masyarakat,” jelasnya.
Jaringan Perumdam ke arah selatan Kotim, saat ini telah mencapai Desa Parebok, Pemerintah daerah juga telah merencanakan pengembangan jaringan hingga Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit dan Kecamatan Pulau Hanaut melalui pipa bawah laut.
”Tantangan utamanya adalah air baku yang mulai asin. Namun, ada teknologi dan alat untuk mengatasinya. Saya sudah meminta PDAM menghitung harga peralatan tersebut agar dapat dipertimbangkan untuk dibeli,” kata Halikinnor.
Dalam rapat evaluasi teknis, bupati menfokuskan pendinginan sebagai pekerjaan utama dalam tahap lanjutan penanganan karhutla Kotim hingga tidak menimbulkan asap.
Pemerintah akan menghitung kembali kebutuhan penanganan sekaligus kemungkinan perpanjangan masa darurat berdasarkan kondisi lapangan.
Ia juga menyampaikan rencana akan memberikan penghargaan kepada pihak yang aktif membantu penanganan karhutla, yang akan diberikan pada peringatan hari jadi Kabupaten Kotawaringin Timur pada 7 Januari 2027.
”Kita tetap harus berikhtiar dan berdoa. Jika upaya melalui jalur darat sudah dilakukan, kita jangan lupakan upaya jalur langit, dengan memohon doa kepada Allah agar segera menurunkan hujan,” pungkas Halikinnor. (hgn/ign)