Intinya sih...

• Khatib HM Fatchurrahman menyampaikan khotbah Salat Idulfitri pada Sabtu, 20 Maret 2026, di Perguruan Muhammadiyah Sampit.
• Khotbah tersebut mengajak jemaah merenungkan apakah nilai-nilai dan semangat Ramadan tetap terjaga setelah bulan suci berlalu.
• Khatib menyoroti kecenderungan penurunan intensitas ibadah di akhir Ramadan dan mengingatkan pentingnya menjaga perilaku, pandangan, pendengaran, hati, serta amalan baik seperti sedekah dan membaca Al-Qur’an.
• Ia menekankan bahwa larangan Allah berlaku sepanjang waktu, bukan hanya saat Ramadan, dan bahwa seluruh anggota tubuh akan menjadi saksi atas perbuatan manusia, mengutip QS Yasin ayat 65.
• HM Fatchurrahman mengajak jemaah untuk menjadikan Idulfitri sebagai titik awal menjaga keistiqamahan dalam iman dan amalan baik, bukan sekadar perayaan tahunan.

SAMPIT, Kanalindependen.id –  Takbir berkumandang. Pagi itu, Sabtu (20/3/2026) suasana Idulfitri terasa khidmat di Perguruan Muhammadiyah Sampit.

Di atas mimbar, Khatib Salat Idulfitri, HM Fatchurrahman, tidak hanya mengajak jamaah merayakan kemenangan. Ia justru mengajak untuk bertanya tentang apa yang tersisa setelah Ramadan pergi.

“Kita baru saja menunaikan ibadah puasa Ramadan, bulan yang mulia dan sangat dirindukan orang beriman,” ucapnya.

Namun ia tak berhenti pada pujian.
Ramadan, kata dia, bukan sekadar bulan ibadah, tapi juga bulan pendidikan. Tempat manusia dilatih menahan diri bukan hanya dari lapar dan dahaga, tapi juga dari segala yang dilarang.

Masalahnya, semangat itu tak selalu bertahan.
Di awal Ramadan, masjid dan musala penuh. Saf-saf rapat. Namun perlahan, jumlah jamaah menyusut. Hingga di sepuluh malam terakhir yang justru paling istimewa sebagian orang malah sibuk di pusat perbelanjaan.

Padahal di situlah letak inti Ramadan.
“Malam yang lebih baik dari seribu bulan justru sering terlewatkan,” sindirnya halus.

Kini Ramadan telah pergi.
Pertanyaannya, apakah nilai-nilainya ikut pergi?
Dulu, selama sebulan penuh, umat Islam rela menahan diri. Tapi setelah itu, apakah masih mampu menahan diri dari yang haram?

Ia mengingatkan, larangan Allah bukan hanya berlaku saat Ramadan.

Mengutip Al-Qur’an, ia menegaskan bahwa manusia diperintahkan untuk mengonsumsi yang halal dan baik, serta menjaga setiap perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih jauh, ia mengajak jemaah untuk merenung lebih dalam.

Seakan Ramadan berbicara.
“Apakah kalian masih menjaga tangan kalian setelah aku pergi?”

Pertanyaan itu bukan tanpa makna. Sebab pada akhirnya, seluruh anggota tubuh akan menjadi saksi.

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan,” ujarnya, mengutip QS Yasin ayat 65.

Tak hanya itu, Ramadan juga seakan bertanya: apakah kita masih menjaga pandangan, pendengaran, dan hati?
Selama sebulan, semua itu dijaga. Tapi setelahnya, sering kali kembali longgar.

Padahal, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.
Ia juga menyinggung kebiasaan baik selama Ramadan bersedekah, membantu sesama, mendekatkan diri pada Al-Qur’an. Hal-hal yang sering kali perlahan ditinggalkan setelah bulan suci berlalu.

Jangan sampai, katanya, Al-Qur’an yang dulu sering dibaca justru kalah oleh layar gawai. Jangan sampai Ramadan hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan nyata.

Dalam satu kalimat yang terasa menampar, ia menggambarkan Ramadan seperti tamu.

“Aku hanya pulang, namun aku seperti tamu yang tidak diharapkan kembali.”

Sebuah sindiran, sekaligus pengingat.
Bahwa semangat Ramadan seharusnya tidak berhenti di hari kemenangan.

Di akhir khutbahnya, ia mengajak jamaah untuk berdoa. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk saudara-saudara Muslim di berbagai belahan dunia yang tengah dilanda musibah.

Ia memohon agar umat tetap diberi kekuatan untuk istiqamah, menjaga iman, dan kembali dipertemukan dengan Ramadan di masa mendatang.

Idulfitri, pada akhirnya, bukan sekadar perayaan.
Ia adalah titik awal. Pertanyaannya sederhana tapi sering dihindari: setelah Ramadan pergi, apa yang benar-benar kita bawa?(***)